Tak Sekadar Merajut

Salah satu kegiatan merajut oleh komunitas Quiqui di Jalan Abdullah Daeng Sirua Toa' Daeng 3. Workshop merajut perdana bersama warga. (Foto: /IST)

Komunitas Quiqui

Merajut terkadang identitik dengan pekerjaan kaum hawa. Tetapi percayakah kalian bila ternyata merajut itu juga bisa dikerjakan oleh kaum adam?

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Adalah komunitas Quiqui. Quiqui itu sendiri diambil dari bahasa Bugis dan Makassar, Makkui’ yang artinya merajut. Komunitas Quiqui ini sudah ada sejak Desember 2011. Awalnya, komunitas ini beranggotakan ibu-ibu muda. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas ini makin eksis dengan kegaiatan-kegiatan yang dilakukan dan diperuntukan untuk siapa saja. Kegiatan-kegiatan tersebut seakan memiliki daya tarik sehingga pemuda-pemuda pun tertarik untuk bergabung tanpa sedikit pun merasa canggung.

Respon Kasus Sosial

Rabu (14/9) lalu, FAJAR PENDIDIKANberkesempatan bertandang ke Kampung Buku tempat dimana anggota dari komunitas Quiqui biasanya berkumpul. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk berbincang-bincang dengan salah satu anggota komunitas Quiqui dan mengenal secara dekat komunitas tersebut.

Menurut cerita Dede, anggota Komunitas Quiqui yang ditemui FAJAR PENDIDIKAN, kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Quiqui tidak hanya merajut. “Selain merajut, ada juga kegiatan-kegiatan sosial lain yang dilakukan komunitas Quiqui. Kita juga merespon bila ada isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak,” tuturnya.

Baca Juga :   Wujudkan Mimpi Anak Indonesia, Sebar Buku hingga ke Pelosok

Jadi, lanjutnya, ketika kami (komunitas Quiqui) melakukan kegiatan merajut bersama warga di suatu lokasi tertentu, secara tidak langsung kami juga bisa mendapatkan informasi-informasi seperti kekerasaan terhadap ibu dan anak.

Hasil karya dari para perajut di komunitas Quiqui. (Foto: /IST)

Dikatakan Dede, respon yang diberikan terhadap isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak, yaitu terapi secara tidak langsung. “Maksudnya, kegiatan merajut itu sebenarnya secara tidak langsung bisa dijadikan terapi bagi korban kekerasan,” jelasnya.

“Nah, kegiatan merajut ini kan membutuhkan fokus dan juga kesabaran. Jadi, ketika korban kekerasan ini kami ajak untuk belajar merajut.Secara tidak langsung, fokus pikiran mereka mulai beralih ke kegiatan merajut. Mungkin saja, dengan begitu mereka (korban kekerasan) mulai melupakan perlakuan pahit yang pernah menimpah mereka (korban kekerasan),” tambahnya.

Bom Benang

Sejak berdiri, komunitas Quiqui rutin melakukan kegiatan tahunan yang diberi nama “Bom Benang”. Tiap tahunnya, Bom Benang ini dilaksanakan dengan konsep yang berbeda-beda. Tahun ini, merupakan kali kelima dilaksanakan Bom Benang.

‘Benang Kandung’ merupakan tema yang diusung pada pelaksanaan Bom Benang 2016. Dede mengungkapkan, tema itu sengaja diambil sebagai metafora hubungan kekerabatan ‘anak kandung’. Dengan tema itu, komunitas Quiqui ingin menunjukan bahwa dengan media benang, mampu menghubungkan orang-orang dalam satu ikatan yang karib layaknya hubungan ibu dan anak.

Baca Juga :   Untuk Senyum Anak Indonesia

“Seperti yang sudah saya ceritakan tadi,kita tidak hanya sekadar melaksanakan kegiatan merajut. Tetapi di dalamnya itu, kami mencoba memberikan peran sebagai bentuk respon kami terhadap isu kekerasan; terkhususnya yang menimpa ibu dan anak. Oleh karena itu, tema Bom Benang tahun ini berkaitan dengan isu-isu tersebut,” jelas Dede.

Sekalipun membawa misi baik untuk warga, lanjutnya, kegiatan Bom Benang awalnya kurang mendapat respon dari warga. “Mereka pikir kalau kami datang dengan sesuatu yang baru, pasti ada ‘kepentingan’ di dalamnya. Namun seiring berjalannya ini kegiatan, stigma seperti itu perlahan-lahan mulai hilang,” ceritanya.

Lebih lanjut dibeberkan Dede, komunitas Quiqui juga pernah mengangkat isu terkait dengan pemilihan umum (pemilu) kepala daerah. “Di mana ketika menjelang pemilu, sebelumnya ada kegiatan kampanye dan biasanya pohon-pohon itu dijadikan sebagai ‘media’ untuk menempelkan brosur-brosur dari para calon yang bertarung di Pemilu. Padahal, sebenarnya bisa dibuat suatu karya kreativitas dengan benang tanpa ‘melukai’ pohon-pohon,” ungkapnya. (FP)