Sosok Ghanim al-Muftah, Kisah Inspiratif Meski dengan Keterbatasan

Sosok Ghanim al-Muftah, menjadi terkenal dan banyak yang memberi perhatian lebih kepadanya usai menjadi duta Piala Dunia 2022 Qatar dan membawa spirit Al-Qur’an ke wajah dunia.

Kondisi fisiknya bukan menjadi penghambat untuknya tampil bersama artis Hollywood, Morgan Freeman saat pembukaan Piala Dunia 2022 Qatar, Minggu (20/11/2022).

Ia masiih melakukan beberapa aktivitas olahraga, memiliki kondisi langka Cudal Regression Syndrome, penyakit ini menyebabkan ia terlahir tanpa bagian tubuh bawah.

- Advertisement -

Di pembukaan Piala Dunia tersebut, Morgan Freeman menyampaikan narasi tentang keberagaman dunia. Tak lama, sosok Ghanim muncul dan ikut menemani Freeman dalam membawakan pesan persatuan.

BACA JUGA :   Profil Morgan Freeman, Aktor Legendaris Hollywood yang Tampil Memukau di Pembukaan Piala Dunia 2022
- Advertisement -

Kini ia sedang mengejar gelar di Jurusan Ilmu Politik. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang diplomat atau perdana menteri Qatar di masa depan.

Kisah hidup Ghanim kemudian banyak menginspirasi banyak orang. Setiap tahun, Ghanim menerima perawatan ahli bedah di Eropa. Di usianya yang baru belasan tahun, ia mencatatkan namanya sebagai pengusaha termuda Qatar dan sukses mendirikan Gharissa Ice Cream.

Kesuksesan Ghanim ini tak lepas dari peran orangtuanya yang terus memberikan dukungan positif agar ia menjalani kehidupan normal di luar batas ketidakmampuannya.

Ghanim al-Muftah saat berkomunikasi pada upacara pembukaan atau Opening Ceremony Piala Dunia 2022 Qatar jelang laga Qatar vs Ekuador di Stadion Al-Bayt di Al Khor, utara Doha, pada Minggu 20 November 2022

BACA JUGA :   Swiss Vs Kamerun : Prediksi, Line Up, Pelatih dan Live Streaming

Dalam laman pribadinya ghanimalmuftah.org, diceritakan bahwa banyak orang meminta ibu Ghanim untuk menggugurkan kandungannya setelah mengetahui kondisi Ghanim. Namun, sang ibu memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya dan berjanji akan selalu ada untuk anaknya.

“Saya akan menjadi kaki kirinya dan ia (suami) menjadi kaki kanannya,” kata ibu Ghanim. Ketika tumbuh besar, Ghanim merasa sulit untuk bersekolah karena kerap menerima ejekan dan perundungan dari teman-teman sekelasnya.

Bagikan

REKOMENDASI UNTUK ANDA
- Advertisment -

POPULER: