Sunday, July 5, 2020

Dirjen GTK: Ketuntasan Kurikulum Tidak Perlu Dipaksakan di Masa Pandemi Covid-19

Jakarta, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Pendidikan dalam masa pandemi Covid-19, guru tidak perlu fokus pada penuntasan kurikulum.

Pembelajaran yang diberikan guru harus menyesuaikan dengan kemampuan murid dan hal ini menjadi poin utama saat penyesuaian kurikulum.

Ini akan jadi sebuah catatan, kurikulum tidak perlu dituntaskan dan jangan dipaksakan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril pada saat Bincang Sore Pendidikan dan Kebudayaan secara virtual, di Jakarta, pada Selasa (16/06/2020).

Ia mengatakan, konteks kurikulum ada dua yakni dari murid dan guru. Dalam hal ini, relasi kurikulum dengan kebutuhan siswa harus selalu terjadi dan aktif, maka pada situasi Covid-19 kurikulum menjadi sebuah hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan.

“Jadi kurikulum apa pun yang disederhanakan atau tidak, tetap saja seorang pendidik harus selalu berinteraksi sehingga pembelajaran harus disesuaikan dengan konteks sekolah dan murid berada,” ujarnya.

Menurutnya, interaksi yang dinamis antara guru dan siswa tetap dibutuhkan karena interaksi ini tidak dapat berjalan sendiri.

Oleh karena itu, kata Iwan perlu bantuan dari komunitas seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk berdiskusi agar mendapat ide baru dalam menjalankan pembelajaran di era pandemi.

“Dengan demikian, guru mendapat ide baru untuk dapat menerjemahkan ide-ide materi dalam pembelajaran,” ungkapnya.

Iwan juga mengatakan dalam menentukan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ), para guru harus menggunakan asesmen atau penilaian, misalnya untuk siswa kelas empat sebelum memasuki materi guru dapat mengulangi terlebih dahulu materi kelas sebelumnya sehingga akan membantu guru dalam mengajar sesuai dengan kondisi anak.

“Asesmen ini dilakukan agar para guru dapat melihat kondisi tahun ajaran baru ini, kemampuan siswa ada di level mana, dan para guru perlu menjemputnya. Ini perlu diferensiasi, jadi asesmen bisa simpel. Materi kelas sebelumnya bisa digunakan untuk tes kondisi murid seperti apa,” katanya.(*)

Sumber: SIARAN PERS Nomor: 140/sipres/A6/VI/2020, kemdikbud.go.id

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Dituding Sebar Hoaks, Humas UIN Akan Laporkan Mahasiswa

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Humas UIN Alauddin Makassar membantah telah menyebarkan hoaks dalam rilis resmi yang beredar terkait pertemuan pimpinan dan lembaga kemahasiswaan, Rabu...

Di Gladak KRI Diponegoro-365, Danguspurla Koarmada II Serahkan Alkes Mabes TNI Kepada Danlantamal VI

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmada II Laksamana Pertama TNI Rahmat Eko Rahardjo, M.Tr. (Han), CHRMP., menyerahkan Alat Kesehatan...

Galakkan Operasi Aman Nusa, Yon C Pelopor Kelilingi Pusat Perbelanjaan

Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Mengenakan pakaian seragam lengkap dengan senjata, regu Patroli Aman Nusa Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, tampak menyambangi dan...

OPINI : Tidak Sense of Crisis, Cacat Bawaan Pemerintah Kapitalistik

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri membuat kebijakan luar biasa (extraordinary) untuk menangani krisis akibat pandemi Covid-19. Jika para...

Pos TNI AL Torobulu Amankan Puluhan Gas Elpiji 3 Kg Bersubsidi Di Pelabuhan Penyeberangan

Konawe Selatan, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Pos TNI AL (Posal) Torobulu jajaran Lanal Kendari berhasil amankan puluhan gas elpiji 3 Kg bersubsidi di Pelabuhan...

REKOMENDASI