ADV A1

Suara Hati Siswa-Siswi di Era Pandemi

Penulis : M. Iqbal Rivaldi

FAJAR Pendidikan

Pada akhir tahun 2019 dunia dilanda wabah global bernama Coronavirus Disease atau yang disebut dengan Covid-19 yang kemudian ditetapkan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia/ World Health Organization(WHO) pada tanggal 11 Maret 2020.

Covid-19 sudah hampir menyebar ke seluruh dunia dan telah meninfeksi banyak orang. Bahkan per tenggal 22 april 2022 atau tepatnya lebih dari 2 tahun sejak kemunculan virus Covid-19 di kota wuhan tiongkok, virus ini sudah menginfeksi 508 juta manusia dan sebanyak 6,21 juta manusia harus meregang nyawa akbiat virus ini (WHO).

Pada tanggal 2 maret 2020,virus ini pertama kali masuk ke Indonesia dan sampai sekarang tepatnya tanggal 23 april 2022 virus ini telah berhasil menginfeksi 6,04 juta orang dan sebanyak 156 ribu orang meningga dunia.

Setalah hampir 2 tahun 4 bulan sejak kemunculan virus ini di kota wuhan tiongkok, banyak sekali dampak dan pengaruh yang diberikan oleh virus ini hampir di seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, sosial, pendidikan dan sebagainya.

Banyak peraturan yang mangharuskan semua orang untuk terus berhati-hati dan menjaga kesehatan agar tidak mudah terinfeksi oleh virus ini. Dan salah satu upaya pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penyebarann virus ini di kalangan pelajar dan mahasiswa adalah dengan menetapkan peraturan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang harus dilakukan oleh setiap instansi pendidikan guna memberikan rasa aman dan keselamatan baik bagi pengajar maupuN pelajar dari bahaya virus covid-19 ini.

Mengingat perkembangan virus covid-19 di Indonesia terus meningkat, akhirnya kemendikbud menetapkan peraturan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan kegiatan pembelajaran di era pandemi.

Dimana pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini menggunakan teknologi dan internat sebagai sarana utama dalam kegiatannya.

Diharapkan dengan adanya PJJ kegiatan pembelajaran dapat terus berlangsung dan dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung. Hal ini menjadi menjadi angin segar dari kekhawatiran semua pelajar dari ketidakpastian dalam kegiatan pembelajaran.

Pembejalaran jarak jauh (PJJ) ternyata tidak semudah dan segampang seperti yang diharapkan. Banyak sekali keterbatasan dan kekurangan sehingga kegiatan PJJ tidak dapat berlangsung dengan baik.

Salah satu faktor yang menjadi penghambat dalam kegiatan PJJ ini adalah seperti: keterbatasan dalam penggunaan teknologi baik dari siswa maupun pengajar, koneksi internet yang belum merata, belum semua siswa memiliki perangkat yang mendukung untuk mengikui PJJ ini.

Sehingga hal tersebut menjadi penghalang bagi berlangsungnya kegiatan PJJ ini. Bukan satu atau dua orang siswa saja yang mengalami permasalahan tersebut, namun hampir semua siswa mengalaminya.

Salah satunya adalah saya. Ketika pandemi mulai menyebar luas di Indonesia pada bulan agustus 2020, bertepatan dengan saya mengikuti kegiatan PKKMB (pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru) yang dimana kegiatan ini harus dilaksanakan secara daring. Hal tersebut membuat saya perlu menyiapkan diri baik secara mental dan perangkat yang akan digunakan untuk mengikuti kegiatan tersebut secara daring.

Hal ini pula menjadi sebuah sejarah dan cerita bagi saya dan teman-teman seangkatan seindonesia, menjadi mahasiswa baru di era pandemik yang penuh dengan tantangan, penuh dengan ketidakpastian serta penuh dengan harapan.

Dan ternayata kegiatan daring ini juga harus dilaksanakan untuk semua kegiatan yang lain seperti pembelajaran di kampus dan kegiatan organisasi lainnya. Dan kegiatan ini terus dilaksanakan sampai saya menginjak semester 3 sebagai seorang mahasiwa. Banyak cerita dan pengalaman yang saya rasakan selama mengikuti PJJ atau pembelajaran daring ini.

Salah satunya adalah dimana saya belajar menjadi seorang yang bertanggung jawab penuh terhadap diri saya sebagai seorang mahasiswa di era pandemi, di era yang penuh ketidakpastian dan harapan.

Dan selama mengikuti kegiatan PJJ juga saya menghadapi beberapa hambatan salah satunya adalah koneksi interner yang kurang baik. Saya tinggal di sebuah pedesaan yang cukup jauh dari kota terdekat. Hal itulah menyebabkan saya dimana ketika kegiatan PJJ berlangsung saya akan pergi ke kecamatan terdekat yang lokasinya berjarak kurang lebih 15 KM dari rumah saya yang menghabiskan waktu sekitar 25 menit dengan menggunakan kendaraan sepeda motor.

Dan akses jalan dari desa saya ke kecamatan terdekat sangat memprihatinkan bahkan jalan tersebut dapat dikatakan sangat tidak layak dilalui kendaraan mengingat jalanya berupa bebatuan dan tanah.

Karena keterbatasan koneksi internet yang baik di rumah saya, saya harus pergi ke kecataman terdekat untuk mendapatkan akses internet yang baik walaupun akses jalan menuju ke kecamatan terdekat jalannya sangat berbahaya. Hal itu bukan menjadi penghalanag bagi saya untuk terus belajar dan mengikuti kegiatan PJJ ini.

Karena latar belakang saya yang berasal dari keluarga yang sederhana yang dimana saya juga allhamdullillah diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk terus belajar hingga perguruan tinggi melalui beasiswa KIP-Kuliah yang diamanahkan kepada saya, membuat semangat dan motivasi saya terus tumbuh.

Dimana keterbatasan seperti akses internet yang kurang baik bukan menjadi alasan bagi saya untuk tidak mengikuti kegiatan PJJ, karena kalau kita sudah ada niat yang baik maka tuhan akan memberikan jalan untuk mempermudah jalan kita.

Harapan saya adalah semoga kegiatan PJJ ini dapat berjalan lebih baik lagi, dan pemerintah dapat mengatasi permasalahan yang di hadapi oleh hampir semua pelajar yang ada di Indonesia seperti keterbatasan koneksi internet yang baik.

Karena pelajar adalah harapan bangsa, dimana banyak data dan fakta yang mengungkapan bahwa tingkat putus sekolah pelajar banyak terjadi akbiat keterbatsan yang dialami ketika mengikuti kegiatan PJJ, dan banyak juga data yang mengunkapkan bahwa sikap dan attitude para pelajar selama mengikuti PJJ juga menurun.

Maka dari itulah pemerintah dan stakeholder terkait harus menjadikan hal ini sebagai salah satu pokok pembahasan utama meraka, karena pelajar adalah harapan dan masa depan bangsa dimasa yang akan datang.

Jika para pelajar sudah dipersiapkan dengan baik dari sekarang maka kita dapat melihat kemajuan bangsa ini juga kedepannya. Dan harapan saya semoga pandemi covid-19 ini cepat berlalu dan kami selaku pelajar Indonesia dapat belajar seperti bisanya di sekolah dan bisa bertemu dengan bapak dan ibu guru serta teman-teman semuanya.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI