Friday, August 14, 2020

Tak Sekadar Merajut

Komunitas Quiqui

Merajut terkadang identitik dengan pekerjaan kaum hawa. Tetapi percayakah kalian bila ternyata merajut itu juga bisa dikerjakan oleh kaum adam?

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Adalah komunitas Quiqui. Quiqui itu sendiri diambil dari bahasa Bugis dan Makassar, Makkui’ yang artinya merajut. Komunitas Quiqui ini sudah ada sejak Desember 2011. Awalnya, komunitas ini beranggotakan ibu-ibu muda. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas ini makin eksis dengan kegaiatan-kegiatan yang dilakukan dan diperuntukan untuk siapa saja. Kegiatan-kegiatan tersebut seakan memiliki daya tarik sehingga pemuda-pemuda pun tertarik untuk bergabung tanpa sedikit pun merasa canggung.

Respon Kasus Sosial

Rabu (14/9) lalu, FAJAR PENDIDIKANberkesempatan bertandang ke Kampung Buku tempat dimana anggota dari komunitas Quiqui biasanya berkumpul. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk berbincang-bincang dengan salah satu anggota komunitas Quiqui dan mengenal secara dekat komunitas tersebut.

Menurut cerita Dede, anggota Komunitas Quiqui yang ditemui FAJAR PENDIDIKAN, kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Quiqui tidak hanya merajut. “Selain merajut, ada juga kegiatan-kegiatan sosial lain yang dilakukan komunitas Quiqui. Kita juga merespon bila ada isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak,” tuturnya.

Jadi, lanjutnya, ketika kami (komunitas Quiqui) melakukan kegiatan merajut bersama warga di suatu lokasi tertentu, secara tidak langsung kami juga bisa mendapatkan informasi-informasi seperti kekerasaan terhadap ibu dan anak.

Hasil karya dari para perajut di komunitas Quiqui. (Foto: /IST)

Dikatakan Dede, respon yang diberikan terhadap isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak, yaitu terapi secara tidak langsung. “Maksudnya, kegiatan merajut itu sebenarnya secara tidak langsung bisa dijadikan terapi bagi korban kekerasan,” jelasnya.

“Nah, kegiatan merajut ini kan membutuhkan fokus dan juga kesabaran. Jadi, ketika korban kekerasan ini kami ajak untuk belajar merajut.Secara tidak langsung, fokus pikiran mereka mulai beralih ke kegiatan merajut. Mungkin saja, dengan begitu mereka (korban kekerasan) mulai melupakan perlakuan pahit yang pernah menimpah mereka (korban kekerasan),” tambahnya.

Bom Benang

Sejak berdiri, komunitas Quiqui rutin melakukan kegiatan tahunan yang diberi nama “Bom Benang”. Tiap tahunnya, Bom Benang ini dilaksanakan dengan konsep yang berbeda-beda. Tahun ini, merupakan kali kelima dilaksanakan Bom Benang.

‘Benang Kandung’ merupakan tema yang diusung pada pelaksanaan Bom Benang 2016. Dede mengungkapkan, tema itu sengaja diambil sebagai metafora hubungan kekerabatan ‘anak kandung’. Dengan tema itu, komunitas Quiqui ingin menunjukan bahwa dengan media benang, mampu menghubungkan orang-orang dalam satu ikatan yang karib layaknya hubungan ibu dan anak.

“Seperti yang sudah saya ceritakan tadi,kita tidak hanya sekadar melaksanakan kegiatan merajut. Tetapi di dalamnya itu, kami mencoba memberikan peran sebagai bentuk respon kami terhadap isu kekerasan; terkhususnya yang menimpa ibu dan anak. Oleh karena itu, tema Bom Benang tahun ini berkaitan dengan isu-isu tersebut,” jelas Dede.

Sekalipun membawa misi baik untuk warga, lanjutnya, kegiatan Bom Benang awalnya kurang mendapat respon dari warga. “Mereka pikir kalau kami datang dengan sesuatu yang baru, pasti ada ‘kepentingan’ di dalamnya. Namun seiring berjalannya ini kegiatan, stigma seperti itu perlahan-lahan mulai hilang,” ceritanya.

Lebih lanjut dibeberkan Dede, komunitas Quiqui juga pernah mengangkat isu terkait dengan pemilihan umum (pemilu) kepala daerah. “Di mana ketika menjelang pemilu, sebelumnya ada kegiatan kampanye dan biasanya pohon-pohon itu dijadikan sebagai ‘media’ untuk menempelkan brosur-brosur dari para calon yang bertarung di Pemilu. Padahal, sebenarnya bisa dibuat suatu karya kreativitas dengan benang tanpa ‘melukai’ pohon-pohon,” ungkapnya. (FP)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Wadan Lantamal VI Bersama Forkopimda Sulsel Ikuti Rakorsus Tingkat Menteri Melalui Vidcon

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Wakil Komandan (Wadan) Lantamal VI Kolonel Laut (P) Baroyo Eko Basuki, S.H., M.M., bersama Forkopimda Sulsel mengikuti Rapat Koordinasi...

Jalin Silaturahmi, STIE Nobel Indonesia Jajaki Potensi Kerjasama dengan HIPMI Sulsel

FAJARPENDIDIKAN.co.id - STIE Nobel Indonesia melakukan pertemuan dengan jajaran pengurus DPD HIPMI Sulsel yang dihadiri langsung oleh ketua dua lembaga tersebut, Dr...

Rasa dan Wanginya Beda-beda, Ini nih Jenis Beras Putih Lokal Favorit Orang Indonesia

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Nasi adalah makanan pokoknya orang Indonesia. Nggak heran kalau ada ungkapan, ‘Belum makan namanya kalau belum makan nasi’. Saking vital...

150 Wartawan Dites Swab-PCR di Gedung Dewan Pers

Jakarta, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Pelaksanaan tes Swab-PCR (Polymerase Chain Reaction)yang diselenggarakan Dewan Pers bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Rabu, 12 Agustus...

Belanja Puas, Ini Tips Atur Keuanganmu

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Belanja saat pandemik begini memang bisa bikin penat dan stres hilang. Apalagi buat kamu si shopaholic, rasanya rutinitas belanja jadi kewajiban...

REKOMENDASI