Berapa Kebutuhan Cairan untuk Lansia ? Tetap Aktif di Masa Senja

Kekurangan cairan tubuh memang membuat Anda rentan dehidrasi. Apalagi pada lanjut usia (lansia), yang termasuk dalam kelompok usia berisiko dengan kekurangan cairan tubuh. Lansia perlu mencukupi kebutuhan cairan di dalam tubuhnya setiap hari, tapi di sisi lain juga tidak boleh berlebihan. Yuk, cari tahu lebih lanjut pada ulasan berikut ini.

Berapa kebutuhan cairan untuk lansia?

Pada umumnya, minum air putih 8 gelas sehari (sekitar 2 liter) dapat mencukupi kebutuhan air setiap hari. Namun, kebutuhan air sebenarnya bervariasi antar individu. Rekomendasi tersebut setara dengan minum empat sampai enam gelas ukuran 250 ml (ukuran standar air mineral gelas) per hari.

Nah, perhitungan ini beda untuk lansia. Pada umumnya, lansia membutuhkan lebih banyak asupan air karena rentan dehidrasi. Perubahan jumlah kebutuhan air ini dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk berat badan, peningkatan kadar massa lemak tubuh, dan penurunan fungsi ginjal akibat penuaan.

- Iklan -

Pada umumnya, kebutuhan cairan untuk lansia minimal 1,5 liter sehari. Akan tetapi, menurut rekomendasi Kemenkes RI, kebutuhan cairan lansia Indonesia adalah sebagai berikut:

Baca Juga:  Kapan Anak Mulai Harus Sikat Gigi

Wanita:

Ingin Tetap Aktif di Masa Senja?

- Iklan -
  • 60-64 th 2,3 liter
  • 65-80 th 1,6 liter
  • >80 th: 1, 5 liter

Pria:

  • 60-64 th: 2,6 liter
  • 65-80 th: 1,9 liter
  • >80 th: 1,6 liter

Apa akibatnya jika lansia kekurangan atau kelebihan cairan?

Kekurangan cairan dapat tampak dari gejala dehidrasi. Mulai dari mulut kering, kelelahan, urine berwarna gelap, dan kepala pusing. Sebaliknya, jika kebutuhan cairan lansia berlebihan tentu akan ada dampak buruknya bagi kesehatan tubuh.

- Iklan -

Ginjal lansia sudah tidak lagi tidak berfungsi seefektif ginjal orang dewasa muda untuk mengolah cairan. Oleh karena itu, terlalu banyak asupan melewati batas wajar dapat membilas sejumlah besar kandungan garam elektrolit dalam tubuhnya. Kondisi kekurangan garam (natrium) disebut juga dengan hiponatremia.

Pada kasus yang ringan, kadar natrium rendah dalam tubuh cenderung menyebabkan penurunan fungsi kognitif otak, seperti kebingungan, linglung, dan mengantuk. Mual dan badan lesu lunglai (termasuk kelemahan atau kram otot) juga bisa menjadi tanda kadar natrium dalam tubuh lansia sudah merosot jauh dari normalnya.

Baca Juga:  Kenali Beberapa Penyakit Penyebab Usus Kotor dan Cara Mengatasinya

Jika hiponatremia terus berlanjut hingga ke taraf berbahaya, kekurangan natrium dalam tubuh bisa menyebabkan sakit kepala parah akibat penumpukan cairan pada jaringan otak. Sakit kepala merupakan tanda utama bahwa kondisi ini sudah berkembang menjadi sangat serius. Hiponatremia serius akibat lansia yang kebanyakan minum air kemudian juga bisa menyebab tulangnya rentan patah.

Kejang-kejang bisa terjadi akibat saraf otak yang sangat kekurangan asupan natrium. Pada kasus yang berat, lansia bisa mengalami gagal pernapasan bahkan hingga jatuh koma. Ini disebabkan oleh pembengkakan otak akibat kadar natrium yang amat rendah.

Selain karena kebutuhan cairan pada lansia yang berlebihan, gangguan keseimbangan cairan tubuh juga bisa dipengaruhi oleh efek samping obat-obatan yang mereka gunakan, seperti diuretik, antidepresan, anti nyeri, atau penggunaan obat lainnya.

_________________

Sumber : Halo Sehat

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU