Jelajah Nusantara

Merasakan Keunikan dan Keindahan Alam Danau Terdalam di Asia Tenggara

356
0

*Dari Kolam Mata Air Bura-bura, Hingga Goa Air

Pantai Ide yang merupakan salah satu bagian Danau Matano, menjadi destinas wisata andalan di Sorowako, Sulsel.

Namanya memang belum sepopuler Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara. Namun, sensasi menjelajahi danau yang berada di Sorowako, Luwu Timur ini sulit dicari sandingannya.

Oleh: SRIYANTO – Sorowako, Luwu Timur

Sorowako, kota kecil di Kecamatan Nuha yang merupakan salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Namanya mungkin tak setenar Toraja di kalangan wisatawan jika melancong ke Sulsel, namun pesona alamnya tak kalah dengan destinasi wisata lain di Indonesia maupun dunia.

Meskipun kota kecil ini merupakan daerah pertambangan, namun bukan berarti kota ini terpencil, gersang, tandus, berdebu, susah sinyal dan tidak ada hiburan. Di balik kekayaan nikelnya, Sorowako juga menyimpan keindahan alam yang menakjubkan, salah satunya Danau Matano. Inilah energi baru Sulawesi Selatan!

Danau Matano menawarkan keindahan panorama alam pegunungan Verbeek yang mengitari pesisir.

Danau seluas 16.408 hektar ini memiliki ukuran panjang 28 kilometer dan lebar 8 kilometer dengan kedalaman sekitar 1.969 kaki atau 590 meter. Keunikan danau ini karena posisinya yang lebih rendah dari permukaan laut, sebuah gejala alam langka yang hanya bisa ditandingi oleh Laut Mati di Jordania.

Dengan kedalaman yang dimilikinya, menurut data WWF, Danau Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara, ketiga di Asia dan kedelapan di dunia. Saking jernihnya air Danau Matano, wisatawan bisa melihat langsung beragam kehidupan makhluk danau yang ada di dalamnya.

Berbagai keunikan dan keindahan Danau Matano dapat dinikmati dengan menyewa perahu milik warga setempat. Saya yang berkunjung ke Sorowako, berkesempatan berkeliling menyusuri danau ini.

Menjelajah di Danau Matano, Sorowako memberikan sensasi yang berbeda. Airnya yang berwarna biru gelap akibat dalamnya capai 590 meter, menjadikannya danau terdalam se-Asia Tenggara.

Menyusuri Danau Matano dengan menggunakan perahu tradisional (katinting), mata saya seolah tak pernah lelah menatap keindahan panorama alam pegunungan Verbeek dan tebing batu yang mengitari danau.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, saya pun tiba di desa Matano. Dalam bahasa Dongi – bahasa asli Sorowako, Matano memiliki arti mata air. Di desa ini terdapat sebuah kolam yang dipercaya sebagai salah satu mata air Danau Matano.

Mata air di kolam ini sangat jernih dan dipercaya oleh masyarakat mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hakmad (43), salah seorang warga setempat mengatakan, sebagian besar masyarakat memanfaatkan air dari kolam untuk diminum. “Air dari kolam ini bisa langsung diminum tanpa perlu dimasak,” kata Hakmad.

Selain itu, ada kebiasaan yang dilakukan orang ketika berada di lokasi mata air ini, yakni mengucapkan “Bura..bura..bura”. Kebiasaan ini dipercaya bisa membuat gelembung air makin banyak sehingga volume air pun bertambah.

Sebuah kolam yang dipercaya sebagai salah satu mata air Danau Matano. Airnya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai air minum dan lain sebagainya.

Puas mengucapkan “Bura..bura..bura” dan melihat gelembung-gelembung air bermunculan, saya kemudian meneruskan perjalanan ke titik-titik lainnya. Tempat yang saya tuju yakni Sungai Lawa (Kali Dingin). Perjalanan ditempuh sekitar 10 menit dari desa Matano menggunakan perahu katinting.

Selain airnya yang jernih, suhu air di Sungai Lawa juga memiliki kelainan. Temperatur air di permukaan danau justru lebih dingin. Untuk membuktikannya, saya pun melepas baju, lalu berenang di sekitar sungai. Suhu airnya memang anomali.

Dari Sungai Lawa, saya melanjutkan ke empat pulau kecil. Lokasinya saling berdekatan. Pemandangan di gugusan pulau itu tak terlalu menarik. Namun, di tempat ini saya kembali menceburkan diri merasakan sensasi kesegaran air danau meskipun berenang di siang hari.

Tak jauh dari lokasi empat pulau kecil atau 4 mini island, terdapat goa bawah air. Cukup 5 menit untuk mencapai tempat ini dari lokasi 4 mini island. Mulut goa bawah air tersebut kelihatan dari atas disebabkan kejernihan air Danau Matano. Saya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk berenang dan menyelam masuk ke dalam goa.

Beberapa goa terdapat di bibir Danau Matano. Salah satunya goa bawah air.

Selain itu, di danau terdalam se-Asia Tenggara ini, ada beberapa goa yang di dalamnya terdapat sisa peninggalan sejarah. Seperti tombak, parang, dan juga peralatan rumah yang terbuat dari besi kuningan.

Ansar, seorang pemuda Sorowako yang menemani perjalanan saya menjelajahi Danau Matano menjelaskan, konon, sejumlah goa tersebut menjadi tempat pelarian dan persembunyian warga saat melarikan diri dari kejaran DI/TII sekitar tahun 1950-an.

Komentar

Tagged:
Pemandangan wisata alam Ollon yang berada di Lembang Bau, Kecamatan Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja. (Foto: Syachrul Arsyad/FAJAR PENDIDIKAN)
Jelajah Nusantara
Ingin ke Ollon? Ini Beberapa Tips yang Bisa Anda Jadikan Acuan
Pemandangan di Bukit Selong. Dengan latar petak sawah bak permadani berwarna-warni disertai derertan bukit.
Jelajah Nusantara
Terpikat Keindahan Gunung Rinjani (Bagian 2)
Saya didampingi Baba Akong dan istri, Anselina Nona saat berkunjung ke rumah mereka, di Ndete, Desa Reroroja, Kabupaten Sikka.
Jelajah Nusantara
Bertemu dengan si “Gila” dari Sikka