ADV A1

Tumbuhkan Pelajar Gemar Membaca Di Era Pandemi Covid-19 Dalam Jendela Bung Karno Cinta Literasi

Penulis: Sakira Kusuma

FAJAR Pendidikan

Pandemi Covid-19 sudah tidak asing dalam kehidupan. Selama tiga tahun berjalan ini menjaga protokol kesehatan dan wajib vaksinasi telah dilalui. Memang tidak semudah itu untuk mencegah tertularnya Covid-19 ke orang lain. Tetapi, bukti nyata telah dilakukan oleh seluruh petugas kesehatan maupun masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Covid-19 sangat berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya bidang pendidikan. Di bidang pendidikan sangat berpengaruh khususnya pengetahuan tentang literasi dan nilai kepahlawanan. Harusnya, pandemi ini bisa lebih menumbuhkan minat baca pelajar untuk lebih semangat lagi dalam berkarya. Salah satunya dengan tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, ya Bung Karno namanya.

Beliau adalah sosok yang menginspirasi dan multidimensi bakatnya. Berbagai bidang yang beliau geluti, menjadikannya dipanggil “Bapak Proklamator Indonesia”. Apa yang kalian ketahui tentang Bapak Proklamator?, Bapak Proklamator adalah bapak yang memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Beliau lahir di Blitar, pada 6 Juni 1901. Dengan lantangnya, beliau berpidato menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka dari berbagai macam penjajahan atas kolonial. Apakah kalian tau isi dari teks proklamasi ?

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Itulah isinya. Apakah makna yang berarti dari lahirnya Proklamasi? Indonesia yang telah dijajah selama 350 tahun kini berani bangkit dengan perjuangannya sendiri. Apakah pada saat itu bisa mendapatkan pengakuan dunia?

Dari teks proklamasi kita mendapatkan banyak sekali makna, antaralain :

Deklarasi Kemerdekaan Indonesia secara de-facto, sumber hukum pembentukan NKRI, lepasnya Indonesia dari penjajahan, pemberhentian hukum kolonial diganti dengan hukum nasional, lepasnya penderitaan dan pembodohan rakyat.

Ada lagi fakta menarik tentang teks proklamasi yang jarang sekali untuk diketahui. Salah satu fakta menariknya, teks asli proklamasi dulu pernah dibuang karena dianggap sudah tidak lagi diperlukan, beruntungnya teks tersebut ditemukan oleh Burhanuddin Mohammad Diah dan disimpan sebagai dokumen pribadi. Di antara tumpukan sampah Burhanuddin menemukan teks proklamasi pasca berakhirnya rapat perumusan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

BACA JUGA :   Optimalisasi Peran dan Pemberdayaan Pelajar Sebagai Agent of Change di Era Pandemi Covid-19

Satu tahun setelahnya Burhanuddin menyerahkan dokumen tersebut kepada Presiden Soekarno, sebelum akhirnya dipindahkan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Walaupun Indonesia telah lepas dari penjajahan. Namun, bukan berarti Indonesia sudah terlepas dari gelapnya kebodohan dan ketertinggalan. Pendidikan pada masa itu masih belum stabil. Tidak semua orang mendapatkan fasilitas yang layak tentang pendidikan.

Bedakan di zaman sekarang, akses pendidikan mudah, murah dan gratis. Di sisi lain, Bung Karno adalah sosok yang menyukai membaca buku. Kegemaran Bung Karno membaca buku dimulai saat beliau suka membaca buku yang dimiliki oleh ayah Bung Karno. Ayahnya sendiri juga seorang guru yang gemar membaca banyak buku. Selain itu, Bung Karno rajin membaca buku perpustakaan sekolah.

Hal ini bermula karena Bung Karno dekat dengan guru HBS. Sehingga, Bung Karno dibebaskan membaca buku di perpustakaan. Bung Karno suka membaca apapun genre buku, baik yang gigemari maupun tidak. Bung Karno juga belajar bahasa Belanda dengan temannya, gadis Belanda yang bernama Mien Hassels. Kemampuan bahasa Belanda yang dimiliki Bung Karno pun semakin lancar. Bagaimana teman-teman, apakah kalian antusias ingin menguasai beberapa bahasa, salah satunya bahasa Belanda?

Ketika di rumah Pak Thokroaminoto, Bung Karno semakin gemar membaca buku-buku biografi tokoh negarawan dunia. Semua waktu luangnya dihabiskan untuk membaca buku favoritnya. Dari sinilah rasa nasionalisme Bung Karno tumbuh. Semakin tumbuh ketika beliau mendengarkan diskusii tokoh pergerakan nasional yang berkumpul di rumah Pak Tjokroaminoto. Beliau juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut berdebat dengan tokoh-tokoh tersebut.

Dari sini kesenangan Bung Karno untuk membaca buku semakin memperkenalkan pada pemikir India, Swami Vivakananda. Bung Karno terkesan dengan kata-kata Swami Vivakananda yang berbunyi “Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan”. Dari kata bijak tersebut Bung Karno mulai menerapkan apa yang didapat dari yang beliau baca selama ini di kehidupan nyata. Jiwa nasionalisme yang tumbuh dalam diri Bung Karno menjadi aktif dalam menggerakkan untuk mewujudkan Kemerdekaan Indonesia. Bung Karno berkarya dengan menghasilkan beberapa buku yang saat ini disimpan di Koleksi Buku Bung Karno di Perpustakaan Bung Karno Blitar.

BACA JUGA :   Implementasi Semangat Pelajar Dalam Bela Negara Pada Anak Dini Melalui GEMAR (Games Education of Corona): Solusi Pendidikan di Tengah Pandemi Berbasis Joyful Learning

Dari kegemarannya membaca buku, ada cita-cita mendasar yang diperjuangkan oleh Bung Karno yaitu Persatuan Indonesia. Bung Karno aktif dalam persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidatonya yang bersejarah dalam rapat besar BPUPKI. Pidato beliau ini menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila. Pancasila sendiri adalah renungan diri Bung Karno selama empat tahun di Ende, Flores, NTT. Selama kehidupannya di Ende, beliau lebih suka beraktivitas seperti berkebun, membaca buku, melukis dan menulis naskah drama.

Pidato Bung Karno dengan judul To Build the World Anew (Membangun tatanan dunia yang baru) di depan sidang PBB ke-15. Bung Karno berpidato dengan lantang mengenai makna Pancasila dan Implementasinya bagi Indonesia. Bung Karno banyak memiliki gagasan di dunia Internasional. Nasib bangsa Afrika yang belum merdeka pada saat itu menggerakkan hati Bung Karno mengadakan KAA (Konferensi Asia Afrika) untuk membela Asia-Afrika pada tahun 1955, dengan presiden Yugoslavia, Mesir, Pakistan, Birma, dan India.

Gerakan ini awalan terbentuknya “Non Blok” pada tahun 1961. Dari gerakan inilah banyak negara Asia-Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Jiwa nasionalisme Bung Karno yang pantang menyerah dan nasionalisme menjadikannya sosok hebat dimata dunia. Dari orang biasa menjadi luar biasa. Itulah cerita Bapak Proklamator kita Bung Karno.

DAFTAR PUSTAKA

Sumarwan, Eri. Tokoh Indonesia Yang Gemar Baca Buku. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta Timur. 2017

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI