ADV A1

Suara Pelajar Coronial

Penulis: Ratdew Shinta Sulistyo

FAJAR Pendidikan

Selama sekitar dua setengah tahun terakhir, di tengah wabah Covid-19, kosakata seperti daring, luring, online, dan offline sering digunakan dalam percakapan mahasiswa sehari- hari. Kegiatan warga kampus juga banyak yang beralih ke media seperti zoom dan gmeet.

Sebagai orang yang introvert (tertutup), saya merasa bahwa masa ini adalah zona nyaman, sangat nyaman malah. Di masa ini, saya bisa menjauh dari kecanggungan yang melanda saat kumpul bersama teman seangkatan sehabis kuliah, pandangan aneh orang-orang karena lelucon saya yang tidak relate dengan kehidupan mereka, kebosanan lawan bicara saat saya m elontarkan kata-kata yang sama seperti ya, ya, dan ya saat diajak teman ngobrol karena saya tidak pandai bersosialisasi.

Pada masa ini, saya lebih aktif berinteraksi dengan para dosen karena saya tidak perlu berbicara dengan keras atau berteriak agar Pak Dosen mendengar saya. Saya merasa sangat buruk ketika berbicara pelan, apalagi harus berteriak, lebih baik tidak saya lakukan. Tetapi, itu akan membuat saya tidak puas saat melihat IP saya. Dengan kuliah daring, saya hanya perlu membuka microphone dan berbicara tanpa harus berteriak dan melihat Pak Dosen menghampiri saya hanya untuk mendengar suara saya. Entah benar atau tidak, saya merasa hal ini mempengaruhi IP saya, saya lebih puas.

Kuliah daring juga memudahkan saya dalam menulis materi yang disampaikan dosen. Saya sangat bersyukur bisa hidup di abad ini dan mempunyai laptop. Catatan materi yang saya ketik di laptop jauh lebih rapi, awet, dan mudah dibaca dibandingkan jika saya menulisnya di kertas. Meja pada ruang kelas ketika kuliah luring kurang mendukung saya untuk sekedar membuka laptop kesayangan saya.

BACA JUGA :   Aku Belajar Merdeka di Masa Pandemi Covid-19

Pada saat UTS dan UAS, kuliah daring menawarkan tekanan yang lebih rendah. Tidak ada ketegangan dan baju yang kaku. Saya tidak harus melakukan perjalanan motor selama 30 menit sebelum memulai ujian dan memakai kemeja dan sepatu yang bau polusi. Rasanya sangat nyaman untuk mengerjakan ulangan di ruang yang tailor- made, kamar sendiri.

Bagaimanapun juga, disamping kenyamanan-kenyamanan yang saya dapatkan, saya merasa jenuh. Sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial, saya ingin pergi keluar rumah dan bertemu manusia-manusia lain. Saya ingin bisa berbicara dengan lancar tanpa rasa canggung, setidaknya 23% seperti Tante Lala.

Saya ingin bertemu teman-teman sekelas saya di kelas luring walaupun mereka tidak dekat dengan saya, saya yakin saya akan mengenang suasana itu. Lagipula, saya bisa membuat catatan materi di ponsel saya dan memindahkannya ke laptop saya. Perjalanan motor selama 30 menit sebelum ujian dan pakaian yang bau asap? Itulah tantangan hidup, tidak seburuk itu.

Pada masa pandemi ini, saya pun rasakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar tidak efektif dan membuat akses untuk menempuh pengetahuan menjadi terhambat. Para lulusan yang lulus pada masa pandemi ini dijuluki lulusan corona. Mereka spesial karena sistem belajar mereka beda daripada lulusan sebelum pandemi ini berjalan.

BACA JUGA :   Teriakan Mental Pelajar Akan Kemiskinan Interaksi Sosial

Banyak orang yang meremehkan lulusan corona karena banyak asumsi negatif terkait mereka menempuh pendidikan mereka. Orang-orang berpikiran mereka tidak mendengar kuliah dosen karena mereka bisa mematikan kamera saat pembelajaran, mereka akan lulus sejelek apapun nilainya karena sesuai kebijakan menteri, mereka tidak akan tinggal kelas, orang tua mereka membayar sekolah mereka tapi mereka hanya di rumah.

Saya akui, saya pernah melakukan yang pertama, mematikan kamera zoom saat kuliah daring lalu tidur. Saya sangat menyesal pernah melakukan itu. Dan ya, lulusan corona memang benar adanya. Bagaimana jika seorang dokter muda yang baru lulus menghadapi pasien yang penyakitnya diterangkan oleh dosen yang kuliahnya dulu ia tinggal tidur? Apa yang akan dia lakukan? Sangat konyol.

Ini sudah sangat lama, sudah dua tahun lebih. Saya merasa sangat nyaman tapi saya butuh tantangan. Saya ingin merasakan kecanggungan-kecanggungan itu lagi, itu menyenangkan dan lucu. Saya menjadi orang yang lebih baik karena itu. Saya ingin melihat dunia luar dan bertemu orang-orang baru yang hebat. Dan ya, saya ingin pandemi ini segera berakhir walaupun akhirnya saya akan capek karena banyaknya perjalanan motor.

Saya ingin merasakan indahnya dunia sambil bernafas dengan bebas tanpa menggunakan masker!

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI