Komunitas Forum Lingkar Pena; Setia Menemani Dunia Perbukuan

FAJAR Pendidikan

Komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) menjadi lokomotif bagi ribuan penulis-penulis muda, pembaca karya anak bangsa, juga pecinta dunia literasi.

Oleh: AHADRI

Gerakan ini dibentuk tahun 1998 oleh beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (UI), diantaranya Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Hingga kini, FLP setia menemani dunia perbukuan Indonesia dengan karya-karya yang khas.

Andi Batara Al Isra yang merupakan Koordinator Divisi Kaderisasi FLP Sulawesi Selatan (Sulsel) mengatakan, komunitas ini dibentuk sebagai sebuah aksi untuk melahirkan tulisan-tulisan alternatif yang mendidik dan mencerahkan.

“Komunitas FLP sebagai gerakan untuk melahirkan karya-karya tulisan alternatif yang mendidik dan mencerahkan. Sebab pada waktu itu, banyak sekali tulisan-tulisan bergenre sastra ‘Selangkangan’ yang dinilai kurang mendidik,” ungkapnya kepada FAJAR PENDIDIKAN, Selasa (11/12/2018).

Menurutnya, tulisan yang kurang mendidik, terutama persoalan moral dan budaya kita. “Sebagai seorang penikmat sastra, saya akui baca segala jenis karya sastra tapi kita ambil sisi lainnya, misalnya teknik penulisan konfliknya, tokohnya, dan lain-lain. Tapi kalau orang awam baca kan gimana. Apalagi kalau anak-anak,” ujarnya.

BACA JUGA :   Komunitas 1000 Guru, Traveling Sambil Menabur Kebaikan

Batara menjelaskan, Komunitas Forum Lingkar lebih fokus kepada bidang literasi, dengan berkegiatan mengadakan sekolah menulis, seminar kepenulisan, workshop kepenulisan menerbitkan buku. Selain itu, karya-karya kader FLP sudah banyak dari segala genre, dimulai cerpen, puisi, esai, buku anak, hingga novel.

“Bahkan kami pernah dipercaya untuk memberikan pelatihan kepenulisan bagi warga di rutan kelas 1 Makassar selama beberapa pertemuan. Mengenai buku yang diterbitkan, banyak kader yang sudah menerbitkan buku. Selain diterbitkan indie, ada juga diterbitkan mayor,” tambahnya.

Jadi, sambungnya, usia FLP sebagai sebuah organisasi sudah 20 tahun lebih. Saat ini, secara struktural, pusat FLP berada di Jakarta. “Namun kini telah banyak kepengurusan wilayah cabang bahkan di ranting. Kepengurusan wilayah di tingkat provinsi, kepengurusan cabang itu tingkat kabupaten/kota. Sementara tingkat ranting di wilayah kampus,” katanya.

BACA JUGA :   Lego-lego Institute Makassar; Lahir dari Sebuah Keresahan

Dia melanjutkan, FLP dikritik sebagai pabrik penulis produktif namun minim kualitas. Hal tersebut, bisa jadi berawal dari latar belakang mayoritas anggota FLP yang merupakan penulis pemula, berusia muda bahkan juga anak-anak.

“Mereka berusaha mengekspresikan ide-ide yang mengendap di kepala, lalu memvisualisasikan ke dalam kata-kata. Proses belajar ini, sebagian diawali dari bekal yang sangat minim. Itulah yang menyebabkan karya-karya anggota FLP mungkin masih perlu banyak perbaikan. Meskipun begitu, harus diakui, sebagian karya anggota FLP juga ada yang mendapatkan penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional,” tukasnya.

Dikatakannya, melihat Sulawesi Selatan sendiri sekarang, geliat sastra sudah mencapai puncaknya yang sangat dinamis. Banyak penulis di Sulsel yang karyanya diakui nasional, seperti Aan Mansyur, Faisal Oddang dan lain-lain. “Kalau dari FLP sendiri, ada Gegge Mappangewa, Fitrawan Umar, Baharuddin Iskandar. Karena waktunya Sulsel bangkit giat literasinya,” tutupnya. (*)

REKOMENDASI UNTUK ANDA