PPDM UNM Gelar Pelatihan Pembuatan Asap Cair Hasil Pengolahan Tempurung Kemiri

Barru, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Tim Pelaksana PPDM Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diketuai Dr Mohammad Wijaya, M Si., bersama tim anggota Prof Dr Muhammad Danial, M Si., bersama Dr Muhammad Wiharto, M Si., melakukan lanjutan kunjungan ke Dusun Baera, Desa Kamiri, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru untuk melakukan pelatihan Pembuatan asap cair dari hasil pengolahan biji kemiri  (Tahap 3).

Pelaksanaan kegiatan desa mitra ini dilakukan pada hari Minggu, 23 September  2019 yang  diikuti beberapa petani dan ibu rumah tangga pemecah biji kemiri dan peternak sapi yang ada di belakang salah satu rumah mitra kelompok tani sipakaenre 1.  

Besarnya biji kemiri yang ada di kampong kamiri terutama biji kemiri, yang mana sebagian petani untuk mengolah tempurung kemiri menjadi bahan bakar untuk membakar ikan dan memasak air panas. saja.

Oleh sebab itu tim pengabdi melakukan desain alat dengan untuk memaksimalkan asap cair yang keluar dari cerobong asap tersebut.

Masyarakat yang ada di desa kamiri merasa bersyukur adanya pelatohan pembuatan asap cair karena mampu meningkatkan nilai ekonomi terutama menurut hasil diskusi masyarakat produk asap cair dapat digunakan untuk obat urut jika ada warga yang keseleo dan bisa dijadikan bahan semprot serangga yang ada disekitar lahan pertanian produk asap cair yang dihasilkan dari tempurung kemiri mampu mengurangi emisi karbon, ramah lingkungan dan mampu dibuat produk bahan kemasan yang rapi agar petani bisa memasarkan  disekitar pasar kota kabupaten Barru dan di daerah yang lain.

Baca Juga :   Isu Pendidikan Dasar jadi Tema Konferensi Internasional PGSD UNM

Menurut penuturan warga, biji kemiri habis terjual karena sebagian dikomsumsi untuk rumah tangga dan sebagian lagi dijual ke Kalimantan Timur.

Beberapa hasil pelatihan PPDM UNM Makassar yang telah dilakukan adalah produk asap cair, arang dan kompos dari hasil pengolahan tempurung kemiri.

Dan tahap ini sementara membuat kemasan dan label agar nilai ekonomis dapat meningkatkan dengan keterlibatan kelompok tani dan Badan usaha milik Desa.

Menurut Wijaya yang juga Alumni S3 Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan IPB Bogor, bahwa ke depan pengelolaan kawasan pertanian yang ada di sekitar lahan sawah dan kebun harus dioptimalkan dan diberdayakan lahan kosong.

“Agar limbah pertanian dapat diolah dan dijual sehingga mampu meningkatkan kesejakteraan petani dan warga di desa Kamiri,” paparnya.

Pelaksanaan kegiatan desa mitra mendapat dukungan dari Kelapa Desa Kemiri Irwan Temma dan Ketua Kelompok Tani Sipakaenre 1 Marmi dengan bekerjasama dengan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNM Makasasar Prof Dr H Bakhrani A Rauf M,T. dan DPRM Kemristek Dikti.

Baca Juga :   Rektor UNM Wakafkan Dirinya Sebagai Bapak Angkat Mahasiswa Papua yang Ada di Makassar

Program selanjutnya rencana pembuatan asap cair dari tempurung, yang mana masih menggunakan alat tradisional. (Rls)