Senin, Desember 6, 2021

Disdik Makassar Siapkan Kurikulum Khusus Pembelajaran Daring

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id- Pelaksanaan pembelajaran tatap muka tak kunjung digelar. Penyebabnya, angka kasus positif angka Covid-19 di Indonesia yang masih berfluktuasi.

Dinas Pendidikan (Disdik) Makassar pun berinisiatif untuk menyusun kurikulum khusus yang akan diterapkan pada pembelajaran daring.

“Kita akan buat kurikulum, kurikulum K-13 ini pasti berubah dengan adanya pandemi ini, jadi harus lebih inovatif tidak boleh terlalu kaku,” kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Nielma Palamba.

Dia mengaku Disdik akan menggandeng para ahli untuk merancang kurikulum tersebut. Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar telah menyiapkan sejumlah konsep yang nantinya akan diterapkan agar kompetensi siswa tetap terjaga. Diantaranya hibridisasi pendidikan, yang akan menganut sistem outing class.

“Kita baru dampingi Pak Wali presentasi, ada tema yang dibahas minggu depan bagaimana pembelajaran selama pandemi, kita sudah ada konsep, Pak Wali tadi sampaikan outing class, nah ada beberapa, ini akan kita diskusikan bersama para ahli,” ujarnya.

Sementara itu Plh Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Syarifuddin mengatakan jumlah siswa putus sekolah dikalkulasi meningkat selama pelaksanaan sekolah daring. Hal itu berdasarkan data dari Dinas Sosial dengan banyaknya jumlah anak jalanan yang ditemukan.

Salah satu sebabnya ditengarai akibat tidak adanya gawai yang dapat digunakan oleh siswa. Dia mengatakan sekolah telah dibekali anggaran Rp60 juta per sekolah melalui dana BOS untuk pengadaan gawai. Hal ini diharapkan mampu mengakomodir jumlah siswa tak mampu di Kota Makassar.

“Jadi beda-beda yang beli, SMP 8 itu sampai 300, tapi dengan jumlahnya yang lebih 1.000, kita ambil contoh juga SMP 18, itu kurang yang gunakan jadi dipinjamkan SMP 27 di belakangnya. Jadi sistem berita acara peminjaman dulu,” katanya.

Dia juga meminta agar tiap guru sesegera mungkin melakukan pendataan siswanya yang tidak dapat menggelar tatap muka.

Dari tinjauannya, beberapa siswa yang tak mampu juga dilaporkan tetap datang ke sekolah untuk mengikuti tatap muka lantaran tak memiliki kelangkapan alat yang dibutuhkan.

“Jadi guru memang harus identifikasi siswanya yang tidak punya alat. Jangan sampai mereka ini justru tidak dapat,” pungkasnya.

- Advertisement -

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- Advertisment -

TERKINI