Wednesday, July 8, 2020

IDAI Minta Sekolah Ditutup Sampai Desember 2020

"Bangsa yang anaknya selamat ini lah bangsa yang berhasil di masa depannya."

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ikut merespon wacana pembukaan sekolah seiring berakhirnya masa tanggap darurat Covid-19 pada 29 Mei 2020, serta berakhirnya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah hingga transisi New Normal.

Ketua Umum IDAI, Dr Aman B Pulungan mengatakan IDAI telah melaksanakan deteksi kasus pada anak secara mandiri hingga 18 Mei 2020. Diketahui, jumlah anak terpapar positif Covid-19 berjumlah 584 anak dan 14 anak meninggal dunia. Sedangkan jumlah PDP anak sebanyak 3.324 anak dan 129 anak PDP meninggal dunia.

“Artinya, anak di Indonesia yang terinfeksi dan meninggal (karena Corona) dibanding negara lain masih cukup tinggi. Kami sebagai dokter anak penting untuk memperhatikan hak anak untuk hidup dan sehat, ini harus kita lindungi, ini kita amati terus datanya,” kata dr Aman di tvOne, Minggu, 31 Mei 2020 yang FAJAR PENDIDIKAN kutif.

Berdasarkan data tersebut, IDAI kata dr Aman, menilai bawa rencana pembukaan sekolah di tengah angka penularan dan kematian anak akibat corona tinggi sangat berisiko terhadap anak. “Kami sangat khawatir dengan kondisi saat ini untuk kita coba-coba. Karena setiap anak semua berisiko, tidak ada anak umur segini lebih tinggi, tidak, risikonya (penularan) adalah dia sering keluar atau orang tua pulang bawa virus ini,” ujarnya.

Selama ini, IDAI mengimbau sekolah-sekolah tetap menerapkan bentuk pembelajaran jarak jauh atau online kepada siswa dengan melibatkan guru dan orang tua, mengingat sulitnya pengendalian penyebaran virus apabila dalam bentuk kerumunan. “Disamping itu, kami minta pemeriksaan lebih banyak 30 kali dari kasus sekarang,” ungkapnya.

IDAI berharap semua pihak, baik sekolah, guru maupun orang tua bisa bekerjasama dan memahami kondisi yang sulit ini. Sembari menjaga anak-anak tetap di rumah dengan pola hidup sehat dan melengkapi semua tahapan imunisasi anak secara terus-menerus di tengah pandemi Covid-19. “Bangsa yang anaknya selamat ini lah bangsa yang berhasil di masa depannya,” tegasnya.

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Tiga Peserta UTBK Berkebutuhan Khusus Ikut Ujian di UNM Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Tiga peserta Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) dengan berkebutuhan khusus mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)...

Pendaftaran UMPTKIN 2020 Ditutup, UIN Alauddin Peringkat Pertama Kampus Paling Diminati

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2020 telah resmi ditutup pada Minggu (5/7/2020). Dari...

Pustakawan dan Organisasinya

REFLEKSI HUT IPI KE 47 | 7 JULI 1973 -  7 JULI 2020Oleh: Tulus Wulan Juni (Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar)

Dosen Unhas Segera Lakukan Rapid Test, Berikut Jadwalnya

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Upaya melakukan pemutusan rantai penularan Covid-19, sebanyak 1.652 dosen Universitas Hasanuddin dari seluruh fakultas dan program studi akan segera...

Dear Mahasiswa, Ini Syarat Penerima Bantuan Keringanan Biaya Kuliah di Masa Pandemi

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemerintah mengeluarkan aturan keringanan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terkena dampak Covid-19. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun...

REKOMENDASI