Mahasiswa PBL FKM Unhas Lakukan Identifikasi Masalah Kesehatan

Mahasiswa FKM Unhas saat melakukan kegiatan PBL di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar selama dua minggu sejak 17 Juni hingga 1 Juli 2019. (FOTO: IST)
Mahasiswa FKM Unhas saat melakukan kegiatan PBL di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar selama dua minggu sejak 17 Juni hingga 1 Juli 2019. (FOTO: IST)

Takalar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) telah melakukan kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar selama dua minggu sejak 17 Juni hingga 1 Juli 2019.

Kegiatan PBL 1 ini adalah sebagai mata kuliah yang bertujuan untuk melakukan pengumpulan data masalah kesehatan yang ada pada wilayah tersebut dan membuat prioritas masalah.

Menurut Koordinator Kecamatan, Renaldi, mahasiswa FKM Unhas, mengatakan bahwa PBL ini juga adalah bagian dari  Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam hal ini pengabdian masyarakat.

Mahasiswa tersebar di sembilan desa antara lain: Desa Lassang Barat, Desa Lassang, Desa Kampung Beru, Desa Towata, Desa Barugayya, Desa Massamaturu, Desa Balang Tanaya, Desa Ko’mara, dan Desa Kale Ko’mara.

Mahasiswa FKM Unhas saat melakukan kegiatan PBL di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar selama dua minggu sejak 17 Juni hingga 1 Juli 2019. (FOTO: IST)
Mahasiswa FKM Unhas saat melakukan kegiatan PBL di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar selama dua minggu sejak 17 Juni hingga 1 Juli 2019. (FOTO: IST)

Lebih lanjut Renaldi mengatakan bahwa PBL 1 ini merupakan proses belajar untuk mendapatkan dan meningkatkan kemampuan profesional kesehatan masyarakat yang merupakan kemampuan spesifik dari seorang tenaga kesehatan masyarakat yang diikuti oleh seluruh mahasiswa kesehatan masyarakat angkatan 2017.

“Kegiatan ini berfokus pada pengumpulan data dengan metode wawancara menggunakan kuesioner digital (KoBocollect),” katanya.

Baca Juga :   Mahasiswi Unismuh Makassar Raih Juara Penulisan KTI

Aspek-aspek pendataan pada PBL 1 ini antara lain menyangkut  akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, gangguan jiwa dalam rumah tangga, kesehatan lingkungan, kepemilikan asuransi kesehatan, penyakit menular, penyakit tidak menular dan perilaku, pengetahuan dan sikap terhadap HIV dan AIDS, kesehatan ibu dan balita.

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan menunjukkan bahwa lima dari tujuh unsur pendataan menjadi masalah kesehatan di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.

“Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap HIVdan AIDS menjadi salah satu masalah kesehatan. Hal ini penting karena HIVdan AIDS merupakan penyakit menular yang sulit untuk dideteksi,” ungkap Renaldi.

Kepemilikan asuransi kesehatan(BPJS) mencapai seratus persen berdasarkan target Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2020. Tingginya kejadian penyakit tidak menular antara lain, hipertensi, diabetes melitus, dan rematik. Sedangkan penyakit tidak menular adalah TBC, hepatitis, dan diare.

Kata Renaldi, minimnya konsumsi buah di masyarakat, penanganan sampah kurang tepat, dan kepemilikan saluran pembuangan air limbah (SPAL) di rumah tangga juga menjadi masalah kesehatan di Kecamatan Polongbangkeng Utara.

Baca Juga :   Prodi PGSD Unismuh Raih Akreditasi A, Dekan FKIP: Tradisi Unggul adalah Etos Muhammadiyah

“Berdasarkan hasil analisis data yang dikumpulkan, kemudian akan ditentukan untuk menjadi prioritas masalah dan menyusun program kerja untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut serta akan diintervensikan pada PBL 2 nantinya,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi, SKM., M Kes., MSc PH, PhD., mengatakan bahwa PBL tersebut akan berlangsung selama tiga tahap pada setiap semester.

“PBL ini lebih pada pengumpulan data dan penentuan prioritas masalah kesehatan, PBL 2 semester depan mahasiswa tersebut akan kembali ke lapangan pada desa yang sama untuk membuat intervensi program dan PBL 3 tahun depan bersifat evaluasi tetapi juga diharapkan ada intervensi program jika diperlukan. Pimpinan fakultas terus memberikan dukungan baik pada tingkat mahasiswa maupun pada tingkat pengelola untuk mewujudkan pelaksanaan PBL yang semakin baik,” tutupnya. (FP/*)