Khadijah, Wanita Mulia

Khadijah Binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad, memang pantas mendapatkan gelar Ummul Mukmin (ibundanya orang mukmin).

Tak hanya akhlaknya yang mulia. Kekayaannya sangat luar biasa. Bayangkan, dia hanya seorang wanita, namun kekayaannya, mencapai dua pertiga bagian dari wilayah Mekah yang berjuluk “Makkatul

 mukarramah” (Mekah tanah haram).

- Iklan -

Dia pun seorang putri bangsawan, yang terkenal sebagai wanita mulia. Namun dengan perjuangannya mendampingi Rasulullah mengembangkan syiar Islam, Agama Allah, dia rela kehilangan harta yang melimpah ruah. Ketika wafat, tak mampu mengadakan kain kafan. Baju hanya selembar yang di badan.

Itupun sudah kumuh, ditambal tambah, hingga 83 tambalan. Masya Allah.

Saat mendektari ajal, dia sudah membicarakan lebih dahulu dengan putri bungsu kesayangannya Fatimah tentang bagaimana nanti bila ajalnya sudah menjemput. Sementara kwmiskinan menderanya. “Fatimah, putriku. Aku yakin ajalku akan segera tiba. Yang kutakutkan, adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau mau memberikan sorbannya yabg biasa dikenakan saat menerima wahyu. Untuk dijadikam kain kafanku. Aku malu memintanya sendiri “.

- Iklan -
Baca Juga:  Renungan Harian Kristen, Rabu, 8 Mei 2024: Iman untuk Bertekun

Akhlaknya sangat luar biasa. Meminta sesuatu kepada suami melalui anak tersayang. Yang seharusnya bisa dilakukannya langsung.

Mendengar ucapan isteri tercintamya tersebut Rasulullah langsung menjawabnya “Wahai Khadijah, Allah menitip salam.kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Setelah mendengar ucapan Rasulullah tersebut, Khadijah menghembuskan nafas terakhirnya, pas di pangkuan suami tercinta Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Rasulullah pun mendekapnya dengan psrasaan pilu, teramat sangat, kehilangan isteri tercinta. Air mata .Rasulullah mengalir deras. Serta semua orang ada didekatnya, berderai air mata, merasakan kesedihan yang sangat mendalam.

- Iklan -

Kain Kafan dari Allah

Tak lama setelah Khadijah “menutup mata”, dan dalam suasana sedih yang mendalam, datang malaikat Jibril memberi salam sambil memperlihatkan lima lembar kain kafan yang dibawanya.

Baca Juga:  Renungan Harian Kristen, Senin, 27 Mei 2024: Hidup yang Hidup (Life that Lives)

Setelah menjawab salam Jibril. Rasulullah bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan ini ya Jibril ? “Untuk Khadijah, untuk engkau, Fatimah Ali dan Hasan” jawab Jibril, dia pun lalu menangis.

Rasulullah bertanya lagi. Kenapa ya Jibril ? Mungkin akan menanyakan kenapa cucu kesayangannya, hanya Hasan yang dapat, yang satunya Husen tidak dapat. Belum diperjelas pertanyaan tersebut, Jibril langsung menjelaskan, “Cucumu yang satu Husein, tidak memiliki kafan.. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan. Dan tidak dimansilkan”.

Di depan jasad Khadijah Rasulullah melampiaskan kesedihannya. “Wahai isteriku sayang, demi Allah, aku tidak akan pernah mendapatkan isteri sepertimu. Pengabdianmu terhadap Islam dan diriku, sanga luar biasa.. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartanu kau hibahkan unfuk Islam. Kaum mualimin pun ikut menikmarinya. Semua pakaian kaum musimin dan pakaianku ini juga, darimu. Namun begitu,.mengapa permohoman terakhirmu hanyalah selembar sorban? (berlannut/ana)

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU