Tuesday, July 7, 2020

Benarkah Internet Melemahkan Kemampuan Berpikir ?

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Nicholas Carr dilanda kekhawatiran akut. Selama bertahun-tahun, ia kerap merasa ada sesuatu atau sesorang yang bermain-main dengan otaknya, bahkan mengubah aliran syarafnya dan memprogram ulang memorinya.

Dalam sebuah program berjudul Is Google Making Us Stupid? Carr merinci kekalutannyha itu. Menurutnya pikirannya tidak pergi kemana-mana melainkan sedang berubah. Carr merasa dia tidak lagi berpikir sebagaimana biasanya. Ia merasakan ada yang berubah.

“Saya dapat merasakannya saat saya membaca. Sebelumnya, membaca artikel panjang rasanya sangat mudah. Saya menyelam dalam narasi atau perdebatan argumen dan pada akhirnya saya akan menghabiskan berjam-jam berjalan-jalan melalui prosa panjang yang membentang,” ujar Carr.

Namun, sekarang konsentrasi Car mulai mengambang setelah malahp dua atau tiga halaman buku. Semakin lama membaca, Carr makin mudah kehilangan benang merah. Lebih buruk lagi ia mudah berpikir mencari aktifitas lain untuk dilakukan saat sedang membaca.

” Saya merasa seolah-olah saya selalu harus menyeret otak kembali kedalam teks. Membaca secara mendalam yang biasa saya lakukan dulu. Sekarang amat sulit unruk dilakukan,” ungkapnya.

Carr lantas menduga perubahan itu sebagai akibat aktivitasnya beberapa tahun kebelakang. Salah satu aktifitas yang intens dilakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah mencari informasi, berselancar sekaligus menambahkan database melalui internet.

Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh seorang blogger bernama Bruce Friedman.”Saya sekarang hampir kehilangan kemampuan membaca dan menyerap artikel panjang di situs web atau media cetak,” tulis Friedman dalam blognya.

Psikolog perkembangan di Tuts University, Maryanne Wolf khawatir gaya membaca yang dopormosikan/dilahirkan oleh internet memperlemah kapasitas manusia untuk memahami bacaan yang dalam.

Menurut Wolf, ketika sesorang membaca secara online, dia cebderung hanya menjadi “Dekoder informasi”. Akhirnya kemampuan untuk menafsirkan teks, serta membuat koneksi mental yang terbentuk saat membaca secara mendalam perlahan-lahan menyusut. (JvK)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Tiga Peserta UTBK Berkebutuhan Khusus Ikut Ujian di UNM Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Tiga peserta Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) dengan berkebutuhan khusus mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)...

Pendaftaran UMPTKIN 2020 Ditutup, UIN Alauddin Peringkat Pertama Kampus Paling Diminati

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2020 telah resmi ditutup pada Minggu (5/7/2020). Dari...

Pustakawan dan Organisasinya

REFLEKSI HUT IPI KE 47 | 7 JULI 1973 -  7 JULI 2020Oleh: Tulus Wulan Juni (Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar)

Dosen Unhas Segera Lakukan Rapid Test, Berikut Jadwalnya

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Upaya melakukan pemutusan rantai penularan Covid-19, sebanyak 1.652 dosen Universitas Hasanuddin dari seluruh fakultas dan program studi akan segera...

Dear Mahasiswa, Ini Syarat Penerima Bantuan Keringanan Biaya Kuliah di Masa Pandemi

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemerintah mengeluarkan aturan keringanan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terkena dampak Covid-19. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun...

REKOMENDASI