Guru Besar Ehime University Jepang Berikan Kuliah Tamu di FKM Unhas

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Prof Masayuki Sakakibara, Guru Besar Ehime University memberikan kuliah tamu di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) yang berlangsung di Ruang K225, Senin 21 Oktober 2019.

Ia berbagi ilmu dan pengalaman tentang Sanitasi dan Desain Pengelolaan Limbah Masa Depan di Jepang.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi, SKM., M Kes., MSc PH, PhD menyampaikan terima kasih kepada Prof. Sakakibara atas kesempatannya memberikan kuliah tamu ini.

“Kita perlu belajar dengan Jepang tentang kedisiplinan. Kita perlu belajar dengan mereka tentang teknologi dan pengalaman Jepang dalam menangani polusi atau pengelolaan limbah,” kata Prof Sukri.

Kuliah tamu dipandu oleh dr. Hasnawati Amqam, SKM, MSc., sekretaris Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unhas.

Beberapa pokok pikiran yang diberikan oleh pemateri yakni, polusi dan kandungan racun di dalamnya sangat mempengaruhi kesehatan setiap individu khususnya di perkotaan.

Masalah tersebut  timbul akibat berbagai faktor seperti pencemaran udara, sampah, dan pencemaran limbah industri.

Baca Juga :   Rektor Unhas Pantau Pelaksanaan SBMPTN 2018

Dalam kuantitas yang kecil, logam berat bersifat esensial untuk kesehatan. Logam berat tersebut secara alami terdapat pada buah dan sayur serta dalam produk vitamin.

Logam berat juga umumnya terdapat dalam aplikasi industri seperti di pembuatan pestisida, baterai, lapisan logam, dan pewarna tekstil.

“Toksisitas logam berat menjadi beracun ketika tidak dimetabolisme oleh tubuh dan menumpuk di jaringan lunak logam berat dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan, air, udara, atau penyerapan melalui kulit ketika mereka bersentuhan dengan manusia di pertanian dan  dalam pembuatan pengaturan farmasi, industri atau perumahan,” papar Prof Masayuki Sakakibara.

Adapun penyakit yang ditimbulkan oleh kandungan limbah, salah satunya yaitu Penyakit Minamata. Penyakit minimata adalah sindrom neurologis yang disebabkan oleh keracunan merkuri parah.

Gejala yang timbul berupa mati rasa di tangan dan kaki, kelemahan otot umum, penyempitan bidang penglihatan dan kerusakan pendengaran dan bicara. Dalam kasus-kasus ekstrem, kelumpuhan karena kegilaan, koma dan kematian terjadi dalam beberapa minggu setelah timbulnya gejala.

Baca Juga :   Guru Besar FKM Unhas Urai Healthy Cities dalam Konteks Local wisdom

Peserta sangat antusias mengikuti kuliah tamu tersebut. Feni Effend, mahasiswa Kesehatan Lingkungan memberi pandangan bahwa polusi lingkungan dapat terjadi di mana saja. Polusi dapat timbul bukan dari lingkungan tapi juga dari makanan.

Setiap instansi yang membuka usaha makanan. Bagaimana  membuka kesempatan yang lebih besar bagi Sarjana Kesehatan Lingkungan, bagaimana inovasi dari Jepang yang dapat diterapkan di Indonesia terkait sanitasi lingkungan? Apa bentuk dukungan pemerintah Jepang untuk membantu Sarjana Kesehatan Lingkungan dalam menjaga lingkungan? serta apa inovasi Jepang dalam teknologi kesehatan untuk mengurangi polusi?

Rafly Aidilah mahasiswa Pasca Sarjana FKM Unhas juga memberikan pandangan bahwa masalah kesehatan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh politik. Salah satu contoh yaitu kebakaran hutan di Kalimantan yang baru saja terjadi.

Bagaimana pemateri memandang kesehatan lingkungan yang dipengaruhi politik? Terjadi ketidakseimbangan lingkungan akibat pertambangan. Masyarakat seringkali terpapar merkuri saat mengolah emas. Apakah ada usaha atau tindakan yang konkret dalam mengatasi ketidakseimbangan lingkungan?

Lebih lanjut, Muh. Agung, mahasiswa PKIP menanyakan bagaimana memanfaatkan kearifan lokal dalam pengelolaan atau permasalahan sampah di Makassar. seperti di budaya Makassar dimana budaya malu itu sangat tinggi.

Baca Juga :   Penutupan On Mipa 2019, Ini Daftar Peraih Medali

Mungkin budaya tersebut ada kemiripan dengan Budaya Jepang tetapi di daerah kami belum mampu membaca hal-hal seperti ini. Bagaimana kami sebagai kaum intelektual bisa berkolaborasi dengan pemerintah dalam hal ini tanpa ada politik kepentingan didalamnya ?

Al Anugrah, mahasiswa Kesehatan Lingkungan juga menanyakan teknologi untuk pengolahan sampah plastik. Bagaimana cara pemerintah Jepang untuk mengurangi plastik? Ardalif, juga mahasiswa Kesehatan Lingkungan, menanyakan bagaimana caranya Jepang dalam mengolah air?

Penanya terakhir Sri Ayu Lestari, mahasiswa Pasca Sarjana AKK FKM Unhas memberikan pandangan dan pertanyaan yitu Indonesia adalah negara terbesar kedua penghasil limbah. Apakah menurut pemateri, kebijakan menggunakan generator untuk pembakaran limbah baik untuk dilakukan?

Ratusan mahasiswa mengikuti kuliah tersebut baik mahasiswa S1, S2 maupun S3. Kuliah tamu ditutup menjelang sholat duhur. (Rls)