Foto: flux-design.us

Ada suatu waktu dalam sejarah awal manusia ketika hari-hari tidak diberi nama. Alasannya sangat sederhana. Manusia tidak menemukan Minggu. Pada waktu itu, satu-satunya pembagian waktu adalah bulan, dan ada terlalu banyak hari dalam satu bulan untuk diberi nama sendiri-sendiri. Tetapi ketika manusia mulai membangun kota-kota, mereka ingin mempunyai hari istimewa untuk berdagang, suatu hari pasar.

Kadang hari pasar ini ditetapkan setiap hari kesepuluh, terkadang setiap hari ketujuh atau setiap hari kelima. Nah, orang-orang Babilonia memutuskan hari pasar harus jatuh pada hari ketujuh. Pada hari ini mereka tidak bekerja, tetapi bertemu untuk berdagang dan mengadakan upacara-upacara keagamaan.

Bangsa Yahudi mengikuti contoh mereka, tetapi mengkhususkan hari ketujuh untuk keperluaan keagamaan. Dengan demikian hari Minggu pun muncul. Hari itu adalah hari antara hari-hari pasar. Bangsa Yahudi memberi nama untuk masing-masing hari dari ketujuh hari itu, beracuan pada hari Sabat yang berarti dia berenti (hari Sabtu). Misalnya, hari Rabu dinamakan hari keempat (empat hari setelah hari Sabtu).

Baca Juga :   Ternyata Begini Keunikan Rumah Adat Suku Bugis

Ketika Bangsa Mesir menggunakan Minggu yang terdiri dari tujuh hari. Mereka kemudian menamakan hari-hari itu menurut nama kelima planet, matahari dan bulan. Bangsa Romawi juga menggunakan nama-nama Mesir untuk hari-hari mereka dalam seminggu: hari Matahari, hari Bulan, hari planet Mars, hari planet Merkurius, hari planet Yupiter, hari planet Venus, dan hari planet Saturnus.

Namun, nama-nama hari yang digunakan saat ini bukanlah berasal dari penamaan Bangsa Romawi melainkan Bangas Anglo Saxon. Mereka menamai sebagian besar hari menurut nama dewa-dewa, kurang lebih sama dengan dewa Bangsa Romawi. Seperti hari matahari menjadi ‘Sunnandaeg’, atau Sunday (Minggu), Hari Bulan dinamakan ‘Monandaeg’, atau Monday (Senin),

Hari Mars menjadi hari Tiw, yaitu dewa perang mereka. Ini menjadi ‘Tiwesdaeg’, atau Tuesday (Selasa), Bukannya nama Merkurius, nama Dewa Woden diberikan menjadi Wednesday (Rabu), Hari Romawi Yupiter, dewa guntur, menjadi hari guntur Dewa Thor, dan ini menjadi Thursday (Kamis), Hari berikutnya dinamakan Frigg, istri Dewa Odin, dan oleh karena itu kita mempunyai Friday (Jumat), Hari Saturnus menjadi ‘Saeterbsdaeg’, terjemahan dari bahasa Romawi, dan kemudian menjadi Saturday (Sabtu).

Baca Juga :   Perlu Diketahui, Begini Sejarah Bahasa Suku Bugis

Di Indonesia sendiri, selain nama Minggu dan Sabtu, Senin sampai Jumat berasal dari bahasa Arab. Kata Senin dari Isnain berarti dua, kata Selasa berarti Tsalasah yang artinya tiga, kata Rabu berarti ar Rab’ah artinya empat, kata Kamis atau Khamis berarti lima dan kata Jumat diambil dari Jumu’ah yang berarti ramai. Sedangkan Minggu, dalam bahasa Melayu lama, kata ini dieja sebagai Dominggu. Baru sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai Minggu. Sedang Sabtu konon diambil dari bahasa Ibrani, sabbat yang berarti “dia berhenti”.

Satu hari, biasanya dihitung sebagai jarak antara terbitnya matahari dan terbenamnya matahari. Bangasa Romawi menghitungnya dari tengah malam sampai tengah malam, dan kebanyakan bangsa-bangsa modern menggunakan metode ini. (KK/*)