Senin, Desember 6, 2021

Mengenal Ibnu Sina, Pelopor Ilmu Kedokteran Modern

Ibnu Sina merupakan pelopor ilmu kedokteran eksperimental. Ibnu Sina memiliki dua karya yang paling berpengaruh, yaitu ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan) dan The Canon of Medicine.

Dua karyanya itu menjadi warisan bagi dunia kedokteran yang diakui oleh dunia Barat. Dari kadu itu yang paling berpengaruh adalah Kitab al Shifa dan Al Qanun fi Tibb. Buku yang disebut terakhir adalah buku kedokteran eksperimental yang paling penting dalam sejarah. Berkat ini, Avicenna disebut sebagai dokter pertama yang melakukan uji klinis dan pengenalan farmakologi klinis.

Buku tersebut begitu populer dikalangan pengajar medis Barat untuk memperkenalkan prinsip dasar sains pada pelajar. Al Qanun fi Tibb juga berjasa dalam kemajuan ilmu anatomi, ginekologi, dan pediatri. Ibnu Sina adalah tokoh di balik temuan bahwa penyakit bukan hanya disebabkan oleh fisik, tetapi juga kondisi kejiwaan.

Ibnu Sina (980-1037) dianggap sebagai salah satu pemikir dan penulis paling terkemuka pada Zaman Kejayaan Islam. Ia diyakini menulis lebih dari 400 karya, termasuk yang paling terkenal Kitab ash-Shifa dan Al Qanun fi Tibb.

Ibnu Sina memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk medis, sejumlah literatur karyanya membahas berbagai bidang ilmu termasuk filsafat, matematika, fisika, kimia hingga astronomi.

Sejak usia 16 tahun, Ibnu Sina sudah mempelajari ilmu logika dasar dalam ilmu pengobatan dibimbing oleh Natili. Beliau adalah satu di antara filsuf pertama yang menerapkan logika filsafat terhadap teologi Islam.

Ibnu Sina juga menjadi satu di antara ilmuwan berpengaruh di abad pertengahan masa kejayaan Islam. Ibnu Sina merupakan penulis yang sangat produktif. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan. Pada usia 21 tahun, Ibnu Sina telah menghasilkan 240 karya tulisan.

Karya-karyanya merambah bidang matematika, geometri, astronomi, fisika, kimia, metafisika, filologi, musik, dan puisi. Sejak dini, Ibnu Sina memiliki minat belajar yang tinggi. Konon, pada umur 10 tahun, Ibnu Sina telah membaca Al-Qur’an dan belajar satra. Ibnu Sina lahir pada 370 Hijriah atau 980 masehi di Afsyanah, saat ini merupakan satu kota kecil di Uzbekistan.

Dengan sederet keahlian dan kecerdasan yang dimiliki itulah, membuat banyak orang meneladani cara hidup Ibnu Sina.(AHM)

- Advertisement -

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- Advertisment -

TERKINI