Tangisan Khadijah

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang berdakwah, Khadijah cepat-cepat mau berdiri di depan pintu, ingin menyambut Rasulullah. Namun Rasulullah berucap, “Wahai Khadijah, tetaplah kau di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusukan sang bayi Fatimah. Saat itu keluarga terkasih Allah itu, sudah dalam kondisi, dimana harta kekayaannya telah habis. Bahkan seringkali pun kesulitan.makanan.Sehingga bila Fatimah menyusui, terkadang bukan lagi air susu Khadijah yang keluar, tetapi darah.

Rasulullah pun masuk tanpa dijemput sang isteri, dan langsung mengambil Fatimah dan menggendongnya lalu meletakkan di tempat tidur.

- Iklan -

Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah, dan mendapatkan caci maki dan fitnah, lalu berbaring di pangkuan sang isteri hingga tertidur.

Sambil membelai kepala Rasulullah, air mata Khadijah menetes, hingga membasahi pipi Rasulullah. Hingga tiba-tiba Rasulullah terbangun. “Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah.

Baca Juga:  Kisah Nabi Ibrahim Bersama Sarah

Rasulullah melanjutkan. “Dahulu engkau wanita bangsawan. Wanita mulia hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhimu. Seluruh hartamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanyanya lagi.

- Iklan -

Diserahkan untuk Allah dan Rasul

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. bukan itu yang kutangisi. Dahulu aku memiliki kemuliaan. Namun kemuliaan.itu, telah aku serahkan untuk Allah dan.RasulNya”.

Khadijah melanjutkan. “Dahulu aku bangsawan. Kebangsawanan itu juga kuserahkan kepada Allah dan.RasulNya. Dahulu aku memiliki.harta kekeyaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan.kepada Allah dan RasulNya”.

- Iklan -

Khadijah belum berhenti. “Wahai Raaukullah, sekadang aku tak punya apa apa lagi.Tetapi engkau masih.terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati, sedangkan perjuabganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang belulangku, jadikanlah sebagai jembatan unruk menyeberangi sungai itu, supaya engkau bisa berjumpa dengan.manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

Baca Juga:  Renungan Harian Kristen, Senin, 17 Juni 2024: Tabiat Tidak Suka Mengkritik

Khadijah lalu berpesan, “Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, ingatkan.mereka tentang yang hak, ajak mereka.kepada Islam wahai Rasulullah”.

Rasulullah sedih mendengarkan ucapan-ucapan Khadijah. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membabtuku”, ucap Rasulullah dengan nada tanya. Tanpa disangka, Ali bin Abi Thalib langsung menjawabnya, “Saya”. Ali kemudian mebjadi menantu Rasulullah. (bersambung/ana)

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU