Barru, fajarpendidikan.co.id – Teater Ruang Kelima Dewan Kesenian Barru tengah mematangkan persiapan pementasan drama bertajuk “To Balo”.
Pementasan ini akan tampil dalam Festival Teater Cerita Rakyat Sulawesi Selatan pada Sabtu, 9 Mei 2026, di panggung Dewan Kesenian Sulsel, Makassar.
Drama “To Balo” mengangkat kisah asal-usul suku To Balo yang berkembang dari cerita lisan masyarakat di salah satu kecamatan di Kabupaten Barru.
Penulis naskah sekaligus sutradara, Faisyal Yunus, mengatakan cerita bermula dari kegundahan seorang raja.
Raja tersebut kehilangan kuda belang kesayangannya.
“Dari situ konflik mulai berkembang,” kata Faisyal Yunus kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Dalam upaya mencari solusi, para menteri kepercayaan raja—Capila, Cangkiong, dan Kancilo—terlibat perdebatan sengit.
Sempat muncul usulan ekstrem untuk membunuh kuda tersebut.
Namun, usulan itu ditolak karena bertentangan dengan nilai perlindungan terhadap makhluk hidup.
“Lalu muncul gagasan menggelar sayembara, atas saran ahli nujum,” sambung Faisyal.
Sayembara tersebut menawarkan hadiah besar.
Siapa pun yang berhasil menaklukkan kuda belang itu dengan selamat, berhak mempersunting putri raja.
Dari sinilah cerita berkembang semakin menarik.
Intrik antarmenteri mulai terjadi.
Hingga akhirnya, muncul sosok pemuda dari luar kampung yang berhasil menaklukkan kuda tersebut dan bertemu sang putri.
Faisyal menghadirkan pertunjukan dengan berbagai nuansa dramatik.
Mulai dari ketegangan, komedi, hingga satire sosial.
Menurutnya, drama ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentil realitas kehidupan.
Terutama terkait kelicikan dan dinamika kekuasaan dalam masyarakat.
Pementasan ini didukung sejumlah pelakon.
Di antaranya Risal Trimawan, Accunk Mahsun, Untung Andi Ardy, Chilo Amiruddin, Cheri Andi Adry, Sukmawati, Kadir Tj, Iccank, Hasanuddin, dan Andi Afgan.
Penataan musik digarap oleh Fandy Joe bersama Arga Batara dan Andi Aldian.
Sementara kostum dan tata rias ditangani Lina Faisyal bersama Suriani Risal.
“Pementasan ini juga didukung oleh tim kreatif, dengan desain grafis dan dokumentasi ditangani oleh Irfan dan Ria Sulaeman.”
Proses latihan telah berlangsung selama satu bulan.
Latihan dipusatkan di Kantor Dinas Perpustakaan Barru serta Rona Cafe Barru.
Seluruh tim bekerja intensif untuk menghadirkan pertunjukan yang matang dan berkesan.
Teater Ruang Kelima Barru juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Barru dan sejumlah instansi terkait.
Dukungan tersebut dinilai sangat membantu proses kreatif tim.
Melalui pementasan “To Balo”, mereka berharap cerita rakyat lokal kembali dikenal luas.
Sekaligus menghidupkan nilai-nilai budaya yang tetap relevan di masa kini.
