PVM UNM Buat Alat Fermentasi Kakao, Petani: Sangat Membantu

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Mahasiswa Prodi Pendidikan Vokasional Mekatronika (PVM) Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) buat alat fermentasi secara otomatis untuk masyarakat mitra petani kakao melalui Bofercao-Tech (Box Fermentation Cacao Technology). Kegiatan yang dilaksanakan mulai pada April hingga Juni itu bertempat di Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Salahudin Sheva Maulana Khouw, ketua tim penerima hibah Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T) Kemenristekdikti mengungkapkan kegembiaran Mitra Petani Kakao atas kegitan yang dibuatnya.

Fermentasi kakao jadi masalah bagi masyarakat mitra petani kakao di Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Mereka masih menggunakan proses fermentasi biji kakao dengan metode manual. Fermantasi mode ini mengharuskan pengadukan dengan memakai kotak bertingkat. Ketika akan dilakukan proses pengadukan biji kakao, kotak ditingkat atas akan dibuka secara manual dan memindahkannya ke kotak di bagian bawah. Selain itu, proses fermentasi tersebut membutuhkan tenaga yang kuat dan waktu.

Padahal menurut Hasibuan et al. (2013), tahapan pengolahan kakao yang dianggap paling dominan mempengaruhi mutu hasil biji kakao kering ialah fermentasi. Fermentasi merupakan tahapan pengolahan yang sangat vital untuk menjamin dihasilkannya cita rasa cokelat yang baik (Doume et al., 2013). Fermentasi biji kakao  biasanya bertujuan untuk membantu proses pelepasan daging buah biji. Fermentasi pada umumnya juga dapat memicu terbentuknya cita rasa khas coklat serta menghasilkan warna yang cerah dan bersih. 

Salah satu teknologi yang digunakan pada proses fermentasi ialah alat Bofercao-Tech (Box Fermentation Cacao Technology), alat fermentasi ini dibuat secara otomatis. Bofercao-Tech (Box Fermentation Cacao Technology) dapat memudahkan masyarakat mitra dalam melakukan fermentasi kakao. Proses fermentasi kakao yang dilakukan dengan menggunakan alat ini juga dapat mengefesienkan waktu kerja minim tenaga. Selain itu, hasil dari fermntasi tersebut menghasilkan biji kakao yang memiliki kualitas yang baik. 

Supriadi, mitra PKM-Penerapan Teknologi dari program kegiatan kami sekaligus ketua kelompok tani kakao menyampaikan kesyukurannya dengan adanya kegiatan ini, sebab ia memiliki solusi yang baik untuknya dan untuk lingkungan masyarakat sekitar.

Baca Juga :   Bakti Riset 2019 LPM Penalaran UNM Bertema "Riset Membumi, Masyarakat Berdaya" Resmi Dibuka