Wednesday, July 8, 2020

Minta Nadiem Tunda Tahun Ajaran Baru, Ribuan Orang Teken Petisi

Ribuan orang meneken petisi online meminta Presiden Joko Widodo dan Mendikbud Nadiem Makarim untuk menunda tahun ajaran baru.

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Ribuan orang meneken petisi online meminta Presiden Joko Widodo dan Mendikbud Nadiem Makarim untuk menunda tahun ajaran baru. Petisi itu diinisiasi seseorang bernama Hana Handoko lewat laman petisi online Change.org.

“Jika kita bisa belajar dari negara lain bahwa ternyata tidak aman untuk membuka kembali lingkungan sekolah ditengah pandemik Covid19. Alangkah baik dan bijaksana, jika pemerintah khususnya menteri pendidikan berpikir sebijaksana mungkin tentang dibukanya kembali tahun ajaran baru,” tulis Hana dalam petisi itu. Per 29 Mei 2020, pukul 01.02 WITA, petisi ini telah ditandatangani 38.903 orang.

Hana mengutip dua berita yang mengabarkan 70 siswa tingkat TK dan SD terpapar positif Covid-19, setelah Prancis membuka kembali sekolah-sekolah pada 11 Mei lalu. Pada akhirnya, 18 Mei lalu, Prancis memberlakukan kembali status lockdown.

Kemudian, 17 siswa dan 4 orang guru juga terpapar positif Covid-19 selama kurun waktu dua hari setelah negara Finlandia membuka kembali sekolah-sekolah. “Melihat dua kasus ini, apakah pemerintah yakin untuk membuka kembali tahun ajaran baru seperti biasanya? Dengan protokol kesehatan Covid-19, apakah tetap bisa menjamin anak anak dan guru tidak terpapar Covid-19 di lingkungan sekolah?” ujar Hana.

Dari dua kasus ini, Hana sebagai seorang ibu meminta pemerintah menunda tahun ajaran baru atau setidaknya memperpanjang kegiatan belajar secara online dari rumah demi keamanan anak-anak.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya telah memutuskan bahwa kalender pendidikan dimulai pada Juli dan berakhir pada Juni tahun berikutnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan telah menyiapkan berbagai skenario terkait permulaan tahun ajaran baru 2020/2021.

Menurutnya, keputusan Kemendikbud terkait format pelaksanaan tahun ajaran baru akan merujuk pada kajian Gugus Tugas. “Mohon menunggu, saya pun tidak bisa memberikan statement apapun keputusan itu, karena itu dipusatkan di Gugus Tugas. Tapi kami tentu terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas,” kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Rabu, 20 Mei 2020.

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Tiga Peserta UTBK Berkebutuhan Khusus Ikut Ujian di UNM Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Tiga peserta Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) dengan berkebutuhan khusus mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)...

Pendaftaran UMPTKIN 2020 Ditutup, UIN Alauddin Peringkat Pertama Kampus Paling Diminati

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2020 telah resmi ditutup pada Minggu (5/7/2020). Dari...

Pustakawan dan Organisasinya

REFLEKSI HUT IPI KE 47 | 7 JULI 1973 -  7 JULI 2020Oleh: Tulus Wulan Juni (Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar)

Dosen Unhas Segera Lakukan Rapid Test, Berikut Jadwalnya

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Upaya melakukan pemutusan rantai penularan Covid-19, sebanyak 1.652 dosen Universitas Hasanuddin dari seluruh fakultas dan program studi akan segera...

Dear Mahasiswa, Ini Syarat Penerima Bantuan Keringanan Biaya Kuliah di Masa Pandemi

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemerintah mengeluarkan aturan keringanan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terkena dampak Covid-19. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun...

REKOMENDASI