Syamsuriansyah Bahas RSUD NTB di Forum International

Syamsuriansyah M Sadakah
Syamsuriansyah M Sadakah

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Syamsuriansyah M Sadakah, mahasiswa Program Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menjadi presenter pada conference international  Asia Pacific Consortium of Public Health Chapter Kualalumpur (APACPH-KL) yang dilaksanakan di University of Malaya 11-12 April 2019.

Syamsuriansyah bergabung dengan sekitar 400 peserta dari berbagai negara meliputi: Malaysia, Vietnam, Thailand, India, Srilanka dan Indonesia.

Syam panggilan akrabnya, sangat senang menjadi pembicara internasional dengan mengangkat tema, “Increasing nurses’ Public Service Motivation at Hospital of Nusa Tenggara Barat Indonesia”.

Menurutnya, kinerja perawat Rumah Sakit Umum Daerah di Nusa Tenggara Barat pada umumnya masih rendah. Nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh perawat masih belum diperhatikan sebagai aspek penting dalam peningkatan pelayanan.

“Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai filosofi budaya lokal masyarakat Nusa Tenggara Barat sebagaimana investasi peningkatan kinerja perawat Rumah Sakit Umum Daerah di Nusa Tenggara Barat,” jelas Syamsuriansyah.

Jenis penelitian yang digunakan Syamsuriansyah dalam penelitiannya adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara mendalam (Indepth Interview) kepada perawat dan direksi RS, dan FGD (Focus Group Discuss) yang melibatkan perawat, supervisor, dan budayawan.

Baca Juga :   Bongkar Kabinet, Rektor UMI Lantik Lima Wakil Rektor

“Pengolahan dan analisis data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai filosofi lokal sangat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah di Nusa Tenggara Barat,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa, nilai-nilai filosofi lokal sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, sikap, komunikasi dan peraturan sebagai peningkatan kinerja perawat RSUD di NTB.

“Nilai-nilai filosofi lokal ini berasal dari bahasa sebagai bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal yang diperoleh dari sejarah dan kehidupan sosial masyarakat NTB di masa lampau secara jelas, kita tidak dapat menafikan bahwa nilai-nilai filosofi budaya lokal  sangat mempengaruhi kinerja kemudian mempengaruhi perilaku manusia,” jelasnya.

Rumah sakit umum daerah di NTB, kata Syamsuriansyah, hendaknya menjadikan nilai-nilai filosofi budaya lokal sebagai kebijakan dalam dalam peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Perawat diharapkan untuk terus memegang teguh nilai filosofi budaya lokal sebagai identitas diri dan rasa bangga terhadap budaya yang dimilikinya.

Baca Juga :   Refleksi Seni, Budaya Pendidikan dan Literasi di UNM

“Tentu saja ini menjadi pengalaman dan menjadi sarana ke depan untuk membawa aspirasi masyarakat terutama dalam bidang kesehatan pada dapil yang saya wakili. Kami berkomitmen untuk mewujudkan perjuangan tersebut dan akan menjadi kontrak politik bersama dengan masyarakat,” tutupnya.(*)