Istigfar Sembuhkan Penyakit dan Menghilangkan Azab

Ada pepatah yang mengatakan, “Usaha tanpa doa, nihil”. Demikian sebaliknya, “doa tanpa usaha, juga nihil”.

Artinya, dua duanya yang hendaknya dilakukan. Kita bisa melihat contoh, dengan kehidupan ulama yang mulus. Karena mengamalkan keduanya, dengan memberikan ceramah ceramah, tausiah tausiah, kehidupannya berjalan mulus, karena dengan usaha, terkandung doa pula di dalamnya. Serta melekat terus istigfharnya, tahmid dan tasbihnya, serta zikir zikirnya.

Rasulullah SAW saja sudah dijamin masuk surga, tetap saja selalu berdoa, istigfhar dan berzikir. Apalagi kita yang manusia biasa, bukan pilihan.

- Iklan -
Baca Juga:  Peristiwa Isra Miraj, 27 Rajab, Rasulullah SAW Bertemu Allah SWT

Rasulullah SAW terbiasa beristigfhar 100 kali dalam sehari. “Demi Allah sungguh aku memohon ampun kepada Allah 70 kali dalam sehari’.

Abdullah bin Umar meriwayatkan , Rasulullah terbiada beristigfhar 100 kali dalam sehari. Menurut Syeikh Abdul Rahman Al Barrak, istigfhar adalah bentuk rebdah hati, dan butuhnya seirang hamba pada Tuhabnya.

Obat Penyakit

- Iklan -

Suatu kali Rabi’ bin Khursam ditanya oleh seseorang, “apa itu penyakit dan apa obatnya, dan apa tanda kesembuhannya ?

Rabi’ menjawab, penyakit adalah dosa dosa, dan obatbya adalah istigfhar, dan tanda kesembuhannya, adalah ketika bertobat dan tak akan mengulanginya lagi. (Hilyatul Aulia).

Baca Juga:  Ahmad Ghazali: 9 Semboyan Filsafat Wali Songo dalam Berdakwah (24)

Hidup mulus jika ustigfhar tulus. Azab diangkat dari bencana. Dan bencana tak akan melekat.

- Iklan -

Suatu hari Syaikhul Islam Ibu Taimuyah pun menasehati, “sungguh istigfhar itu, menghapus dosa dosa dan menghilangkan axab. Kemudian beliau membaca sebuah ayat, ” Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih ) beristigfgar”. (QS. Al Anfal :33). (Shahih Bukhari, Hilyatul Auliya/ana)

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU