Kamus Bahasa Mbay Diluncurkan, Pemerintah Nagekeo Tegaskan Komitmen Jaga Bahasa Ibu

Bupati Nagekeo Buka Seminar, Dorong Pelestarian Bahasa Mbay.

Seminar Kamus Bahasa Mbay resmi digelar pada 27 November 2025 di Hotel Sasandi, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini dibuka oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Sekretaris Daerah, Drs. Imanuel Ndun, M.Si., mewakili Bupati Nagekeo. Seminar tersebut menjadi langkah strategis dalam upaya pelestarian bahasa dan budaya Mbay di tengah perkembangan zaman.

Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari penyusun kamus, perwakilan sekolah, pegiat literasi, generasi muda, hingga unsur pemerintah daerah. Penyusunan kamus dilakukan melalui kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo — melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Wilibrodus Lasa — bersama Dimensi Indonesia.

Dalam sambutan yang dibacakan Sekda, Bupati menegaskan bahwa bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga inti dari identitas masyarakat.

“Bahasa Mbay adalah cerminan cara berpikir, perasaan, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat kita. Bahasa Mbay adalah rumah bagi kebudayaan, yang keberadaannya harus dijaga, diwariskan, dan terus dihidupkan dari generasi ke generasi,” demikian pesan Bupati.

Baca Juga:  Lagi-Lagi Kapolsek Polres Barru Bawa Haru bagi Warga ODGJ

Pemerintah Kabupaten Nagekeo juga menegaskan komitmen untuk melestarikan bahasa daerah melalui berbagai program kebudayaan.

“Pemerintah Kabupaten Nagekeo berkomitmen kuat untuk melestarikan serta merevitalisasi Bahasa Mbay sebagai bagian dari agenda besar pelestarian budaya daerah. Perlindungan terhadap bahasa ibu bukan sekadar kerja administratif, tetapi bagian dari pembangunan manusia dan upaya memperkuat identitas kedaerahan di tengah arus globalisasi,” lanjut Sekda.

Dalam sesi pemaparan, penulis Kamus Ilmiah Bahasa Mbay, Muhamad Amin Daeng Matiro, menjelaskan kekayaan struktur bahasa Mbay yang dipenuhi permainan kata seperti anagram.

“Bahasa Mbay itu unik karena banyak memakai permainan kata seperti anagram, di mana satu kata bisa menghasilkan beberapa bentuk dan makna berbeda. Contohnya kata roka yang bisa berubah menjadi kora, raok, dan arok, semuanya memiliki arti tersendiri,” ujarnya.

Amin menambahkan bahwa sejak 2008 ia telah mengumpulkan hampir 60 ribu kosakata, menunjukkan kompleksitas dan kelimpahan bahasa Mbay. “Setiap kata dalam Bahasa Mbay memiliki makna yang sangat spesifik. Bahkan untuk hal sederhana seperti ‘mencuci’, ada banyak istilah berbeda yang menggambarkan aktivitas tersebut secara lebih rinci dan tepat,” jelasnya.

- Iklan -
Baca Juga:  Waduh! Bocil Jadi Penyumbang Laka di Barru

Panitia penyelenggara menegaskan bahwa penyusunan kamus ini merupakan upaya pelestarian budaya jangka panjang. “Tema Papa Pusu Sari Ati yang kami angkat bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari hidup. Kata-kata yang lahir dari Papa Pusu Sari Ati ini adalah warisan yang ingin kami teruskan kepada anak-anak kita,” ujar perwakilan panitia.

Kamus tersebut ditargetkan terbit pada 8 Desember 2025, dengan rencana lanjutan untuk mengajukannya sebagai warisan budaya resmi sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Panitia juga berharap kamus ini dapat dicetak secara luas dan dibagikan ke sekolah-sekolah agar Bahasa Mbay tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU