Renungan Pagi: Rezeki Tidak Akan Tertukar

FAJAR Pendidikan

Sesuatu yang tak ketinggalan dipanjatkan seorang hamba melalui doa kepada Allah SWT adalah memohon kelancaran rezeki. Memohonkan kelancaran rezeki untuk dirinya sendiri, untuk anak-anaknya, suami/isterinya, kedua orang tuanya bahkan untuk seluruh kaum mulsimin di dunia. Seakan-akan memohon kelancaran rezeki adalah suatu keharusan, padahal itu hanya untuk kebutuhan duniawi saja.

Kekhawatiran manusia akan tidak terpenuhi kebutuhan rezekinya membuat seseorang nekat menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan rezekinya. Bekerja mati-matian tak kenal waktu sering kali dilakukan untuk semakin menumpuk kekayaan.

Ada sebagian orang yang sangat mudah mendapatkan rezekinya walau kerjanya hanya bersanta-santai. Ada pula sebagian yang sangat sulit dalam mendapatkan rezekinya walau sudah bekerja siang dan malam, seakan-akan segala pekerjaan yang dilakukan sepanjang hari hanya untuk mencari rezeki.

Hendaklah seorang hamba bersabar akan besar dan kecilnya jumlah rezeki yang ia dapatkan. Bersyukur dan ikhlas dengan ketetapan rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita. Serta bersikap optimis untuk menjalani hari esok, mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari Allah SWT.

Rezeki adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT. Rezeki itu bersifat luas, tidak hanya berisikan harta kekayaan atau materi. Memiliki badan yang sehat, anak, keluarga serta teman yang shaleh juga bisa dikatakan sebagai rezeki.

Sederhananya, memiliki makanan yang cukup untuk dimakan pada hari yang sama juga merupakan rezeki. Memiliki kecerdasan, suatu keahlian yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain juga merupakan rezeki. Bahkan ada sebuah ungkapan “memiliki istri yang cantik dan shaleha adalah rezeki”.

Manusia selalu saja mengkhawatirkan masalah rezeki. Padahal Allah SWT telah menetapkan takdirnya jauh sebelum manusia itu dilahirkan kedunia. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis qudsi berikut:

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (H.R Muslim)

Manusia seringkali bekerja keras sampai tak kenal waktu, menghalalkan segala cara sampai menyakiti sesama saudaranya hanya dengan alasan mencari rezeki.

BACA JUGA :   Renungan Harian Katolik, Sabtu 1 Oktober 2022: Jika Kamu Tidak Bertobat dan Menjadi Seperti Anak Kecil ini, Kamu Tidak akan Masuk ke dalam Kerajaan Surga

Manusia yang berambisi duniawi sampai-sampai melupakan Allah SWT sang pencipta-Nya. Lihatlah firman Allah SWT berikut ini:

Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (Q.S Ar-Rum: 40)

Demi mencukupkan segala keinginan hawa nafsunya di dunia manusia banyak yang melupakan kewajibanya sebagai seorang muslim padahal rezekinya sudah dijamin oleh Allah SWT, seperti dalam firman Allah SWT berikut ini:

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahuai tempat kediamanya dan tempat penyimpananya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (lauh mahfuz).” (QS. Hud: 6)

Bekerja sekuat tenaga dengan disertai doa dan memohon pada Allah SWT tentulah lebih baik bagi seorang hamba. Senantiasa mempercayakan rezeki kita pada Allah SWT bukan sesuatu yang lain. Bos atau pemimpin hanyalah perantara dari Allah SWT untuk menyampaikan rezeki-Nya kepada kita.

Lantas haruskah kita tetap bekerja keras untuk mendapatkan rezeki dari Allah SWT? Apakah kita hanya diam dan berpasrah saja? Dalam sebuah hadits panjang para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah tentang permasalahan tersebut:

Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?”

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.” (H.R Muslim)

BACA JUGA :   Renungan Harian Katolik, Minggu 25 September 2022: Yesus Kristus Menjadi Miskin, Sekalipun Ia Kaya, Supaya oleh Karena Kemiskinan-Nya Kamu Menjadi Kaya

Perlu kita ingat, Allah adalah Dzat yang Maha mengetahui, segala sesuatu yang ditakdirkan Allah SWT adalah sesuai kehendak-Nya. Sebagai seorang hamba hendaknya bersabar dalam setiap kesenangan dan kesulitan yang ada dalam hidupnya. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (Q.S Asy-Syuraa: 27)

Sebagai seorang manusia tentulah memiliki hasrat yang sama yaitu bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. Memiliki rumah yang kokoh walau fungsinya sama yaitu untuk sekedar berteduh, membahagiakan orang tua, suami/isteri dan anak-anaknya serta dapat menolong para saudaranya.

Amalan-amalan untuk menambah rezeki yang dipercaya membuat rezeki berlimpah.

Mengerjakan shalat 5 waktu

Mengerjakan shalat Dhuha

Mengerjakan shalat malam

Bersedekah dan beramal shaleh

Berbakti kepada orang tua

Berbuat baik kepada sesama

Memudahkan urusan saudaranya

Memberi santunan pada fakir miskin dan anak yatim. Dan lain sebagainya

Ingatlah! Dalam hidup di dunia apa yang kita kerjakan ada hasih yang kita petik. Jika kita mengerjakan amal shaleh, niscaya Allah berikan balasan pahala dan kebaikan pada kita.

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S An-Nahl: 97)

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

وَبَرَكَاتُهُ

Semangat beraktivitas dihari Ahad. Semoga Allah SWT mengampuni dosa kedua orang tua kita, dosa-dosa kita, diangkat Derajat kita dilindungi langkah-langkah kita, serta dalam keadaan *Sehat*, mendapatkan *Ilmu yang Bermanfaat*, dimudahkan *urusan Dunia*, mendapatkan *Rezeki yang berlimpah*, serta selalu *bersyukur dan bersabar*, *bahagia dunia akhirat*

*Aamiin Ya Rabbal’aalamiin*🙏🙏

(P/WA/ANA)

Bagikan:

REKOMENDASI UNTUK ANDA