Sunday, September 20, 2020

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Gelar Fesival Tari Pakarena Turiolo dan Tunrung Rinci

FAJARPENDIDIKAN.co.id – Jika tidak ada aral melintang Kamis Siang hari ini (13/8/2020), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan Moh. Hasan Sijaya, S.H., M.H akan membuka kegiatan Festival Tari Pakarena Turiolo dan Tunrung Rinci se- Sulawesi Selatan Tahun 2020 yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan Ri ke-75.

Festival yang dijadwalkan akan berlangsung selam tiga hari 13-15 Agustus 2020 digagas oleh Kadis DPK Sulsel Hasan Sijaya yang mendapat dukungan dan respons positif dari Maestro Sinrili Syarifuddin Tutu. Tujuannya dalah dalam rangka melestarikan khasanah seni budaya Sulawesi Selatan, sebagai warisan peradaban yang syarat dengan nilai dan makna.

17 peserta dari berbagai sanggar seni yang ada di Sulawesi Selatan dipastikan akan hadir memeriahkan acara Festival yang baru pertama kalinya dilaksanakan di Sulsel ini. Kepastian 17 peserta dari berbagai sanggar seni yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini terungkap dalam acara technical meeting yang dilaksanakan oleh panitia beberapa hari lalu.
Pada acara technical meeting tersebut, panitia mengagendakan pembahasan teknis pelaksanaan kegiatan, namun ketika acara technical meeting baru dimulai beberapa peserta justru mempertanyakan apa latar belakang dan urgensi sehingga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan melaksanakan kegiatan seperti ini, yang notabene bernuansa seni.

Pihak panitia memberikan penjelasan bahwa perpustakaan saat ini telah bertransformasi. Melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang menjadi salah satu prioritas nasional untuk mendukung pembangunan manusia berkualitas dan berdaya saing. Dengan Transformasi ini, Perpustakaan bukan saja menjadi pusat ilmu pengetahuan tetapi saat ini perpustakaan juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat kebudayaan.

“Jadi paradigma perpustakaan saat ini sudah berubah. Perpustakaan tidak lagi hanya sekadar tempat untuk membaca dan meminjam buku saja, tetapi perpustakaan menjadi pusat informasi dan pusat pemberdayaan masyarakat. Masyarakat bisa melaksanakan kegiatan apa saja di perpustakaan, bisa berdiskusi, bisa seminar, pelatihan, dan sebagainya. Yang jelas tujuannya untuk meningkatkan kecerdasan dan kualitas SDM yang dapat menunjang peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, termasuk melalui kegiatan pengembangan dan pembinaan seni budaya seperti ini,” jelas Nazaruddin, S.Ag. M.Sos.I, salah seorang panitia yang juga adalah PIC Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Sulsel.

Panitia lainnya Drs. Muh. Syahrir Razak, M.AP, juga memberi penjelasan bahwa pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai bentuk perwujudan dari fungsi perpustakaan. Menurutnya fungsi Perpustakaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan adalah lima yaitu fungsi Pendidikan, Penelitian, Pelestarian, Informasi dan Rekreasi.

“Jadi Festival yang kita laksanakan saat ini adalah sebuah upaya pelestarian khususnya terhadap warisan peradaban kita, supaya dapat dikenal oleh masyarakat kita saat ini dan anak cucu kita di masa yang akan datang,” ujar Syahrir Razak yang juga adalah Kepala Seksi Deposit DPK Sulsel.

Sementara itu menurut panitia lainnya, Safaruddin, S.Sos., M.AP, Kegiatan ini baru merupakan langkah awal, yang proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatannya dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat.

“Kami diperintahkan Pak Kadis untuk melaksanakan kegiatan ini baru beberapa minggu lalu. Dan kami tidak ragu melaksanakan kegiatan ini karena ada maestro Syarifuddin Tutu yang mendampingi kami,” jelas Pria yang akrab disapa Safar, yang saat ini juga dipercaya sebagai Koordinator layanan Perpustakaan DPK Sulsel.

“Insya Allah ke depan, kegiatan Festival ini kita akan dikembangkan lagi, jenis kegiatan yang dilaksanakan bisa ditambah dan lebih beragam, sehingga pesertanya juga lebih banyak lagi,” imbuhnya. * (naz)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Awali Kepengurusan, LD Al-‘Aafiyah FKM Unhas Gelar Daurah Pengurus

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Lembaga Dakwah Al-'Aafiyah FKM Unhas melaksanakan daurah pengurus pada hari sabtu, 19 September 2020. Kegiatan ini dilaksanakan melalui  zoom cloud...

Kapolres Barru Serukan Pilkada Damai 2020, Di Takkalasi

Barru, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Barru AKBP Welly Abdillah, menyerukan Pemilukada Damai, saat menggelar kegiatan Sosialisasi Pilkada Damai 2020 dan...

Danyonmarhanlan VI Hadiri Rakor Pemilu dan Peningkatan Disiplin Protokol Kesehatan Pemkot Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Komandan Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan VI (Danyonmarhanlan VI) Letnan Kolonel Marinir Gigih Catur Pramono, S.H, M.T.r. Opsla menghadiri Rapat...

Sekolah Islam Athirah Berikan Penghargaan Guru dan Karyawan Berprestasi

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Islam Athirah kembali memberikan apresiasi kepada guru dan karyawan berprestasi. Pengumuman apresiasi bertajuk Human Capital Award 2020 itu dilaksanakan...

Luar Biasa, Guru TK Islam Athirah 2 ini Raih Penghargaan The Best Teacher

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Islam Athirah (SIA) menggelar kegiatan forum jumat pada hari Jumat, 18 September 2020. Kegiatan forum jumat kali ini berbeda...

REKOMENDASI