Sakura Science Program FKM Unhas, RIHN dan Ehime University Jepang

Mahasiswa FKM Unhas mengikuti Sakura Science Program yang merupakan kerja sama FKM Unhas dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) dan Ehime University Jepang.

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Sakura Science Program akhirnya dapat terimplementasi kerjasama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) dan Ehime University Jepang.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung 11-12 September 2019.

Kegiatan Sakura Science diterima langsung oleh Prof Masayuki Sakakibara yang menjadi partner dan sekaligus sebagai post professor dari program ini, dan didamping oleh Ms Mari Takehara dan Mr. Myo Han Htun (Kotoe-San).

Prof Sakakibara menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan program Sakura Science ini.

Tujuan dari program ini adalah mahasiswa Indonesia memperoleh pembelajaran di Jepang bagaimana research dan universitas bekerja secara terpadu.

Para researcher mengembangkan projek transdisciplany research berdasarkan masalah yang dihadapi oleh negara dan masyarakat.

Mahasiswa FKM Unhas sangat beruntung memperoleh kesempatan ini.

“Anda semua adalah masa depan Indonesia bagaimana meningkatkan kesehatan dan kualitas lingkungan dan sanitasi sehingga derajat kesehatan masyarakat bisa lebih baik,” ungkap Prof Sakakibara.

Mahasiswa akan memperoleh pembelajaran di lapangan dan juga akan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat lebih jauh masalah dan intervensi yang diberikan.

Baca Juga :   BEM FKM Unhas Gelar Winslow Futsal Competition

Peserta melakukan kunjungan atau tour projek pada masing-masing unit di RIHN.

Beberapa projek yang diperkenalkan misalnya assessment of the health impacts of haze pollutants caused by peatland fires, towards the regenaration of tropical peatland societies, biodiversity-driven nutrient cycling and human well-being in social-ecological systems.

Menurut Mr. Myo Han Htun (Kotoe-San), umumnya research yang dikembangkan di RIHN berdasarkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Dengan research itu dapat diidentifikasi level masalah yang dihadapi masyarakat, dan intervensi yang diberikan.

Mr. Myo Han Htun (Kotoe-San) juga menjelaskan aspek-aspek yang harus diketahui oleh mahasiswa di Jepang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan misalnya menyeberang di jalan, membuang sampah;

Mahasiswa FKM Unhas mengikuti Sakura Science Program yang merupakan kerja sama FKM Unhas dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) dan Ehime University Jepang.

Antrian di Kereta, antrian dan menggunakan ATM, antrian untuk makanan, menggunakan sepeda dan parkir dan tunjukkan bagaimana menjadi pendengar yang baik (good listener).

Sementara Ms Mari Takehara banyak membantu secara administratif misalnya tentang penyediaan RIHN house, travel assurance, fasilitas supermarket dan sebagainya.

Adelfima Marwah salah satu peserta sangat terkesan dengan program ini.

Baca Juga :   Raker FKM Unhas Memperkuat Sinergitas di Era Revolusi Industri 4.0

“Kami mendapatkan sambutan yang sangat baik dari penyelenggara staff Jepang program sakura science, mereka sangat baik dan very welcoming. Project-project yang dijelaskan juga sangat detail serta menarik,” ungkap Adelfima Marwah.

Mahasiswa FKM Unhas mengikuti Sakura Science Program yang merupakan kerja sama FKM Unhas dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) dan Ehime University Jepang.

“Perkenalan dimulai setelah kami tiba dan juga dilaksanakan dengan touring sekitaran RIHN. We had so much fun atas program ini karena sangat membantu menambah pengetahuan serta pengalaman yang baru,” tambahnya.

Prof Sukri Palutturi, SKM., M Kes., MSc PH, PhD yang mendampingi kegiatan ini menyampaikan terima kasih kepada Prof Masayuki Sakakibara dan tim, RIHN dan Ehime University Jepang yang telah memberi kesempatan kepada mahasiswa dan staf FKM Unhas pada Program Sakura Science.

“Kami berharap bahwa program ini dapat berlanjut terus ke depan sehingga mahasiswa dapat memperoleh wawasan dan pembelajaran terutama yang berkaitan dengan bagaimana Jepang menyelesaikan masalah kesehatan dan lingkungan,” harap Prof Sukri. (FP/Rls)