Vladimir Putin, Presiden Rusia, menyampaikan duka cita kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas jatuhnya banyak korban sipil akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Dalam kesempatan yang sama, Putin juga menyerukan agar operasi militer tersebut segera dihentikan.
Ucapan belasungkawa itu disampaikan Putin dalam percakapan telepon dengan Pezeshkian pada Jumat (6/3) malam. Dalam pembicaraan tersebut, Putin menyatakan simpati mendalam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarganya, para pemimpin politik dan militer Iran, serta banyak warga sipil lainnya.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kremlin, Putin kembali menegaskan sikap Rusia yang menolak penggunaan kekuatan militer sebagai cara menyelesaikan persoalan internasional. Ia menilai konflik yang berkaitan dengan Iran maupun situasi di kawasan Timur Tengah seharusnya diselesaikan melalui jalur diplomasi.
“Vladimir Putin menegaskan kembali posisi prinsipil Rusia untuk menghentikan segera aksi militer, menolak penggunaan kekuatan sebagai metode untuk menyelesaikan masalah apa pun yang berkaitan dengan Iran atau yang timbul di Timur Tengah, serta kembali segera ke jalur penyelesaian diplomatik,” demikian pernyataan Kremlin yang dikutip oleh kantor berita Reuters.
Dalam percakapan tersebut, Putin juga menyampaikan bahwa dirinya terus melakukan komunikasi dengan para pemimpin negara anggota Dewan Kerjasama Teluk guna memantau perkembangan situasi di kawasan.
Sementara itu, Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Rusia kepada Iran di tengah situasi konflik yang sedang berlangsung. Menurut Kremlin, Presiden Iran itu berterima kasih atas solidaritas yang ditunjukkan Rusia terhadap rakyat Iran yang sedang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negaranya.
“Masoud Pezeshkian mengucapkan terima kasih atas solidaritas Rusia dengan rakyat Iran saat mereka mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara mereka. Ia juga memberikan pembaruan rinci tentang perkembangan selama fase aktif terbaru konflik,” kata Kremlin.
Situasi keamanan di Timur Tengah sendiri terus memanas dalam beberapa hari terakhir. Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin meningkat setelah serangkaian serangan dan serangan balasan terjadi di berbagai wilayah kawasan tersebut.
Ketegangan mulai meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan berbagai operasi militer, termasuk peluncuran rudal dan drone ke sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Perkembangan terbaru menunjukkan konflik yang semakin meluas. Laporan menyebutkan adanya serangan terhadap aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, rudal yang menghantam wilayah Israel, serta kerusakan yang dilaporkan terjadi pada sejumlah kapal dan fasilitas energi di beberapa negara di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran juga mengeluarkan ancaman terhadap fasilitas nuklir Israel di Dimona Nuclear Research Center. Ancaman ini dinilai meningkatkan risiko meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar.
Sementara itu, Amerika Serikat mengklaim telah menenggelamkan puluhan kapal milik Iran selama berlangsungnya pertempuran. Rangkaian peristiwa tersebut juga diiringi laporan adanya korban luka di pihak Israel serta klaim serangan terhadap berbagai aset militer dan kapal perang di perairan kawasan.
