ADV A1

Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Yani Savitri

FAJAR Pendidikan

Covid-19 atau biasa disebut virus corona mulai terdeteksi pertama kali di wuhan, China pada akhir tahun 2019. Gejala yang ditimbulkan jika terinfeksi virus ini yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, hilang rasa atau bau, sakit kepala, diare, sampai kesulitan bernafas dan nyeri dada. Virus ini seperti monster yang menyeramkan dan langsung melumpuhkan kota tersebut dalam waktu sekejap.

Banyak korban- korban yang berjatuhan di jalan akibat cepatnya virus ini menyebar, dan seketika wuhan terlihat seperti kota mati. Di Indonesia, pemerintah mengkonfirmasi untuk pertama kalinya pada tanggal 2 maret 2020 kasus 1 dan 2 yang terjadi di depok, jawa barat yang menimpa seorang ibu (64) dan putrinya (31). Mereka terinfeksi virus itu dari warga jepang yang datang ke Indonesia pada Februari 2020.

Hal ini sangat menggemparkan dan menimbulkan sejumlah fenomena, diantaranya yaitu langkanya masker, hand sanitizer, serta panic buying yang menyebabkan langka nya bahan-bahan pokok. Virus ini umumnya akan sembuh dengan sendirinya jika kekebalan tubuh kita baik dan tidak mempunyai penyakit bawaan.

Dari awal kemunculannya covid-19 terus bermutasi dan mempunyai kurang lebih 10 varian sampai saat ini, yaitu Alpha (Inggris September 2020), Beta (Afrika Selatan mei 2020), Gamma (Brazil November 2020), Delta (India Oktober 2020), Lambda (Peru Desember 2020), Kappa (India Oktober 2020), Eta (Inggris Raya Desember 2020), Lota (New York November 2020), Mu (Kolombia Januari 2021), dan Omicron (Afrika Selatan November 2021). Berdasarkan update tanggal 26 april 2022 total kasus positif covid-19 di Indonesia mencapai 6.045.043, sembuh 5.879.141, dan meninggal 156.163 kasus.

Dampak yang ditimbulkan karena adanya virus ini sangatlah dahsyat terasa di Indonesia, terutama dari sektor ekonomi, banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaan sampai perusahaan-perusahaan yang harus gulung tikar karena efek dari pandemic yang sudah berjalan 2 tahun di negara kita. Dampak pandemic terhadap Pendidikan juga tidak kalah dahsyat, pemerintah harus mengambil keputusan cepat untuk memutus matarantai penyebaran virus corona yang salah satunya adalah dengan cara mengubah cara pembelajaran dari tatap muka menjadi daring dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sampai saat ini pembelajaran dengan sistem daring masih dirasa kurang efektif karena ketidaksiapan sekolah maupun perguruan tinggi melaksanakan sistem pembelajaran daring ini, penguasaan dosen atau guru terhadap teknologi masih rendah, keterbatasan sarana dan prasarana antara pengajar dan siswa, serta keterbatasan jaringan internet sampai ketidak sanggupan untuk membeli kuota internet adalah beberapa hambatan untuk siswa atau mahasiswa serta pengajar dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara online ini.

BACA JUGA :   Strategi SIMPEL sebagai Solusi Pembelajaran di Tengah Pandemi COVID-19

Sistem pembelajaran daring pun kurang berkualitas, karena pembelajaran yang disampaikan melalui virtual dirasa kurang efektif, salah satu penyebabnya adalah siswa dan pengajar tidak bisa bertatap muka secara langsung dan tidak leluasa menyampaikan materi serta tidak leluasa bertanya jika ada yang kurang jelas atau kurang dimengerti.

Keterbatasan biaya seringkali menjadi pemicu ketidak efektifan kegiatan belajar mengajar melalui sistem daring, siswa yang tidak mampu membeli kuota internet terpaksa tidak mengikuti pembelajaran saat itu karena tidak dapat mengakses internet dan otomatis tertinggal pelajarannya, pengajar juga melakukan kerja ekstra karena harus menyiapkan materi sampai ruang virtual utk menjelaskan materi, apalagi jika seperti sekarang yang sistem pembelajarannya tatap muka 50%, selain menyiapkan materi dan ruang virtual untuk siswa yang daring, pengajar juga harus mempersiapkan materi untuk siswa yang belajar tatap muka, serta kesibukan-kesibukan dibelakang layar seperti menyiapkan absensi langsung dan virtual, menyiapkan tugas untuk siswa dan juga mengoreksi hasil pembelajaran siswa pada hari itu.

Dari sisi siswa sendiri sebenarnya pembelajaran daring mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihannya yaitu siswa lebih mandiri dalam melakukan pembelajaran dan bisa secara lebih luas mengakses internet jika ada pembelajaran yang tidak dimengerti, dengan begitu pengetahuan siswa pun semakin bertambah. Selain dampak positif, bagi siswa juga terdapat dampak negatif yaitu terlalu intens menggunakan gadget yang akan berpengaruh langsung kepada Kesehatan mata, selain itu penggunaan gadget yang berlebihan tidak baik untuk siswa karena rata-rata selain digunakan untuk daring gadget juga seringkali digunakan untuk bermain game online.

Karena jangkauannya sangat luas, penggunaan gadget akan sangat berbahaya dan banyak dampak negatifnya jika diakses secara berlebihan, misalnya melihat konten-konten dewasa atau melihat video-video yang tidak mendidik. Maka dari itu peran orang tua sangat penting disini, pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget anak sangat dibutuhkan. Orang tua bisa memberikan edukasi sembari melakukan pengawasan kepada anak dirumah selama pembelajaran jarak jauh.

BACA JUGA :   Meningkatkan Infastruktur Jaringan Sebagai Upaya Menyelesaikan Masalah ‘Susah Sinyal’ Para Pelajar Daring Di Masa Pandemi Covid-19

Banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua selama pembelajaran jarak jauh, tetapi pada kenyataannya justru berbanding terbalik dengan harapan. Harapannya adalah orang tua bisa menemani dan membimbing anak selama masa pembelajaran jarak jauh tetapi pada kenyataannya banyak orang tua yang tidak membimbing anak sama sekali selama pembelajaran jarak jauh, mereka sudah sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaannya, sehingga seringkali anak menjadi sasaran kemarahan saat Lelah dengan rutinitasnya bahkan pada beberapa kasus sampai melakukan kekerasan pada anak, selain itu ada juga tipe orang tua yang tidak mau ambil pusing dengan tugas-tugas dan pembelajaran jarak jauh sang anak, mereka mengerjakan semua tugas-tugas anaknya yang diberikan oleh guru disekolah dan anak tinggal menyalin tanpa tau apa yang dikerjakan karena orang tua mereka tidak menjelaskan isi materi.

Meskipun ada juga orang tua yang benar-benar memperhatikan, membimbing, mendampingi, dan melakukan pengawasan penggunaan gadget secara ketat pada anak selama pembelajaran jarak jauh berlangsung tetapi presentasinya sangat sedikit.

Jadi dapat disimpulkan pandemic covid-19 membawa dampak baik dan buruk pada semua bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, serta pendidikan. Kita tidak boleh lengah dengan dampak positifnya dan harus segera memperbaiki dampak negatif dari pandemic covid-19 terutama di bidang Pendidikan agar para siswa serta mahasiswa bisa mendapatkan Pendidikan yang layak serta dapat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan di masa mendatang.

Jika hanya mengandalkan pemerintah saja tanpa adanya dukungan dari semua lapisan dan hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa maka akan berakhir sia-sia apapun Langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Kita harus turut serta aktif dan menjalankan instruksi yang diberikan oleh pemerintah seperti mematuhi protokol Kesehatan, memakai masker, serta menjaga jarak jika bepergian keluar rumah.

Dalam pembelajaran jarak jauh pun selain guru dan siswa, orang tua harus turut serta proaktif dalam mengawasi dan mendukung semua kegiatan sekolah selama pembelajaran jarak jauh berlangsung agar bisa sukses dan tercapainya tujuan belajar.

Maka dari itu kita perlu bersinergi dan Bersatu dalam mensukseskan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi untuk mewujudkan Pendidikan yang berkualitas bagi anak bangsa demi mewujudkan Indonesia sejahtera dan menghasilkan sumber daya manusia unggulan di masa mendatang.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI