Selasa, Januari 19, 2021

Dampak Krisis Akibat Pandemi, Usman Berhenti Dari Tempat Kerjanya

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Usman (35 tahun), yang bekerja di sebuah perusahaan media, terpaksa harus berhenti,  atau mengundurkan diri. Keputusan yang diambil secara tiba-tiba tersebut  Karena desakan orang tuanya, dia harus menikah.

Namun, usman merasa belum siap untuk menikah. Lantaran sejak wabah corona melanda negara, bahkan tingkat dunia, perusahaan tempat Usman bekerja, tidak mampu membayarkan gaji karyawannya secara full dan teratur setiap bulan. “Saya terpaksa harus pulang kampung bertani,” ujarnya sebulan sebelum dia berhenti. Kebetulan orang tua Usman memiliki lahan pertanian, di jazirah Timur Sulawesi Selatan yang lumayan luasnya.

Usman tidak peduli lagi, apakah perusahaannya mau membayar pesangonnya, atau tidak. Kalau pun tidak dibayar, dia tidak permasalahkan. Aturan ketenagakerjaan, mengundurkan diri, perusahaan tidak harus membayar pesangon .Gajinya yang terlambat dibayarkan pun, tidak bisa lagi ditunggunya. Dia harus cepat-cepat pulang bertani, agar tanamannya bisa cepat dipanen, dan cepat jadi uang.

Dia sangat mengerti, perusahaannya tidak punya kemampuan membayar pesangon. Sejak pandemi, omzet perusahaannya menurun. Terkadang naik sedikit, namun, turun lagi. Sejak pandemi, memang banyak perusahaan “oleng”, bahkan tidak sedikit di antaranya gulung tikar.

Sebetulnya, wabah corona tidak bisa di kambing hitamkan, sebagai penyebab melemahnya keuangan perusahaan. Namun, dampak yang ditimbulkannya. Apalagi di awal pandemi, Pemerintah memutuskan masyarakat harus berdiam di rumah. Kantor-kantor Instansi baik Pemerintah maupun swasta, di tutup. Dan waktunya agak lama. Terakhir ini, rata-rata sudah terbuka, namun belum full.

Dampak dari kondisi tersebut. Perusahaan-perusahaan menurun pemasukannya. Dan tak hanya perusahaan besar, juga usaha-usaha kecil menengah. Akibatnya lagi, itulah yang membuat daya beli masyarakat melemah. Wabah pandemi belum mereda, meskipun sudah berjalan Sembilan. Masyarakat hanya mampu berharap, semoga wabah yang sudah menelan banyak korban ini, cepat mereda.(ANA)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Sah! STIE Nobel Jalin Kerja Sama dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda)

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia Makassar sepakat melaksanakan kerja sama dengan PT. Sulsel Citra Indonesia (Perseroda), senin 18...

Jasa Raharja Peduli Sasar Masyarakat Terdampak Covid-19 di Empat Lokasi Ini

FAJARPENDIDIKAN.co.id- PT. Jasa Raharja Cabang Sulawesi Selatan mengadakan giat pembagian sembako dengan mengusung tema “Pegawai dan Manajemen Jasa Raharja Berbagi Bantuan Donasi...

Peduli Gempa Sulbar, Sekolah Islam Athirah Galang Donasi

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Islam Athirah melalui Tim Athirah Peduli melakukan penggalangan donasi untuk korban terdampak gempa Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat,...

PBB Terbitkan Laporan Demografi; Populasi Laki-Laki Jauh Lebih Sedikit

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Baru-baru ini PBB menerbitkan laporang Demografi suku pertama 2019 yaitu manusia berjumlah 7.7 Milyar orang di planet bumi ini.

Opini : Potensi Unggul Generasi Terancam Demi Korporasi

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas...

REKOMENDASI