Kembalikan Eksistensi Aksara Bugis

Kampung Lontara

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Era globalisasi membawa banyak perubahan yang cukup pesat di segala bidang. Tak terkecuali dengan kehidupan sosial budaya maupun bahasa pada masyarakat yang hidup di tengah-tengah lingkaran adat warisan nenek moyang. Arus globalisasi yang dengan cepat merambah ke sendi kebudayaan nusantara, membuat pergeseran budaya lokal sedikit banyaknya telah mengubah interaksi sosial budaya masyarakat Indonesia. Hal ini pun membawa dampak tersendiri terhadap dunia pendidikan saat ini.

Terlihat dalam beberapa tahun belakangan, sekolah-sekolah serentak mengupayakan untuk menyesuaikan kondisi arus globalisasi dalam sektor sarana prasarana serta metode pengajaranya. Dampaknya, banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan sistem billingual language, yang menjadikan bahasa asing, seperti mandarin dan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Sementara bahasa adat/daerah mulai terabaikan, bahkan hampir hilang.

Sadar akan perubahan itu, sekelompok mahasiswa berinisiatif menyiapkan sebuah tempat belajar yang kental akan identitas lokal khas Sulawesi Selatan. Berbekal tekad, riset serta pengamatan selama beberapa tahun terhadap masyarakat lokal di Kabupaten Bone, per-Maret 2018 lalu, mereka berhasil mendirikan Sekolah Pustaka Lontara.

“Kami membuat Sekolah Pustaka Lontara ini berdasarkan pengamatan kami beberapa tahun belakangan, dimana kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan ini, perlahan-lahan kehilangan identitas lokalitasnya. Arus globalisasi yang sangat cepat pergerakannya telah merambah sampai sendi kebudayaan Nusantara, bahkan hingga ke pinggiran,” kata Ahmad Arham kepada FAJAR PENDIDIKAN, 3 Mei 2018.

Meski masih terbilang baru, lanjut Ahmad Arham, namun keberadaan sekolah ini diharapkan mampu melestarikan adat, bahasa dan tulisan Lontara yang khas di Sulawesi Selatan.

“Kami sadar betul, kalau globalisasi pendidikan merupakan serangkaian sistem yang disesuaikan untuk menjawab kebutuhan pasar dan profesionalisme persaingan kerja, untuk mempersiapkan perdagangan bebas ASEAN,” ujar Ahmad Arham.

Menurutnya, realitas yang terjadi saat ini akan melahirkan sistem yang tidak berpihak pada pembelajaran, yang beriorentasi pada nilai kebudayaan pembelajaran muatan lokal di sekolah. Akhirnya, siswa semakin hari akan jauh terhadap identitas kebudayaanya. “Olehnya itu, kami berharap melalui Sekolah Pustaka Lontara ini, anak-anak dapat lebih mengenal budaya kita,” tutur mahasiswa Jurusan Antropologi tersebut.

Lebih jauh lagi, Ahmad menggambarkan seperti apa Sekolah Pustaka Lontara yang ia rintis bersama kawan-kawannya. Sekolah itu berada di tengah saluran irigasi persawahan, di antara hamparan persawahan hijau, tepatnya di Kelurahan Macope, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone yang jaraknya kurang lebih 6km dari kota Watampone.

Sekolah Pustaka Lontara ini merupakan sekolah yang memperioritaskan pengajaran khusus aksara lontara serta pengembangan dan pelestarian nilai kearifan lokal. Dengan proses belajar mengajar yang fleksibel dalam ruangan dan alam bebas.

“Sekolah Pustaka Lontara berada di dalam kampung yang kami sebut ‘Kampung Lontara’. Singkat cerita dari Kampung Lontara ini, berdasarkan riset yang kami lakukan, kami menemukan bahwa mata pelajaran muatan lokal, terlebih pembelajaran aksara lontara, sistem pengetahuan masyarakat bugis dan pengenalan permainan seni tradisional hampir tidak menjadi prioritas. Bahkan beberapa sekolah tidak mengajarkan muatan lokal sebagai aspek utama pendidikan berbasis karakter, sehingga menjadikan luaran siswa yang lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi, bisa dipastikan akan buta identitas kebudayaannya,” jelas Ahmad.

Di Sekolah Pustaka Lontara, arus globalisasi bukanlah hal yang ditolak. Akan tetapi bagaimana dalam sistem pendidikan di sekolah formal menjadikan pembelajaran muatan lokal sebagai prioritas dalam menjaga dan melestariakan kekayaan budaya Indonesia.

Oleh karena itulah, Sekolah Pustaka Lontara hadir sebagai upaya untuk melakukan proses enkulturasi pewarisan budaya untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya, baik itu bahasa daerah, kususnya aksara lontara bugis, penyampaian adat bugis, cerita rakyat dan sejarah kebudayaan bugis dan berbagai macam seni dan permainan tradisional yang bermuatan nilai-nilai lokalitas yang bermuatan positif.

Terlebih sudah tidak banyak lagi yang menggunakan bahasa bugis sebagai alat berinteraksi sehari hari. Bahkan tak sedikit masyarakat yang buta dalam penulisan aksara lontara sehingga pesan-pesan leluhur terkait pappaseng dan sistem pengetahuan masyarakat bugis, jarang yang mengetahuinya.

Keberlangsungan akivitas sekolah lontara ini difokuskan setiap Sabtu sore dan Minggu. Di hari Senin hingga Jumat merupakan kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas fungsi perpustakaan umum dan edukasi pelestarian permainan tradisional.

Semua pembelajaran diintegrasikan dan dikembangkan dalam pembelajaran berbasis nilai-nilai kearifan lokal. Guna membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal, Sekolah Lontara ini dijadikan sebagai sekolah non formal percontohan yang berbasis pendidikan muatan lokal dengan konsep  education religion (edureligion), education cultural (edutural) dan education entertainment (edutainment).

 

 

Roperter: Arini Wulandari