ADV A1

Asa Menggapai Bintang

FAJAR Pendidikan

Di antara sekian banyak guru yang pernah mengajarku, Pak Karjo adalah guru yang meninggalkan kesan sangat mendalam bagiku. Ketika itu beliau mengajar para siswa SD kelas IV. Orangnya rajin, rapi, berdisiplin, dan humoristis.

Beliau suka bermain sulap dengan memainkan gerakan ’ajaib’ yang mengesankan, jempolnya terlihat seolah-olah putus. Beliau juga bisa menggerak-gerakkan daun telinganya. Seluruh kelas dipenuhi gemuruh tawa dan tepuk tangan siswa bila Pak Karjo melakukan atraksinya yang mengagumkan itu.

Selingan atau intermeso seperti inilah yang disukai para siswa, termasuk aku, sehingga pelajaran tidak terasa membosankan. Tak mengherankan, bila para siswa selalu bergairah ketika diajar oleh Pak Karjo.

Suatu saat seorang siswa bernama Fendi – siswa yang sangat pendiam dan tak bisa bergaul akrab dengan teman-temannya – diminta untuk maju ke depan kelas untuk melakukan story-telling dengan tema bebas – sebuah mata pelajaran yang disukai banyak siswa.

Ketika nama Fendi disebutkan, terdengar celotehan ”pincang, pincang” dari sejumlah siswa. Pak Karjo sadar bahwa celotehan itu adalah pertanda meremehkan. Akan tetapi, beliau dengan wajah tersenyum memandang Fendi yang berjalan ke depan dengan langkah pincang.

Fendi menceritakan kisahnya membantu ibunya berjualan pisang goreng dengan suara terbata-bata dan bahasa yang tak teratur. Suatu saat, ketika membantu ibunya menjajakan pisang goreng, dirinya tertabrak sepeda motor yang ngebut. Petaka inilah yang membuatnya pincang.

Usai Fendi bercerita, tangan Pak Karjo mengusap pundak Fendi dan mengatakan, ”Nanti seusai bel pulang, kamu menghadap saya, ya?”

”Ya, Pak,” sahut Fendi dengan wajah menunduk dan hampir menangis.

Banyak siswa beranggapan bahwa Fendi akan menerima hukuman atau dampratan menjelang pulang sekolah. Akan tetapi, Pak Karjo bukanlah guru dengan karakter seperti itu.

Di kantor guru, Pak Karjo memberikan sehelai kertas catatan kepada Fendi untuk dibaca dan dipelajari di rumah. Aku mulanya tak tahu tentang hal itu. Selang dua bulan kemudian Fendi bercerita kepadaku kalau dia diberi catatan oleh Pak Karjo untuk dipelajari di rumah. Catatan itu berisi hal-hal penting yang akan diajarkan di kelas seminggu kemudian.

Pak Karjo percaya bahwa sesungguhnya tidak ada siswa yang bodoh; yang ada adalah siswa malas atau tak mampu mengatur waktu untuk belajar. Beliau lalu minta keterangan dari guru kelas I, II, dan III tentang perkembangan Fendi selama belajar di kelas-kelas tersebut.

Catatan guru kelas I mencantumkan, ”Fendi adalah siswa yang sangat cemerlang, cerdas dalam menjawab pertanyaan. Siswa ini sangat ceria dan pandai bergaul dengan teman- temannya. Pekerjaan rumah selalu dikerjakannya dengan rapi dan benar. Fendi patut menjadi siswa teladan di kelas.”

Sementara, guru kelas II memberikan catatan, ”Fendi adalah siswa yang sangat baik dan rajin, tetapi sejak ayahnya meninggal, dia berubah menjadi siswa yang bandel dan malas. Kadang-kadang dia tak mau berbicara sepatah kata pun, kadang-kadang dia membuat suasana kelas menjadi kacau. Fendi menjadi anak yang moody.”

Sedangkan guru kelas III memberikan masukan, ”Kematian ayah tercinta, membuat Fendi terpukul berat. Dia kehilangan pegangan hidup dan tokoh panutan. Kini ibunya yang menjadi tulang punggung bagi keluarga dengan berjualan pisang goreng. Sang ibu sudah tak sanggup lagi memberikan perhatian yang cukup bagi tumbuh kembang dan pendidikan anaknya. Itu sebabnya Fendi sering berpakaian lusuh, tidak mandi, acuh tak acuh, dan sering tertidur di dalam kelas. Sangat mengkhawatirkan. Bebannya semakin berat dengan kecelakaan yang membuatnya pincang.”

Sepasang mata Pak Karjo tampak berkaca-kaca seusai membaca ketiga catatan tersebut. Sejak awal beliau sudah yakin bahwa Fendi sebenarnya anak baik. Pak Karjo berjanji pada dirinya untuk mendidik Fendi lebih baik lagi. ”Aku harus bisa mendidiknya dengan baik!” bisik Pak Karjo dalam hati.

Sejak saat itu, menjelang pulang sekolah, Pak Karjo selalu memberikan catatan penting kepada Fendi untuk dibaca dan dipelajari dengan tekun di rumah.

Hal itu berlangsung selama kurang-lebih dua bulan. Kemajuan setahap demi setahap mulai tampak. Fendi mulai bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Nilai-nilai ulangannya pun meningkat. Rasa percaya dirinya mulai pulih, dan tak ada lagi siswa yang suka mengejeknya.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

Angsa Merah

Panggung Arwah

Elgarion

Berawal dari Halte

Ada Apa Denganku?

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI