Disangka Maling, Mahasiswa Tewas Dikroyok di Masjid

Muhammad Khaidir Korban Pengeroyokan di masjid [Foto: int]

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id—Lagi… Tragedi main hakin sendiri yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang terjadi ditempat ibadah yang merupakan tempat suci. Kali ini korbannya adalah seorang Mahasiswa bernama Muhammad Khaidir (23 tahun) yang tengah menuntut ilmu disalah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Makassar.

Muhammad Khaidir tewas dikeroyok oleh warga di masjid Nurul Yasin Kampung Jatia, Kelurahan Mata Allo, Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan karena disangka maling.

Dari video yang viral di sosial media beberapa waktu lalu, terlihat  warga yang membabi buta melakukan tindak kekerasan kepada Muhammad Khaidir di dalam masjid.

Dari kronologi kejadian, Muhammad Khaidir awalnya datang kesalah satu rumah seorang warga yang tidak jauh dari masjid. Hanya waktu itu ia mengetuk pintu rumah warga yang berinisial YDS dengan keras.

Dari gedoran yang keras itulah pemicu hilangnya nyawa Muhammad Khaidir.  YDS pemilik rumah yang digedor oleh Khaidir, merasa bahwa gedoran tersebut adalah sebuah ancaman. Setelah mendengar gedorang dari Khaidir, YDS lalu lari ke masjid lewat pintu yang lain.

YDS kemudian bertemu dengan RDN yang merupakan marbut masjid, menceritakan apa yang dialaminya. Dari cerita YDS, RDN lalu menggunakan pengeras suara dan berbicara seolah ada maling yang masuk kedalam masjid.

Warga yang mendengar suara RDN dari pengeras suara terprovokasi, dan menuju ke masjid. Sementara itu, Khaidir yang tidak sadar dengan hal yang akan menimpahnya, berjalan menuju masjid hingga akhirnya warga mengeroyoknya.

Pebuatan main hakim sendiri memang tidak dibenarkan karena bertentangan dengan ajaran agama dan hukum positif, namun apa daya warga yang naik pitam karena maraknya aksi pencurian justru terkesan salah sasaran.

Mirisnya lagi, kasus salah sasaran ini tercacat telah beberapa kali terjadi di negeri ini dan sangat disayangkan pula karena lokasi kejadiannya itu terjadi dilingkungan masjid, sebuah tempat yang sangat disucikan ummat Islam.

Editor: Arini Wulandari/*