Menantang, Beraksi Menjaga Kebugaran Tubuh

Pamerkan Kemampuan. Sejumlah anggota Parkour Makassar memamerkan kebolehanya melompat di hadapan para pengunjung Pesta Komunitas Makassar (PKM) yang berlangsung di Benteng Fort Rotterdam.

Komunitas Parkour Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Seakan ingin menepis argumen yang berkembang di tengah masyarakat akan ulah yang tak terpuji oleh segelintir anak muda, di tahun 2009, Ato beserta sebelas temannya sepakat untuk membentuk Komunitas CatParkour 12 atau CP12.

Melalui CP12 ini, Ato bersama teman-temannya berlatih gerakan parkour yang notabenenya merupakan hal yang positif dan juga menguntungkan bagi kesehatan tubuh. Seiring berjalannya waktu, makin bertambah peminatnya.Akhirnya, CP12 itu diubah menjadi Parkour Makassar.

Sejarah Parkour

Melalui David Belle, seorang yang berkebangsaan Prancis, dunia mengenal Parkour. David Belle sendiri terinspirasi dari ayahnya, Raymond Belle.

Raymond Belle merupakan seorang tentara Prancis yang bergabung dengan pemadam kebakaran militer. Raymond memperkenalkan kepada David sebuah latihan halang-rintang dan metode natural yang akhirnya dikenal dengan nama Parkour.

“Sebenarnya gerakan awalnya itu merupakan gerakan latihan halang-rintang militer di Prancis, cuma dimodifikasi lebih ke perkotaan/urban oleh David Belle. Makanya, gerakannya lebih sedikit dimodifikasi, lebih efisien dan cepat.Gerakkannya kelihatan indah dengan ada unsur akrobatik, dan lain-lain,” cerita Uzand kepada FAJAR PENDIDIKANyang berkesempatan meliput kegiatan latihan Parkour Makassar di GOR Sudiang, Rabu (24/8) lalu.

Parkour baru masuk ke Indonesia di tahun 2006. Tiga tahun kemudian, tepatnya di tanggal 3 Mei 2009, tercetuslah Parkour Makassar yang merupakan bagian dari Parkour Indonesia.

Baca Juga :   Aksi Kolaborasi Gabungan Komunitas untuk Pendidikan

Gerakan Parkour

Ada banyak gerakan parkour. Namun, secara umumdibagi menjadi dua kategori, yaitu parkour move dan free running. “Kalau free running lebih ke saltonya, lebih ke flip. Sedangkan parkournya lebih ke halang-rintangnya. Seperti lompat-lompat, manjat, vault, climbing, running,” jelas Uzand.

DikatakanUzand, kesulitan dalam melatih gerakan itu relatif. Tergantung orangnya. “Kadang ada orang yang gampang untuk belajar salto, tapi susah untuk belajar vaulting atau gerakan parkour. Ada yang gampang belajar gerakan parkour tapi susah untuk belajar salto,” katanya.

Pola Latihan

Untuk pola latihan, dibagi menjadi dua kelas, kelas pemula dan kelas advance. Dan untuk jadwal latihannya, setiap hari rabu, Jumat dan Minggu. Hari Rabu, teman-teman Parkour Makassar biasanya berlatih di GOR Sudiang, hari Jumat di FKM Unhas-Pascasarjana Unhas, dan Minggu di Monumen Mandala. Latihannya dimulai setiap jam empat sore.

Untuk kelas pemula, lebih diajarkan ke halang-rintang. “Untuk vaulting itu kan ada macam-macamnya. Kita lebih ke dasarnya. Bergerak apa adanya, untuk melatih kelincahan tubuh, agar tubuh tidak kaku untuk melatih refleks. Bagaimana berlatih melompat dari ketinggian setengah meter dengan aman, untuk melatih otot kaki, untuk fisiknya lebih ke push up, sit up,” jelasnya.

Bagi yang berada di kelas advance atau kelas lanjutan, biasanya masih diajarkan latihan dasar. Hanya perbedaannya dengan kelas pemula adalah porsi latihannya lebih berat dan lebih banyak diajarkan trik.

Baca Juga :   3CM: Giat ‘Pendekar Anak Makassar’ Setop Eksploitasi Anak

“Sesuai tujuan masuk ke Parkour ‘kan ingin mencari kebugaran atau kesehatan tubuh, juga mencari trik. Jadi kita akan arahkan ke situ, agar bisa menguasai beberapa trik yang sulit-sulit. Kita juga kan di sini dilatih mengolah semua anggota tubuh dari kepala sampai kaki,” tambahnya.

Menurut cerita Uzand, selama mengikuti proses latihan, tak jarang ada yang mengalami keseleo atau cedera. “Cuma kita mencoba untuk meminimalisir resiko itu. Tapi kita juga tidak bisa menjamin kalau ada orang yang ingin bergabung dengan Parkour, akan bebas dari cedera. Karena itu tergantung dari safety masing-masing,” tuturnya.

Kebanyakan cedera, beber Uzand,terjadi bukan pada saat latihan. Tapi pada saat bereksperimen untuk membuat sebuah gerakan baru. “Nah, di situ kita terkadang cedera, atau menantang diri sendiri. Misalkan lompat dari gedung satu ke gedung lain. Kalau di dalam jadwal latihan, kita lebih diajarkan gerakan dasar. Makanya untuk latihan resminya, jarang ada cedera,” jelas Uzand.

Dukungan Pemerintah

Uzand membeberkan bahwa hingga saat ini, Parkour Makassar belum mendapat dukungan maupun bantuan dari pihak Pemerintah Kota Makassar. Oleh karena itu, ia berharap kedepannya pemerintah bisa memberikan perhatian terhadap kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh anak-anak muda.

Baca Juga :   Merajut Asa Para Petani

“Karena Parkour di Indonesia tidak lagi asing. Parkour ini sudah terdaftar di Kemenpora sebagai cabang olahraga yang tidak dipertandingkan. Jadi kami harap dari pemerintah bisa membantu kami dengan cara setidaknya menyediakan fasilitas tempat. Seperti di kota lain, ada Parkour Park.Jadi kami berharap di Makassar bisa difasilitasi Parkour Park,” bebernya.

“Kalau ada Parkour Park‘kan bukan hanya untuk Parkour saja. Bisa juga dibuka untuk umum sebagai tempat olahraga wisata,” tambahnya.Tidak sampai di situ, Uzand juga menceritakan pengalaman pahit yang harus mereka telan ketika menjadi tuan rumah kegiatan Jamming di tahun 2012.

“Di Parkour Indonesia, sering diadakan ajang tahunan yang disebut Jamming Nasional dan Jamming Regional. Nah, Parkour Makassar pernah menjadi tuan rumah di tahun 2012. Sebenarnya secara tidak langsung, melalui kegiatan tersebut, kami bisa memperkenalkan pariwisata Makassar,” tuturnya.

We are Parkour Makassar

Cuma, lanjutnya, pada saat itu, kami (Anggota Parkour Makassar) dilarang untuk memakai fasilitas tempat.Seperti di Monumen Mandala tidak mendapat izin, di Benteng Rotterdam pun kesulitan untuk memakai tempat. “Nah, di situ juga kami merasa heran,kok kami tidak mendapat izin. Sedangkan kami tidak ngapa-ngapain. Kami cuma ingin secara tidak langsung menunjukan pariwisata Makassar,” bebernya. “Kemarin itu akhirnya kami main di pinggir jalan. Makanya tidak enak juga dengan tamu-tamu dari luar kota Makassar yang sudah datang. Sementara, kita sebagai tuan rumah tidak bisa memfasilitasi tempat yang memadai. Sebenarnya kami disuruh membayar, cuma acara ini ‘kan tanpa sponsor.Jadi untuk membayar, kami tidak punya dana karena dari pihak pengelola Monumen Mandala minta tiga juta rupiah,” pungkasnya. (FP)