Rabu, Januari 20, 2021

Panjat Pinang, Peninggalan Kolonial yang Terancam Jadi Kenangan

Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, masyarakat menggelar beragam perlombaan.

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Salah satu perlombaan yang khas menjelang 17 Agustus adalah panjat pinang. Perlombaan ini melibatkan sejumlah orang, dengan menggunakan batang pohon pinang yang di tanam di tanah dan dilumuri pelicin.

Ujung batang pinang diberi tempat untuk menggantungkan beragam hadiah yang bisa diambil para peserta.

Konon, perlombaan panjat pinang disebut merupakan peninggalan kolonial Belanda. Dahulu panjat pinang digunakan sebagai acara hiburan kaum kolonial. Panjat pinang sering diadakan di acara-acara penting seperti hajatan, hari libur nasional, atau hri ulang tahun tokoh penting Belanda.

Tradisi memberi pelicin di batang pohon pinang pun telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dahulu, peserta dalam satu tim juga berlomba, agar berhasil memanjat dan mengambil hadiah yang digantung.

Kala itu, hadiah yang digantung di atas batang pinang meliputi bahan pokok seperti makanan, tepung, gula, hingga pakaian.

Terancam jadi kenangan

Pohon pinang sirih (Areca catechu) merupakan jenis yang dipilih sebagai bahan baku tiang lomba panjat-memanjat. Alasannya, karena memiliki kualitas bagus, batangnya lurus dan tinggi, serta lingkarannya sempurna.

Setelah kulitnya dikupas, batang pohon pinang sirih menjadi benar-benar licin dan mulus. Ruas-ruas yang ada pada batang pinang sirih mudah diratakan dengan serutan atau amplas.

Pohon Pinang.

Ke depan, perlombaan panjat pinang terancam menjadi sebuah kenangan, lantaran pohon pinang semakin jarang.

Usaha peremajaan dan pembudidayaan pohon pinang saat ini belum cukup mendapatkan perhatian. Padahal, pertumbuhan pohon pinang relatif lambat. Pohon pinang baru layak ditebang untuk keperluan perlombaan setelah berusia 30 tahun.

Hanya dari batang pohon pinang setua itu yang disebut bisa ideal untuk tiang lomba panjat pinang, ukurannya yakni tinggi antara 8 hingga 12 meter dan diameter sekitar 43 hingga 60 cm.

Kelangkaan pohon pinang itu juga diperparah dengan keengganan petani meremajakan jenis pohon tersebut. Menanam pohon pinang dianggap sebagian petani tak ekonomis.

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Istri Bupati Barru Hasnah Syam Berikan Bantuan Para Korban Gempa Sulbar yang Mengunsi di Barru

Barru, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Memegang amanah sebagai "Istri Kepala Daerah" sekaligus "Tokoh Nasional" merupakan dua anugerah yang dapat memberi manfaat besar bagi sebanyak...

Sah! STIE Nobel Jalin Kerja Sama dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda)

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia Makassar sepakat melaksanakan kerja sama dengan PT. Sulsel Citra Indonesia (Perseroda), senin 18...

Jasa Raharja Peduli Sasar Masyarakat Terdampak Covid-19 di Empat Lokasi Ini

FAJARPENDIDIKAN.co.id- PT. Jasa Raharja Cabang Sulawesi Selatan mengadakan giat pembagian sembako dengan mengusung tema “Pegawai dan Manajemen Jasa Raharja Berbagi Bantuan Donasi...

Peduli Gempa Sulbar, Sekolah Islam Athirah Galang Donasi

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Sekolah Islam Athirah melalui Tim Athirah Peduli melakukan penggalangan donasi untuk korban terdampak gempa Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat,...

PBB Terbitkan Laporan Demografi; Populasi Laki-Laki Jauh Lebih Sedikit

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Baru-baru ini PBB menerbitkan laporang Demografi suku pertama 2019 yaitu manusia berjumlah 7.7 Milyar orang di planet bumi ini.

REKOMENDASI