FISIP Unhas Gelar Kuliah Umum Bersama Dubes RI untuk Australia

Pemberian cenderamata Rektor Unhas, Prof Dwia kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S Legowo.[Foto:/Ist.]
Pemberian cenderamata Rektor Unhas, Prof Dwia kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S Legowo.[Foto:/Ist.]

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar kuliah umum bertema “Peluang Kerja Sama Sulawesi Selatan Dengan Australia“ di ruang Senat lantai 2 gedung Rektorat Unhas, Senin  28 Januari 2019.

Kuliah umum ini menghadirkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S Legowo, sebagai narasumber utama. Kehadiran Dubes RI tersebut didampingi oleh Atase Pendidikan KBRI Australia, Imran Hanafi, yang juga dosen Ilmu Hubungan Internasional Unhas.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan FISIP Unhas, Prof Dr Armin Arsyad, MSi.;  Konsulat Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews;  perwakilan DPRD Sulsel, Yusran Paris; serta para dosen dan mahasiswa Unhas.

Prof Armin Arsyad mengatakan, kuliah tamu ini merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis FISIP Unhas yang ke-58, yang acara resminya akan dilaksanakan pada 1 Februari 2019.

Dalam sambutannya, Prof Armin memaparkan, kuliah tamu tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi sivitas akademika, antara lain memberikan wawasan dan pencerahan pada peserta yang hadir, khususnya mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional.

Baca Juga :   Wakili Rektor, WR 2 Unhas Hadiri Acara Dies Natalis UNM ke-57

“Momentum ini juga memberikan peluang kerja sama antara Kedubes Indonesia di Australia dengan FISIP Unhas dalam bentuk magang, kegiatan KKN Internasional, penelitian internasional, serta kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Australia,” papar Prof Armin.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA mengucapkan selamat datang bagi Dubes Kristiarto, serta menyampaikan apresiasi atas kehadirannya di Unhas untuk membawakan kuliah umum kepada sivitas akademik Unhas.

“Saya kira memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dan Australia ranahnya bisa berbagai sektor, perdagangan, politik, dan ekonomi. Tapi yang paling mempererat saya kira di sektor pendidikan. Kita bisa melakukan jalur soft diplomasi yang lebih, tanpa batas, sekat, diplomatik,  dan kepentingan lain,“ ucap Prof Dwia dalam sambutannya.

Dalam kuliah umumnya, Dubes Kristiarto S Legowo menjelaskan empat prioritas diplomasi Indonesia, yakni Keutuhan dan integritas wilayah NKRI, pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri, diplomasi ekonomi, serta kontribusi Indonesia bagi dunia.

“Australia adalah aset penting bagi Indonesia untuk mewujudkan keempat prioritas diplomasi tersebut,” kata Dubes Kristiarto.

Baca Juga :   FKM Unhas Gelar Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia

Bagi provinsi Sulawesi Selatan sendiri, Australia memberikan peluang kerja sama yang menguntungkan. Beberapa di antaranya di bidang ekonomi.  Salah satu peluang ekonomi yang bisa ditawarkan oleh Sulsel ke negeri Kanguru itu adalah promosi produk lokal Sulawesi Selatan, khususnya kopi Toraja.

“Kopi dari Sulawesi Selatan ini, kopi Toraja, terkenal sekali. Pangsa pasar kopi di Australia ini besar sekali. Australia itu negara ke-16 terbesar sebagai importir kopi. Ini harus mampu kita isi,“ ungkap Kristiarto.

Ia menambahkan, di mata Australia, Makassar itu memiliki arti yang penting. Potensi dan posisinya sangat strategis di kawasan Indonesia bagian timur.

“Kalau Makassar tidak penting, Australia tidak akan repot-repot buang biaya untuk buka kantor di sini. Nah, ini kalau kita tidak respon dengan sesuatu tindakan yang bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat di provinsi Sulawesi Selatan sangat disayangkan,“ ungkapnya.

Di bidang pendidikan, Kristiarto Legowo merasa amat senang mendengar kerja sama Unhas dengan berbagai universitas di Australia. Kerja sama itu tentu akan mempererat hubungan kerja sama Indonesia dan Australia.

Baca Juga :   Selamat! UIN Alauddin Makassar Raih Akreditasi A

Selain itu, kata Kristiarto, masyarakat Sulsel  memiliki peluang untuk bekerja di Australia melalui skema working holiday visa yang jumlahnya akan ditingkatkan secara bertahap ke angka lima ribuan per tahun.

Di akhir paparannya, Dubes Indonesia untuk Australia tersebut menjelaskan strategi mengikuti seleksi rekrutmen di Kementerian Luar Negeri. Dia memberikan sejumlah tips kepada mahasiswa yang tertarik bekerja di Kemlu. (FP)