Ekspresi Nasionalisme dan Kreativitas Dalam Perlombaan Tujuh Belasan di SD Negeri Borong

Ekspresi Nasionalisme dan Kreativitas Dalam Perlombaan Tujuh Belasan di SD Negeri Borong
Ekspresi Nasionalisme dan Kreativitas Dalam Perlombaan Tujuh Belasan di SD Negeri Borong

Nuansa Merah Putih mendominasi perlombaan yang diadakan dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di SD Negeri Borong, Makassar, Jumat-Sabtu, 12-13 Agustus 2022.

Warna Merah Putih terlihat pada busana peserta dan panitia, dekorasi ruang kelas hingga halaman sekolah.

Komposter dan green house yang biasa berwarna hijau pun dicat jadi warna Merah Putih sebagai simbol nasionalisme.

Lomba yang diadakan di atas Panggung Aksi Kompleks Borong selama dua hari itu seolah jadi ajang unjuk kreativitas antar-siswa.

Mereka menampilkan kemampuan ter-baiknya, sesuai mata lomba yang diikuti.

Sementara guru dan orang tua tak henti memberi semangat dan mengabadikan momen penampilan anak-anaknya melalui smartphone.

Lomba ini juga sekaligus jadi sarana untuk melihat bakat dan potensi yang dimiliki anak-anak guna diikutkan dalam kegiatan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) tahun depan.

Rosmiaty, SPdI, guru SD Negeri Borong, yang merupakan panitia pelaksana, tak henti-henti mengingatkan anak-anak agar tetap menjaga kebersihan sebagai wujud perilaku hidup bersih dan sehat.

Lomba yang diadakan tahun ini cukup beragam. Ada lomba menyanyi solo dengan lagu wajib Merah Putih, nasyid, lomba menggambar dan mewarnai, dan lomba lari kelereng, yang diadakan pada Jumat, 12 Agustus 2022.

Pada Sabtu, 13 Agustus 2022, diadakan lomba cipta dan baca puisi, lomba pantomim, lomba paduan suara dengan lagu Mars SD Negeri Borong, lomba dekorasi kelas, lomba baca cepat dan lomba senam PGRI.

BACA JUGA :   Siswa Sekolah Alam Bosowa Lakukan Outing Class

Ariyanti, murid kelas 6B, yang ikut lomba senam PGRI mengaku tidak sulit berlatih senam bersama teman-temannya.

Dia berlatih hanya selama 3 hari, dengan cara melihat tayangan YouTube melalui smartphone dan layar monitor TV di kelasnya.

Muhammad Alief Maulana, yang baru duduk di kelas 1B, mengungkapkan bahwa dia senang bisa ikut lomba vokal grup.

Dengan mengikuti lomba, kini dia sudah bisa menghapal lagu Mars SD Negeri Borong.

Lomba tujuh belasan ini juga jadi ajang kreativitas guru dan komite kelas. Mereka mengecat kursi, meja, dan dinding kelas, serta mendekorasinya dengan warna-warni Merah Putih.

Berbagai ragam kreativitas hasil daur ulang juga dipamerkan, termasuk untuk alat peraga pembelajaran yang dibuat sendiri.

Neny Wahyuni Wahab, SPd, guru kelas 1, bercerita bagaimana dia memberikan motivasi bagi murid-muridnya.

Caranya sederhana, yakni dengan memakaikan topi kerucut bagi murid yang dinilai bagus. Topi itu merupakan hasil daur ulang yang dibuat saat masa pengenalan lingkungan sekolah.

Lain lagi dengan Rosmiaty, SPdI yang bersama orangtua komite kelas 3 menyulap ruang kelas menjadi menarik. Mereka bergotong royong membenahi kelas selama 5 hari.

BACA JUGA :   Bunda Pustaka SD Negeri Borong Ajak Murid-Murid ke Perpustakaan Umum Kota Makassar

Hasilnya, kelas ini mampu membuat lorong mini pustaka di samping kelas yang jadi tugas tambahan-nya.

Semula tempat itu merupakan ruang penyimpanan barang tidak terpakai. Kini bisa digunakan untuk kegiatan literasi.

Sementara Sukmawati, SPd membuat ular tangga edukasi sebagai media pembelajaran.

Menurut Bu Sukma, begitu ia disapa, ular tangga hasil modifikasi itu memuat semua mata pelajaran mulai pelajaran Agama, IPA, IPS, Matematika, PJOK maupun Bahasa Indonesia.

Katanya, kalau anak-anak mulai terlihat bosan, mereka diajak bermain ular tangga tersebut.

Bu Sukma menyampaikan, anak-anak kelas 6 ini boleh di kata merupakan kelas digital.

Karena materi pembelajaran yang diberikan berbasis digital. Guru saat mengajar tak lagi banyak menjelaskan dengan kata-kata tapi lebih banyak mengandalkan monitor TV sebagai media pembelajaran.

Bagian ini jadi salah satu aspek penilaian lomba yang rutin diadakan setiap peringatan HUT Kemerdekaan.

Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Dra Hj Hendriati Sabir, MPd, memberi apresiasi atas partisipasi yang ditunjukkan orangtua murid yang tergabung dalam Bunda Pustaka.

Peran guru dan Bunda Pustaka cukup besar dalam penyelenggaraan kegiatan karena mereka merupakan panitia lomba.

Begitu pun dengan komite kelas yang mendekorasi kelasnya agar terlihat bersih, rapi dan indah. (*)