Budaya Literasi Rendah, Perlu Peran Perpustakaan dan Keluarga

FAJAR Pendidikan

Populer

Minat baca anak Indonesia masih rendah. Berdasarkan data The World’s Most Literate Nations (WMLN), 2016, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara.

Indeks aktivitas literasi membaca tingkat nasional, juga masih berada pada kategori rendah. Hal itu terutama dipengaruhi dimensi akses terhadap bacaan dan dimensi budaya membaca masih rendah.

- Advertisement -

Hal tersebut dikemukakan Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hafidz Muksin, dalam Seminar Literasi Nasional “Perpustakaan sebagai Pusat Literasi Menuju Gerbang Dunia” di SMAN 1 Bobotsari, Rabu (14/9).

Menyadari hal tersebut, Badan Bahasa sebagai salah satu unit utama di Kemendikbudristek mengusung tiga program prioritas, yakni literasi kebahasaan dan kesastraan, (2) revitalisasi Bahasa daerah, (3) internasionalisasi Bahasa Indonesia.

“Terkait dengan peningkatan literasi, Badan Bahasa telah melakukan berbagai program dan kegiatan yang langsung dirasakan oleh masyarakat, antara lain penyediaan bahan bacaan untuk jenjang PAUD, SD, SMP, SMA/SMK. Pembinaan Bahasa kepada Lembaga pemeritah dan nonpemerintah, serta perluasan penggunaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif merdeka,” ungkap Hafidz sebagai putra asli daerah Purbalingga.

BACA JUGA :   Literasi Digital Diperlukan Guna Mendukung Pariwisata Toraja

Hafidz menambahkan bahwa pada 2022, Badan Bahasa telah mencetak 500 judul buku dengan oplah sebanyak 12.159.182 buku yang disebarkan ke 7.609 satuan pendidikan di wilayah 3T. Di samping itu, tidak hanya mengirimkan buku-buku ke sekolah, namun juga dilakukan pendampingan kepada para guru untuk dapat memanfaatkan buku-buku tersebut agar dapat meningkatkan literasi dan pembelajaran di sekolah.

Melalui Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai unit pelaksana teknis di daerah, juga telah melakukan terobosan dengan menggelar bimbingan teknis dan rapat koordinasi dengan penggerak literasi, bengkel sastra bagi generasi muda dalam penulisan cerita pendek, puisi dan cerita anak. Bengkel literasi bagi penggerak literasi di kalangan guru juga dilakukan melalui penerbitan antologi cerita anak hasil karya guru.

Peran Perpustakaan dan Keluarga

Sementara pada kesempatan yang sama, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah IX Provinsi Jawa Tengah, Dwi Yuliati Mulyaningsih menyampaikan pentingnya tugas pustakawan untuk mengelola, mendesain, menata ruang-ruang perpustakaan yang ada di sekolah agar bisa menjadi ruang rekreasi yang menyenangkan bagi anak didik.

BACA JUGA :   RUU Sisdiknas Perjuangkan Hak Guru (?)

“Bapak dan ibu harus berimprovisasi, berinovasi, dan berkreasi, agar perpustakaan bisa menjadi tempat rekreasi, sehingga menimbulkan dampak positif yaitu anak akan memanfaatkan peran perpustakaan sebagai sumber belajar bagi mereka,” ungkap Yuliati.

Yuliati menambahkan, selain peran pustakawan, salah satu upaya untuk menumbuhkan minat baca bagi siswa harus dimulai dari keluarga. Orang tua berperan penting dalam menumbuhkan semangat membaca anak-anak sejak dini.

“Jangan sampai buku-buku itu hanya menjadi koleksi yang masih tersimpan rapi. Ini menjadi tantangan kita. Bapak dan ibu perlu menjadi contoh. Kalau perlu, rumah bapak dan ibu menjadi perpustakaan bagi keluarga di lingkungannya,” lanjutnya. (*)

- Advertisement -