Benarkah Internet Melemahkan Kemampuan Berpikir ?

Ilustrasi Otak Manusia [Foto: Int]

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Nicholas Carr dilanda kekhawatiran akut. Selama bertahun-tahun, ia kerap merasa ada sesuatu atau sesorang yang bermain-main dengan otaknya, bahkan mengubah aliran syarafnya dan memprogram ulang memorinya.

Dalam sebuah program berjudul Is Google Making Us Stupid? Carr merinci kekalutannyha itu. Menurutnya pikirannya tidak pergi kemana-mana melainkan sedang berubah. Carr merasa dia tidak lagi berpikir sebagaimana biasanya. Ia merasakan ada yang berubah.

“Saya dapat merasakannya saat saya membaca. Sebelumnya, membaca artikel panjang rasanya sangat mudah. Saya menyelam dalam narasi atau perdebatan argumen dan pada akhirnya saya akan menghabiskan berjam-jam berjalan-jalan melalui prosa panjang yang membentang,” ujar Carr.

Namun, sekarang konsentrasi Car mulai mengambang setelah malahp dua atau tiga halaman buku. Semakin lama membaca, Carr makin mudah kehilangan benang merah. Lebih buruk lagi ia mudah berpikir mencari aktifitas lain untuk dilakukan saat sedang membaca.

” Saya merasa seolah-olah saya selalu harus menyeret otak kembali kedalam teks. Membaca secara mendalam yang biasa saya lakukan dulu. Sekarang amat sulit unruk dilakukan,” ungkapnya.

Baca Juga :   Dampingi Bupati Barru Pantau UN Tingkat SD, Ini Kata Dr Abustan Andi Bintang

Carr lantas menduga perubahan itu sebagai akibat aktivitasnya beberapa tahun kebelakang. Salah satu aktifitas yang intens dilakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah mencari informasi, berselancar sekaligus menambahkan database melalui internet.

Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh seorang blogger bernama Bruce Friedman.”Saya sekarang hampir kehilangan kemampuan membaca dan menyerap artikel panjang di situs web atau media cetak,” tulis Friedman dalam blognya.

Psikolog perkembangan di Tuts University, Maryanne Wolf khawatir gaya membaca yang dopormosikan/dilahirkan oleh internet memperlemah kapasitas manusia untuk memahami bacaan yang dalam.

Menurut Wolf, ketika sesorang membaca secara online, dia cebderung hanya menjadi “Dekoder informasi”. Akhirnya kemampuan untuk menafsirkan teks, serta membuat koneksi mental yang terbentuk saat membaca secara mendalam perlahan-lahan menyusut. (JvK)