Tanamkan Nilai Edukasi Melalui Aktivitas Berkebun

Salah seorang peserta Akademi Berkebun saat memperagakan menanam bibit di sebuah pot. Peserta diberikan tantangan menanam bibit yang dibagikan untuk dievaluasi tiga minggu kedepan.

Komunitas Makassar Berkebun

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Kondisi lingkungan kota Makassar yang makin padat dengan pemukiman dan gedung-gedungpencakar langit, mengakibatkan makin berkurangnya ruang hijau terbuka membuat Rama, Indri, Ryan dan Firman merasa resah dengan keadaan itu.

Lima tahun lalu, tepatnya dipertengahan tahun 2011, melalui sosial media twitter, mereka melakukan diskusi dan membuat urban farming untuk kota Makassar.Dari hasil menyatukan pendapat sehingga lahirlah Komunitas Makassar Berkebun yang ditandai dengan tanam perdana tanggal 11 Oktober 2011, ini juga terinspirasi dari Jakarta Berkebun.

Asriadi, yang saat ini menjabat sebagai koordinator Divisi Program dan Event Komunitas Makassar Berkebun, kepada FAJAR PENDIDIKAN menceritakan bahwa, selain karena luapan keresahan dari para penggagas Komunitas Makassar Berkebun, disadari juga bahwa pentingnya mengajarkan lingkungan hidup melalui kegiatan berkebun kepada masyarakat, sehingga menciptakan masyarakat yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Nilai Edukasi

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Makassar Berkebun tidak hanya sekadar melakukan aktivitas berkebun, tetapi ada unsur nilai edukasi disetiap kegiatannya. Misalnya, kegiatan akademi berkebun. Kegiatan ini diperuntukan kepada para penggiat dan masyarakat umum.

Baca Juga :   Mengejar Pahala dengan Cara “Rampok” Pahala di Masjid

Melalui kegiatan “Akademi Berkebun”, pesertanya diberikan edukasi tentang dasar-dasar berkebun. Hal ini juga sebagai wadah untuk para penggiat dan pemerhati urban farming untuk bisa bersilaturahmi dan berdiskusi tentang kegiatan berkebun.

Selain itu, Komunitas Makassar Berkebun juga membuat kegiatan yang melibatkan para pelajar mulai dari jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) hingga jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kegiatan tersebut diberi nama “Pelajar Berkebun” yang tujuannya untuk mengedukasi dan juga untuk menciptakan mindset tentang solusi berkebun di dalam kota walau dalam keterbatasan lahan. Dan yang tak kalah pentingnya dari tujuan kegiatan ini adalah untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini.

Ada juga kegiatan yang dibuat untuk masyarakat umum yaitu, kegiatan “Kebun Kota”. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk sosialisasi dan penerapan langsung kegiatan urban farming di lingkungan masyarakat.

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengatasi keterbatasan lahan untuk berkebun di pekarangan rumah.Melalui vertikultur, aquaponic, bertanam dalam pot/polybag, juga sebagai bentuk sumbangsih dalam mengatasi masalah ketahanan pangan, menciptakan ruang terbuka hijau serta memberikan keuntungan ekonomis kepada masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan adalah tujuan dari dibuatnya kegiatan kebun kota.

Baca Juga :   Pemilik 52 Gelar Nonakademik ini Berbagi Pengalaman Tentang Manajemen Waktu
Foto bersama anggota komunitas Makassar Berkebun.

Tidak hanya itu, Komunitas Makassar Berkebun juga melakukan kegiatan perkunjungan ke perkebunan yang dikelola oleh masyarakat, kelompok tani, pemerintah atau swasta dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para penggiat tentang kegiatan berkebun.

Dibeberkan Asriadi, selama ini yang ditanam berupa sayur-sayuran seperti kangkung, bayam, selada, tomat, cabe, terong dan sejenisnya. “Tanaman yang ditanam lebih banyak ke sayuran, karena mempunyai waktu panen yang relatif lebih singkat. Maksudnya, supaya lebih cepat mendapatkan dan merasakan manfaat menanam,” tuturnya.

Asriadi berharap, komunitas Makassar Berkebun tetap konsisten memberikan dampak positif sehingga terciptanya masyarakat yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

 “Lima tahun lalu gerakan ini belum ada apa-apanya, sampai sekarang Wali Kota Makassar dengan programnya lorong garden itu, saya kira merupakan dampak luar biasa, walaupun kami tak pernah dilibatkan. Harapannya lagi kedepan, semoga semakin banyak orang yang bisa berkebun walaupun di lahan sempit dan menghasilkan pangannya sendiri,” harapnya. (*)