Perpustakaan UIN Alauddin Raih Akreditasi A

[Foto:/Ist]
[Foto:/Ist]

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Perpustakaan UIN Alauddin Makassar telah menerima hasil penilaian visitasi sertifikat dengan label nilai “A” dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kepala Pusat Perpustakaan UIN Alauddin, Quraisy Mathar mengatakan, ada enam komponen yang dinilai oleh para asessor terkait akreditasi tersebut, diantaranya, komponen koleksi, sarana dan prasaranan, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan, serta komponen penguat.

“Pengalaman saat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora-UIN Alauddin, dan mengantar jurusan tersebut meraih peringkat akreditasi dari nilai “C” menjadi “B”, sudah cukup menjadi pijakan awal buat saya dalam memimpin UPT Perpustakaan UIN Alauddin,” terang Quraisy.

Ia menuturkan, pengalaman dengan borang akreditasi program studi di fakultas memberi sebuah pelajaran berharga bagi dirinya, khususnya dalam urusan visitasi dan akreditasi.

“Setelah sempat menjadi pendamping tim penyusun borang akreditasi, serta ikut mendampingi saat sesi visitasi di UPT Perpustakaan IAIN Parepare, yang awalnya belum terakreditasi hingga memperoleh nilai akreditasi “B”, saya kemudian fokus untuk menuntaskan pekerjaan rumah terakhir saya di UPT Perpustakaan UIN Alauddin,” lanjutnya.

Sejatinya, borang akreditasi perpustakaan sebetulnya sudah dirintis sejak awal Quraisy berkantor. Pertama kali memasuki ruangan kerja sebagai Kepala Pusat UPT Perpustakaan, ia langsung mencari sertifikat akreditasi perpustakaan. Seorang staf kemudian menyetor sertifikat akreditasi berbingkai dengan label “B”.

“Saya kemudian mencoba menelusuri borang akreditasi yang seharusnya ikut mendampingi sertifikat tersebut. Namun borang akreditasi yang lama tersebut ternyata tak kunjung ditemukan. Padahal borang sebelumnya tentu akan sangat membantu proses evaluasi untuk perbaikan nilai akreditasi selanjutnya,” ungkapnya.

Ketersediaan hasil penilaian visitasi terdahulu sebetulnya merupakan dasar untuk memulai kegiatan persiapan re-akreditasi selanjutnya. Akhirnya, ia harus memulai pengerjaan borang dari awal kembali. Quraisy menceritakan bahwa dirinya kembali mengintip enam komponen borang akreditasi perpustakaan perguruan tinggi dan mulai menyusun rencana kerja yang berorientasi kepada enam komponen tersebut.

“Tentu sangat-sangat tak mudah, sebab keberpihakan alokasi anggaran maupun kebijakan lembaga pendidikan tinggi secara umum di Indonesia terhadap perpustakaan sebetulnya masih sangat mengenaskan. Terlalu jauh memang untuk membandingkan alokasi anggaran seluruh perpustakaan perguruan tinggi di Amerika yang oleh pemerintahnya ditetapkan sebanyak 52 persen dari total anggaran perguruan tinggi per tahun,” bebernya.

Namun, lanjutnya, alokasi anggaran maksimal 5 persen sesuai yang dipersyaratkan oleh Standar Nasional Perpustakaan pun ternyata juga masih tidak terpenuhi. Perpustakaan tetap dijadikan simbol semata, disebut sebagai jantung perguruan tinggi, namun hanya sebagai jantung koroner yang bisa dicangkok dan disulap setiap saat.

“Selesai sudah tugas terakhir saya, walaupun rutinitasku tentu belum berakhir. Kutitip sertifikat terbaru perpustakaan untuk dire-akreditasi kembali pada tahun 2023 nanti. Kini saya mulai mengintip ISO 11620:2008 sebagai ukuran kinerja perpustakaan dalam standar internasional,” sambungnya.

Ia berharap, tahun depan ISO tersebut bisa terealisasi, meski dirinya mengaku hitungan waktu jabatannya sepertinya tak akan cukup. Jika pun nantinya tak selesai, katanya, setidaknya upaya tersebut akan menjadi pijakan instrumen awal buat pejabat pengganti dirinya.

“Ada kawan yang berkata “oppo maki, menjabatlah kembali”. Maaf, tidak ada selera incumbent dalam kamus hidup saya, sebab usia jabatan menurutku sejatinya hanya sekali saja. Berbuatlah, lalu beregenerasilah dengan cepat, sebab sekecil apapun sebuah perubahan, pasti akan bermakna. Akhirnya, saya bisa pulang ke rumah dengan langkah yang lebih enteng, Alhamdulillah,” tutupnya.(Rls)