BARRU – Tanah longsor kembali mengancam permukiman warga di wilayah pegunungan Kecamatan Pujananting, Barru. Pergerakan tanah di Dusun Kampung Baru, Desa Pattappa, Rabu (4/12/2025) sekitar pukul 03.00 WITA membuat warga panik. Kontur lereng yang bergeser kian mendekati rumah-rumah di sekitar titik rawan.
Hujan deras yang turun sejak subuh menjadi pemicu utama longsor. Salah satu rumah milik Iwan (40), warga Aroppoe, Desa Tellumpanua, nyaris terdampak langsung. Tanah yang turun menyebabkan tiang penyangga rumah menggantung dan tidak stabil. Meski kerusakan masih tergolong ringan, kondisi itu cukup membuat warga waswas karena potensi longsor susulan masih besar.
Tidak ada korban jiwa, namun kondisi tanah yang terus bergerak membuat situasi di lapangan penuh kehati-hatian. Pergeseran tanah menyebabkan bagian bawah rumah warga mengalami perubahan struktur, sehingga berpotensi membahayakan jika tidak segera ditangani.
Kapolsek Pujananting, Sahabuddin Taligaluh, langsung menuju lokasi beberapa saat setelah menerima laporan warga. Ia meninjau kondisi rumah terdampak dan bergerak cepat berkoordinasi dengan BPBD Barru untuk penanganan awal.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD untuk langkah antisipasi. Keselamatan warga tetap prioritas,” ujar Sahabuddin kepada Fajar Pendidikan.
Kapolsek berharap penanganan dapat dilakukan secepatnya, termasuk penguatan lereng atau relokasi sementara jika kondisi semakin mengkhawatirkan. Ia juga mengimbau warga agar tetap waspada, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Pujananting.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Barru, Muhaimin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memantau potensi longsor sejak sehari sebelumnya.
“Kejadian sekitar jam tiga subuh sudah kami ketahui. Saya sudah tugaskan koordinator meninjau lokasi karena memang ada potensi longsor,” jelasnya.
BPBD masih menunggu laporan resmi dari pemerintah desa, namun informasi awal sudah cukup menjadi dasar BPBD untuk melakukan asesmen cepat di lapangan.
“Kita tunggu laporan desa, tapi info kejadian jam tiga subuh itu sudah kita pegang. Lokasi akan kita tinjau,” tambahnya.
Muhaimin menjelaskan bahwa ada dua opsi penanganan darurat di lokasi rawan longsor: memperkuat kontur tanah menggunakan karung berisi tanah atau melakukan relokasi sementara apabila kondisi lereng dianggap membahayakan.
Ia menegaskan bahwa sesuai aturan terbaru tahun 2018, BPBD tidak lagi menangani pekerjaan fisik seperti pembangunan penahan longsor. Tugas BPBD kini fokus pada penyelamatan jiwa, sementara pekerjaan fisik menjadi kewenangan instansi teknis terkait.
“BPBD sudah tidak tangani fisik. Kami fokus penyelamatan jiwa,” tegasnya.
Penanganan lanjutan kini menunggu hasil asesmen BPBD Barru di titik longsor untuk menentukan langkah berikutnya.
Hengki
