Hari Pendidikan, Mahasiswa Demo Tuntut Pemerataan Pendidikan di Bone

FAJAR Pendidikan

Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Arung Palakka menggelar aksi damai di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Bone, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Watampone, Kamis (2/5/2019).

Aksi damai tersebut dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di daerah yang berjuluk Bumi Arung Palakka.

Dalam aksinya, Mahasiswa dengan tegas menolak komersialisasi pendidikan di daerah yang dipimpin Bupati dua priode, Dr A Fahsar Mahding M Padjalangi. Selain itu, diantaranya menuntut pemerataan pendidikan karena masih ada kesenjangan di sejumlah sekolah di pelosok, misalnya bangunan sekolah.

Padahal, diantara visi Bupati Bone A Fahsar M Padjalangi adalah sejahtera. Visi ini mengandung makna semakin meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar yang berkelanjutan dalam berbagai aspeknya, diantaranya pendidikan. Mewujudkan visi tersebut, ditetapkan misi, salah satunya meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan pendidikan di Bumi Arung Palakka.

BACA JUGA :   IKAJOSS Sukses Menggelar Fun Bike Makassar 2022 dan Penyerahan Bibit Pohon

Visi-misi Bupati dua priode tersebut khususnya aspek pendidikan yang merata dan berkualitas belum sepenuhnya dirasakan di sejumlah sekolah. Malah terlihat timpang, diantaranya seperti yang terpantau dan telah diwartakan media ini di Sekolah Dasar (SD) Inp 12/79 Tea Musu desa Tea Musu, Kecamatan Ulaweng, Bone. Fasilitas pendidikan untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Bone yang cerdas di sekolah ini masih jauh dari kata layak.

Betapa tidak, sekolah yang difungsikan sejak tahun 1999 tersebut hingga saat ini masih belum terealisasi bantuan pembangunan RKBnya. Akibatnya, murid sebagai generasi penerus bangsa harus rela belajar dengan kondisi ruang kelas yang sempit, berdebu dan berlantai tanah.

Tak sampai disitu, kondisi bangunan sekolah yang retak juga mengancam keselamatan para murid dan guru, mewakili kondisi sekolah lain yang senasib. Pemandangan miris ini jelas kontras dengan sejumlah sekolah di perkotaan dan desa lainnya yang sudah terbilang memadai.

BACA JUGA :   MUI Sulsel Ajak Muballigh Giatkan Dakwah Digital

Kepala Sekolah SD Inp12/79 Tea Musu, Musa Padman SPd MM mengatakan, kondisi sekolah yang dipimpinnya, jauh sebelum dirinya sebagai Kepsek memang sudah sangat memprihatinkan. Berbagai upaya perawatan sekolah seadanya pun terus dilakukan hingga upaya pembebasan lahan.

Diakuinya pula, sekolah yang dipimpinnya sudah pernah didata untuk mendapatkan bantuan, namun dialihkan lantaran masalah pembebasan lahan.

“Saat ini lahan sudah siap untuk dibanguni ruang kelas, sudah tidak ada kendala lahan (sudah pembebasan lahan),” kata Musa kepada FAJAR PENDIDIKAN, beberapa waktu lalu.

Musa berharap bantuan bangunan untuk sekolahnya bisa terealisasi tahun 2019 ini. Agar para murid dapat belajar dengan fasilitas sekolah yang layak.

Sebagaimana diketahui, sekolah ini terdiri dari tiga ruang kelas. Tiap ruang dikasi pembatas untuk dijadikan enam ruangan belajar karena murid ada enam rombel.

Reporter: Abustan

Bagikan:

REKOMENDASI UNTUK ANDA