Sabtu, Januari 23, 2021

Tak Sekadar Merajut

Komunitas Quiqui

Merajut terkadang identitik dengan pekerjaan kaum hawa. Tetapi percayakah kalian bila ternyata merajut itu juga bisa dikerjakan oleh kaum adam?

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Adalah komunitas Quiqui. Quiqui itu sendiri diambil dari bahasa Bugis dan Makassar, Makkui’ yang artinya merajut. Komunitas Quiqui ini sudah ada sejak Desember 2011. Awalnya, komunitas ini beranggotakan ibu-ibu muda. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas ini makin eksis dengan kegaiatan-kegiatan yang dilakukan dan diperuntukan untuk siapa saja. Kegiatan-kegiatan tersebut seakan memiliki daya tarik sehingga pemuda-pemuda pun tertarik untuk bergabung tanpa sedikit pun merasa canggung.

Respon Kasus Sosial

Rabu (14/9) lalu, FAJAR PENDIDIKANberkesempatan bertandang ke Kampung Buku tempat dimana anggota dari komunitas Quiqui biasanya berkumpul. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk berbincang-bincang dengan salah satu anggota komunitas Quiqui dan mengenal secara dekat komunitas tersebut.

Menurut cerita Dede, anggota Komunitas Quiqui yang ditemui FAJAR PENDIDIKAN, kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Quiqui tidak hanya merajut. “Selain merajut, ada juga kegiatan-kegiatan sosial lain yang dilakukan komunitas Quiqui. Kita juga merespon bila ada isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak,” tuturnya.

Jadi, lanjutnya, ketika kami (komunitas Quiqui) melakukan kegiatan merajut bersama warga di suatu lokasi tertentu, secara tidak langsung kami juga bisa mendapatkan informasi-informasi seperti kekerasaan terhadap ibu dan anak.

Hasil karya dari para perajut di komunitas Quiqui. (Foto: /IST)

Dikatakan Dede, respon yang diberikan terhadap isu-isu kekerasan terhadap ibu dan anak, yaitu terapi secara tidak langsung. “Maksudnya, kegiatan merajut itu sebenarnya secara tidak langsung bisa dijadikan terapi bagi korban kekerasan,” jelasnya.

“Nah, kegiatan merajut ini kan membutuhkan fokus dan juga kesabaran. Jadi, ketika korban kekerasan ini kami ajak untuk belajar merajut.Secara tidak langsung, fokus pikiran mereka mulai beralih ke kegiatan merajut. Mungkin saja, dengan begitu mereka (korban kekerasan) mulai melupakan perlakuan pahit yang pernah menimpah mereka (korban kekerasan),” tambahnya.

Bom Benang

Sejak berdiri, komunitas Quiqui rutin melakukan kegiatan tahunan yang diberi nama “Bom Benang”. Tiap tahunnya, Bom Benang ini dilaksanakan dengan konsep yang berbeda-beda. Tahun ini, merupakan kali kelima dilaksanakan Bom Benang.

‘Benang Kandung’ merupakan tema yang diusung pada pelaksanaan Bom Benang 2016. Dede mengungkapkan, tema itu sengaja diambil sebagai metafora hubungan kekerabatan ‘anak kandung’. Dengan tema itu, komunitas Quiqui ingin menunjukan bahwa dengan media benang, mampu menghubungkan orang-orang dalam satu ikatan yang karib layaknya hubungan ibu dan anak.

“Seperti yang sudah saya ceritakan tadi,kita tidak hanya sekadar melaksanakan kegiatan merajut. Tetapi di dalamnya itu, kami mencoba memberikan peran sebagai bentuk respon kami terhadap isu kekerasan; terkhususnya yang menimpa ibu dan anak. Oleh karena itu, tema Bom Benang tahun ini berkaitan dengan isu-isu tersebut,” jelas Dede.

Sekalipun membawa misi baik untuk warga, lanjutnya, kegiatan Bom Benang awalnya kurang mendapat respon dari warga. “Mereka pikir kalau kami datang dengan sesuatu yang baru, pasti ada ‘kepentingan’ di dalamnya. Namun seiring berjalannya ini kegiatan, stigma seperti itu perlahan-lahan mulai hilang,” ceritanya.

Lebih lanjut dibeberkan Dede, komunitas Quiqui juga pernah mengangkat isu terkait dengan pemilihan umum (pemilu) kepala daerah. “Di mana ketika menjelang pemilu, sebelumnya ada kegiatan kampanye dan biasanya pohon-pohon itu dijadikan sebagai ‘media’ untuk menempelkan brosur-brosur dari para calon yang bertarung di Pemilu. Padahal, sebenarnya bisa dibuat suatu karya kreativitas dengan benang tanpa ‘melukai’ pohon-pohon,” ungkapnya. (FP)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Unhas Kembali Salurkan Satu Ton Ayam Palekko dan Telur Untuk Korban Gempa Sulbar

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Fakultas Peternakan bekerjasama dengan PT. Charoen Pokphand kembali menyalurkan donasi berupa satu ton olahan ayam palekko...

Mahasiswa PBL Posko 9 Ujung Tanah FKM Unhas Gelar Penyuluhan Prokes dan Swab Test

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Salah satu rangkaian kegiatan PBL II FKM Unhas yakni melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat di Aula Kantor Kelurahan Ujung Tanah, Kecamatan...

Usai Dilantik, Ketua OPDIS SD Islam Athirah 2 Makassar Ucapkan Terima Kasih

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - SD Islam Athirah 2 Makassar menggelar pelantikan Organisasi Peserta Didik Intra Sekolah (OPDIS) dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK)...

SMAN 3 Wajo Raih Segudang Prestasi di Masa Pandemi Covid-19

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Menggantung asa dan pantang menyerah demi prestasi adalah keniscayaan. Inilah sebuah kalimat yang patut diberikan kepada segenap civitas akademi SMA...

Peduli, SMAN 15 Bone Galang Bantuan untuk Korban Gempa Sulbar

Bone, FAJARPRNDIDIKAN.co.id- Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang dilanda bencana, SMAN 15 Bone menggalang bantuan untuk korban gempa Sulawesi Barat (Sulbar). Bantuan...

REKOMENDASI