Kamis, Februari 25, 2021

FKM Unhas untuk Kali Pertama Gelar Yudisum Kelas Internasional

FAJARPENDIDIKAN.co.id – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menggelar yudisium kepada para calon wisudawan periode Maret 2021 yaitu Periode III Tahap 1 Tahun Akademik 2020/2021.

Acara ini digelar secara semivirtual, dimana pihak fakultas menggelar di Ruang Prof. Dr. Nur Nasry Noor, MPH Lantai 2 FKM Unhas pada hari Senin, 22 Februari 2021, sementara peserta mengikuti secara daring.

Yudisium kali ini diikuti sebanyak 53 orang, terdiri dari 2 orang Program Doktor, 18 orang Program Magister dan 33 orang dari Program Sarjana baik Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat maupun Ilmu Gizi.

Tiga orang dari Kelas Internasional juga ikut Yudisium pada periode ini yang beberapa waktu yang lalu pernah mengikuti program sit in di Griffith University, Australia.

Salah satu dari mahasiswa kelas internasional yang ikut dalam yudisium ini dimintai kesan dan pesannya, yaitu Adelfima Marwah Hamzah.

Pemilik stambuk Nomor K11116806 menyampaikan pengalamannya selama di Australia. Ia mengatakan bahwa selama Oktober 2019 sampai Januari 2020, bersama 2 orang temannya yang lain yaitu Zasmi Permatasari dan Safira Ar Rahmah Ramadani Sudarman mengikuti program sit in di Australia, bahkan ada 1 orang temannya yang sampai memperoleh double degree.

“Kami seperti benar-benar keluar dari zona yang berbeda dengan pengalaman proses belajar di Universitas Hasanuddin. Disana setiap mata kuliah diajarkan dalam 3 bentuk metode pembelajaran yaitu: in class, tutorial dan workshop.

Selain ada materi kuliah, ada pendampingan atau asistensi dan juga workshop berupa penugasan. Kesannya sangat baik, belajar dengan budaya berbeda dan benar-benar perlu adaptasi. Kami tidak hanya memperoleh pembelajaran dan pengalaman di kampus Nathan, tetapi juga di Gold Coast,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni FKM Unhas, yang diwakili oleh Muhammad Husni Thamrin, SKM, M.Kes., yang juga sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Selatan dan juga sebagai koordinator Program Wisata Duta Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan mengungkapkan rasa bangganya sebagai alumni Unhas, alumni FKM.

“Program penguatan di sektor kesehatan perlu dilakukan. Sebagai contoh saja, bagaimana penyakit diare ditanagani di Puskesmas? Bukan soal bagaimana mereka dirawat atau diobati, tetapi bagaimana sampai mereka terjadi diare, inilah yang perlu diputuskan. Karena itu, pendekatan kesehatan masyarakat harus benar-benar dilakukan. Diagnosa komunitas mestinya itu yang dilakukan,” ungkapnya.

Paling tidak, sambungnya, terdapat 3 kompetensi bagi sarjana kesehatan masyarakat yang perlu diperkuat yaitu administrator kesehatan, promotor kesehatan dan surveilens.

Ia juga banyak menyampaikan pengalaman dan apresiasinya terhadap FKM Unhas yang banyak membantu dalam pengendalian Covid-19.

“Istilah Wisata Duta Covid atau Trisula adalah istilah yang diberikan oleh Dekan FKM Unhas dan teman-teman lainnya dari fakultas. Karena itu, kalau mau maju harus dekat dengan kampus,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FKM Unhas, Dr. Aminuddin Syam, SKM, M.Kes., M.Med.Ed. dalam sambutannya mengatakan bahwa menjadi mahasiswa FKM Unhas, tidak hanya pintar dengan prestasi IPK yang tinggi dan menjadi mahasiswa cumlaude misalnya, tetapi lebih dari itu. Mahasiswa FKM Unhas harus memiliki karakter.

Dalam falsafah Bugis Makassar, karakter itu sudah ada yaitu Macca (cerdas), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten) dan Warani (Berani).

“Mindset kita harus dirubah, meningkatkan kesehatan masyarakat ini tidak hanya di puskesmas dan rumah sakit, tetapi sudah harus keluar dari area itu untuk melihat masalah kesehatan sebagai determinant kesehatan,” jelasnya.

Kesehatan masyarakat, kata Dekan, sudah harus melihat dan menciptakan pasar sehat, mall sehat, mesjid sehat, kebun sehat dan sebagainya.

“Sehingga jika itu terbentu area atau lingkungan yang sehat dapat mengurangi risiko terjadinya sakit dan penyakit. Diakhir sambutannya, dekan menyampaikan bahwa menjadi sarjana dan mahasiswa kesehatan masyarakat harus memiliki motivasi dan inisiatif,” tutupnya.(*)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

LDK FSI UNM Gelar Muktamar ke XXII

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Forum Studi Islam (FSI​) Raudhatul Ilmi (RI) Universitas Negeri Makassar (UNM) gelar MUKTAMAR ke XXII...

Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar Belajar Public Speaking Bersama Binus University

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Kelas inpirasi bagi kelas XII kembali digelar SMA Islam Athirah 1 Makassar secara virtual, Senin (22/02/2021). Sejumlah 83 partisipan...

Penandatanganan Kotrak PPPK, Plh. Bupati Barru Berpesan

Barru, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Pegawai Pemerintah dengan perjanjian kerja yang disingkat PPPK adalah warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu yang diangkat berdasarkan perjanjian...

OSIS SMA Islam Athirah Gelar Webinar Kesehatan, Kepsek: Mereka Pandai Baca Situasi

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - OSIS SMA Islam Athirah 1 Makassar menggelar webinar kesehatan bertajuk “Pentingnya Kesehatan Mental di Kalangan Remaja dan Pengetahuan Mental...

Unibos Kembali Jadi PT Terbanyak Raih Dana Hibah Proposal Pengabdian Masyarakat

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Universitas Bosowa (Unibos) kembali raih pendanaan hibah proposal pengabdian masyarakat terbanyak tahun 2021. Sebelumnya pada tahun 2020, Unibos pun menjadi...

REKOMENDASI