Rabu, Januari 20, 2021

Aliansi ‘Makar’ Bergejolak, Mencari Pimpinan Kampus

Aliansi Mahasiswa Makassar (Makar) kembali menggelar aksi mencari pimpinan kampus dalam rangka gratiskan biaya pendidikan selama pandemi di bawah FlyOver, Makassar, Jumat (3/7/2020).

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Sampai saat ini tercatat jumlah pasien terinfeksi Covid-19 di Indonesia telah mencapai 60.695 kasus, dari 60.695 kasus positif Covid-19, 3036 meninggal dunia dan 27.568 dinyatakan sembuh. Dengan mewabahnya pandemi Covid-19 ini secara global menyebabkan lumpuhnya perekonomian di berbagai sektor.

Situasi krisis akibat pandemi ini telah bergeser dari krisis kesehatan menjadi krisis sosial-ekonomi. Hampir semua kalangan masyarakat merasakan dampak akibat pandemi Covid-19 ini . Krisis sosial-ekonomi memberi berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam membayar biaya pendidikan. Akibatnya, banyak mahasiswa terancam tidak mampu melanjutkan pendidikan.

Menyoal hal itu, massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Makassar (Makar) berkumpul pada jam 2 siang di halaman Mesjid 45 (3/7/2020) lalu memulai longmarch menutup jalan sepanjang Urip Sumoharjo menuju flyover. Nyanyian mulai dari darah juang hingga mars mahasiswa itulantungkan.

Setiba di titik aksi, aliansi langsung menduduki bawah flyover lalu membentangkan spanduk, bendera aliansi, menyebarkan selebaran, hingga menempelkan meme yang berisikan para pimpinan kampus di cari oleh aliansi makar.

Amerta’ menjelaskan aliansi menaikkan framing mencari pimpinan kampus dikarenakan selama aksi dilakukan secara online, aksi damai kampus sampai rolling kampus di Makassar seolah olah tidak didengar dari atas.

“Maka dari itu kami selaku mahasiswa murka dan langsung turun ke jalan. Mau dikasih malu-malu pimpinan kampus dengan cara membuat meme berupa wanted rektor/ketua yayasan/ketua tingkat lalu di tempelkan di sudut sudut bangunan sekitar flyover,” kutip Amerta selaku humas.

Bentuk sindiran yang dilakukan mahasiswa. Foto: Istimewa

Anwar juga menambahkan bila aksi itu berupa aksi kampanye dimana mengingatkan kembali kepada pengendara jalan untuk tidak membayar uang kuliah bagi yang berstatus mahasiswa, ataupun ada jika keluarganya mereka bayarkan.

“Saat ini sedang krisis, seharusnya orang orang sadar untuk ikut serta menuntut pendidikan gratis karena setiap warga berhak mendapatkan pendidikan,” katanya.

“Aliansi terkhusus pendidikan tinggi tidak melihat secara detail tentang apa yang dirasakan mahasiswa saat pandemi yang membuat mahasiswa harus kulia online dengan modal sendiri dan di paksa untuk tetap membayar uang kuliah dengan dalil bahwa kampus juga membutuhkan biaya untuk mengaji dosen dan perlengkapan kampus lainnya, tanpa melihat fakta lapangan bahwa mahasiswa juga kesulitan untuk membayar uang kulia di karenakan berkurangnya pendapatan keluarga karena orang tua di PHK,” lanjutnya.

20 April lalu data Kementrian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jumlah pekerja formal yang di rumahkan menyentuh angka 1.304.777 dan 43.690 perusahaan sedangkan pekerja formal yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) terhitung 241.431 orang pekerja dari 41.236 perusahaan.

Sektor informal juga turut berdampak dengan estimasi kehilangan 538.385 pekerja dari 31.444 perusahaan atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Keseluruhan jumlah pekerja terdampak COVID-19 mencapai 2.084.593 orang dari sebaran 116.370 perusahaan.

Di samping itu survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPI) terhadap 1.260 responden di 34 Provinsi sejak 24 April hingga 2 Mei menunjukkan bila sebanyak 15,6% mengalami PHK dan 40% mengalami penurunan pendapatan 7% pendapatan pekerja turun hingga 50% banyaknya.

Berangkat dari kerasahan bersama mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Makassar (MAKAR) menuntut GRATISKAN BIAYA PENDIDIKAN SELAMA PANDEMI COVID 19, karena bagi mereka ruang – ruang belajar adalah wadah untuk menjadikan manusia sebagai manusia seutunya bukan sebagai budak para penguasa.

Penulis : Muhammad Raihan Rahman

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Sah! STIE Nobel Jalin Kerja Sama dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda)

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia Makassar sepakat melaksanakan kerja sama dengan PT. Sulsel Citra Indonesia (Perseroda), senin 18...

Jasa Raharja Peduli Sasar Masyarakat Terdampak Covid-19 di Empat Lokasi Ini

FAJARPENDIDIKAN.co.id- PT. Jasa Raharja Cabang Sulawesi Selatan mengadakan giat pembagian sembako dengan mengusung tema “Pegawai dan Manajemen Jasa Raharja Berbagi Bantuan Donasi...

Peduli Gempa Sulbar, Sekolah Islam Athirah Galang Donasi

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Islam Athirah melalui Tim Athirah Peduli melakukan penggalangan donasi untuk korban terdampak gempa Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat,...

PBB Terbitkan Laporan Demografi; Populasi Laki-Laki Jauh Lebih Sedikit

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Baru-baru ini PBB menerbitkan laporang Demografi suku pertama 2019 yaitu manusia berjumlah 7.7 Milyar orang di planet bumi ini.

Opini : Potensi Unggul Generasi Terancam Demi Korporasi

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas...

REKOMENDASI