Editorial Tabloid Fajar Pendidikan Edisi 302 (1-15 November 2018): Sumpah Pemuda dan Generasi Z

Tabloid Fajar Pendidikan

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemuda memainkan peran penting dan menjadi penggerak kebangkitan dalam sejarah bangsa ini. Contoh nyatanya adalah peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. 

Peristiwa lain yang menunjukkan betapa besar kekuatan pemuda adalah peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Soekarni, Wikana, serta Chairul Saleh memimpin para pemuda saat itu menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi Indonesia. Upaya ini berhasil. Esok harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Waktu pun berlalu, tetapi kekuatan itu masih sama ketika peristiwa 1998. Mahasiswa menuntut dihapuskannya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Paling fenomenal adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR dan akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya, sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju Orde Reformasi.

Serangkaian aksi dan gerakan pemuda pada masa lalu tentunya didasari rasa cinta terhadap bangsa. Rasa patriotisme yang menggelora itu dibarengi pula oleh persatuan, kecerdasan intelektual, ketajaman berpikir, dan semangat pergerakan. 

Kini tahun berlalu, kondisi bangsa telah berubah. 90 tahun pasca Sumpah Pemuda, kondisi pemuda Indonesia pun berbeda. Menumbuhkan semangat patriotisme dalam diri generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan serba digital (generasi Z) saat ini, memang menjadi tantangan tersendiri.

Pemuda di era sekarang telah berada pada era mempertahankan keutuhan bangsa, di mana memiliki tugas yang juga berat. Pemuda saat ini dengan mudah terhubung ke seluruh dunia secara online. Mereka memiliki kesempatan luas untuk mendapatkan informasi dan cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instan karena terbiasa dengan kemudahan teknologi. 

Namun mereka adalah generasi yang kreatif. Kaum generasi Z tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka kecanduan untuk diperhatikan. Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi jika diberikan kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi ide-idenya. 

Kaum generasi Z haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai berbagi pengalaman. Karenanya, muncul istilah “pemuda tempo doeloe berjuang dengan bambu runcing vs pemuda sekarang berjuang dengan sosial media”. 

Salam,

Redaksi