Tuesday, November 24, 2020

Mengenal Kadedemes, Kuliner Unik Khas Sumedang yang Terbuat dari Kulit Singkong

FAJARPENDIDIKAN.co.id – Selama ini Sumedang dikenal dengan kuliner tahunya yang otentik sekaligus melegenda. Namun, siapa sangka jika kota yang berada di kawasan pegunungan ini ternyata menyimpan kuliner yang unik berbahan kulit singkong.

Kuliner bernama Kadedemes ini ternyata sudah lama ada dan sangat identik dengan kota dengan ikon tahu goreng tersebut.

Berawal Dari Sisa Singkong yang Tak Terpakai

kadedemes khas sumedang

Kulit Singkong yang tak terpakai digunakan untuk membuat kadedemes

Dilansir dari tempatwisataindonesia.id, Kadedemes berasal dari kulit ketela atau ubi kayu yang tidak terpakai dan sayang untuk dibuang, dan hanya digunakan sebagai pakan hewan ternak seperti sapi atau kambing peliharaan warga setempat.

Namun, jika dikutip dari sejarah yang mengacu pada kamus besar Basa Sunda, karangan Raden Satjadibrata, masyarakat Sumedang tidak serta merta menemukan kuliner unik ini.

Pada kamus tersebut tertulis bahwa orang Sunda pada masa itu selalu merasa sayang pada barang yang dibuang oleh orang lain, (ngarasa lebar kubarang anu ku baturmah biasa tara diarah). Sehingga lebih baik dimanfaatkan untuk diolah menjadi santapan masyarakat setempat, melansir dari Notif.id.

Mengandung Banyak Kandungan Gizi

kadedemes khas sumedang

Walaupun terbuat dari bagian dalam kulit singkong yang tak terpakai, namun Kadedemes sangat kaya akan protein yang berguna bagi tubuh seperti, gizi, sumber karbohidrat dan juga sebagai sumber kalori yang memiliki kandungan vit B, vit C, tanin dan amilum dalam kadar yang cukup tinggi.

Menggugah Selera

kadedemes khas sumedang

Kuliner ini biasanya diolah menjadi sajian yang menggugah selera berupa oseng-oseng pedas, dengan irisan cabai merah, cabai rawit dan cabai hijau yang makin memperkaya rasa dan sangat cocok dengan wilayah pegunungan.

Kadedemes sangat cocok disajikan saat masih hangat dengan menambahkan nasi panas yang makin membuat lidah kita bergoyang ketika menikmati pedas gurih dari kuliner yang mengandung sumber protein tersebut. (WLD/*)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

UKM UIN Alauddin Terima Bantuan Penguatan Kearifan Lokal dari Kemensos RI

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial memberikan bantuan penguatan kearifan lokal kepada dua Unit Kegiatan...

Tetap Produktif, Mahasiswa Departemen K3 FKM Unhas Selesaikan Magang di 20 Perusahaan

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Magang industri merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) FKM Unhas. Selasa (24/11/2020) telah...

IKAPTK Gowa Siap Gelar Kongres

Gowa, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Kabupaten Gowa siap gelar Kongres dalam rangka pemilihan Ketua dan jajaran pengurus...

40 Persen Siswa SD Bajeng Telah Miliki Buku Rekening

Gowa, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Bajeng, HM Amir menyampaikan bahwa sudah 40 persen dari jumlah 6.520 siswa Sekolah Dasar...

Pengurus PGRI Ranting Gugus V Kecamatan Manggala Terbentuk

FAJARPENDIDIKAN.co.id - PGRI Ranting Gugus V Kecamatan Manggala, kini punya pengurus. Pembentukan pengurus PGRI Ranting Gugus V itu diadakan di SD Negeri...

REKOMENDASI