Fokus

Meski Tak Seindah Alamnya, Semangat dan Harapan Selalu Ada

775
0

Potret Pendidikan di Tanah Papua

SD YPPGI Irai yang terletak di Anggi, Pegunungan Arfak, Papua Barat.

Saya terkagum-kagum melihat pemandangan Danau Anggi di Pegunungan Arfak. Ditambah lagi, udara sejuk pegunungan, membuat saya cukup betah berada di salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat ini.

Kamis, 4 Mei 2017. Ini adalah hari ketiga saya berada di Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak. Saya pun mengisi waktu dengan menyempatkan diri berkunjung ke SD YPPGI Irai di Anggi.

Pagi itu, waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 WIT, waktu di mana jam pelajaran sudah dimulai. Saya mempercepat langkah kaki menuju ke sebuah bangunan kayu yang tua, bangunan yang menjadi tempat belajar bagi anak-anak Anggi.

“Selamat pagi ade, tidak belajar kah?” Tanya saya kepada anak-anak yang berkumpul di depan pintu kelas. Ternyata mereka sedang menunggu guru yang berada di kelas sebelah memberikan tugas, lalu pindah lagi ke kelas lainnya.

Keterbatasan tenaga pengajar menjadi salah satu kendala di sini. Para murid harus mengantri untuk mendapat pengajaran dari guru. Siswa SD YPPGI Irai saat ini dididik oleh lima tenaga honorer dan satu pengajar berstatus PNS yang juga sekaligus menjabat kepala sekolah.

Simon Dully SPdK saat sedang mengajar murid kelas VI SD YPPGI Irai, Kamis (4/5).

Tak hanya ketersediaan dan kualitas guru yang mengkhawatirkan, tapi juga kondisi infrastrukturnya. Bangunan sekolah yang ada hanya memiliki enam ruangan, lantai dan atapnya sudah bocor, butuh direnovasi. Beberapa kelas bahkan tidak dilengkapi bangku dan kursi.

“Karena keterbatasan ruangan, kelas V-VI digabung kelasnya. Sementara ruangan yang satunya dipakai sebagai ruang guru,” ujar Simon Dully SPdK (30), salah seorang tenaga honorer yang menyambut kedatangan saya di SD YPPGI Irai. Dia banyak menjelaskan kondisi pendidikan di tempatnya mengabdi.

Meski berbagai kendala dialaminya, Simon dan teman-temannya tidak menyerah. Mengajar dan belajar merupakan kontribusi paling penting yang ia berikan kepada masyarakat. “Memang butuh perjuangan dan hati yang ikhlas sebagai pendidik,” katanya.

Secercah harapan pun muncul di tengah situasi yang sulit. Di daerah Pegunungan Arfak, SD YPPGI kini masih berdiri untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak Anggi. Dipimpin oleh Yairus Saiba, sekolah itu menyediakan kesempatan pendidikan yang merata bagi anak-anak Anggi.

Awalnya, masalah yang dihadapi Simon dan guru lainnya, bukanlah standar hidup yang rendah atau betapa terpencilnya distrik itu. Kendala utama mereka adalah masih banyak masyarakat yang belum peduli dengan pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

“Awalnya, masyarakat belum memahami pentingnya pendidikan. Orang tua ke kebun, anaknya juga ikut ke kebun. Keluarga ke kota, anak-anaknya juga dibawa ke kota. Bahkan, masih sering ada orang tua datang ke sekolah meminta izin untuk anaknya agar ikut ke kebun,” kata tenaga honorer ini.

Masyarakat, lanjut Simon, pada awalnya hanya berpikir tentang ekonomi, bekerja agar mendapatkan uang. “Ujung-ujungnya ke uang, tidak ada ke pendidikan.”

Seorang tenaga honorer yang berasal dari Toraja Utara, Marselina Tondok SPd, memberikan tugas kepada para murid, kemudian pindah mengajar di kelas sebelahnya.

Simon dan para tenaga pendidik lainnya pun akhirnya melakukan langkah-langkah dengan berkunjung ke Gereja-Gereja. Mereka mensosialisasikan kepada jemaat-jemaat tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak. “Kami katakan bahwa anak tugasnya di sekolah, bukan di kebun.”

Dari situ, masyarakat pun mulai memiliki kesadaran untuk menyekolahkan anak mereka. Namun, disaat masyarakat antusias menyekolahkan anaknya, masalah pun kembali muncul. Para orang tua menganggap, anaknya akan diberi ijazah jika sekolah dan mengikuti ujian.

“Mereka mau sekolah, ingin cepat-cepat selesai dan dapat ijazah. Anak-anaknya tidak lulus, sekolah diserang. Inilah kendala-kendala kami pada awal membangun dunia pendidikan di sini,” tutur Simon.

Namun kini, berkat perjuangan dan usaha keras yang dilakukannya bersama tim tenaga pendidik lain, Simon merasa bangga dan bersyukur. Ia mengakui, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, makin hari makin berkembang. Pria kelahiran Kupang, 1 Juli 1986 ini berharap, anak-anak didikannya kelak akan membawa perubahan untuk Anggi.

 

Penulis: Sriyanto

Komentar

Tagged:
IMG_7385
Fokus
Pelantikan Pejabat Baru, Penyerahan SK Guru Besar, dan Penerimaan Kembali Doktor Baru di Lingkungan Universitas Hasanuddin
surat dari Kemdikbud tanggal 8 Februari 2017 bernomor: 0337/A1.1/PK/2017 tentang bantuan untuk Sulawesi Selatan. Di mana salah satu poinnya tentang pemblokiran sementara dana bantuan fisik dan non-fisik untuk Sulsel. (Foto: /IST)
Fokus
Kemdikbud Blokir Bantuan Dana Untuk Sulsel
WhatsApp Image 2017-08-23 at 7.13.52 PM
Fokus
Perwakilan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Audiensi Dengan Presiden Joko Widodo